Agnes Monica, Masa Lalu dan Sebuah Titik Yang Berjudul ‘Sekarang’

by on

Pastinya sering ya, mengalami momen saat senyum tiba-tiba terkembang tiba-tiba, padahal saat itu kita sendirian, dan penyebabnya bisa jadi hal yang sepele, atau malah saking sepelenya sampai tak teraba tak terasa, tahu-tahu kita sudah tersenyum saja.

Saya sering. Pastinya kalau lagi mikirin pacar. Atau pas chatting sama dia berjam-jam yang diisi tanpa chat – iya, video call diem-dieman gitu, karena masing-masing asik dengan Pokopang.

Tapi jelang malam tadi, saya tiba-tiba tersenyum begitu memasuki Carrefour di Imam Bonjol Kuta (lebih suka tempat ini karena tidak begitu berisik, dan parkirnya lapang). Gara-garanya lagu Agnes Monica membahana. Dan tiba-tiba saja, saya jadi terkenang masa-masa muda (eh!), saat sedang menggilai Agnes Monica, dan terkilas banyak kenangan tentang kegilaan saya. Lagu Matahariku jadi lagu wajib setiap saya dan teman-teman berkaraoke. Saat Agnes konser di Blue Eyes (sekarang sudah tutup, ganti nama jadi Adora), saya dan teman-teman patungan demi memblok satu sofa, biar lebih nyaman nontonnya. Pun ketika Agnes konser di Klapa, saya dan seorang teman tiba-tiba saja memacu mobil dari Kuta menuju Pecatu padahal tanpa rencana sebelumnya. Impulsif banget.

Namun bukan kegilaan saya tentang Agnes yang lantas memudar seketika begitu dia ganti potongan rambut dari cepak menjadi panjang (iya, sesepele itu hehehe), yang hendak saya ceritakan di sini.

Gara-gara lagu Agnes di Carrefour tadi, yang lantas membawa saya ke masa lalu, dan membuat saya tertawa geli mengenang kenorakan saya di masa itu, akhirnya malah menyeret saya ke permenungan tentang kita dan masa lalu.

Kegilaan-kegilaan, kenorakan tak terbilang, kesenduan tak terkira, segala drama yang rasanya dulu berarti banget, kini terlihat seperti remeh temeh belaka. Saya sendiri merasa begitu jauh jarak saya-yang-sekarang dengan saya-yang-dahulu. Bukan berarti yang sekarang lebih baik, namun yang jelas saya tak lagi sama dengan yang dahulu. Bukan berarti yang sekarang lebih asik, namun saya merasa diri saya lebih asik buat saya sendiri, meskipun saya yakin buat yang lain saya ini sama mengesalkannya. Saya lebih menikmati saat-saat sendiri tanpa perlu gelisah terbunuh sepi (idih banget bahasa gue). Saya nggak peduli teman-teman yang dulu menyingkir pergi, karena tak jarang saya juga yang menyingkir duluan, dan yang tersisa sekarang adalah yang sejati dan yang benar-benar saya amini sebagai teman. Dan saya bersyukur dulu pernah patah hati sepatah-patahnya, semua itu jalan menuju kekasih saya yang sekarang.

Lalu apakah arti masa lalu selain buat dikenang? Bagi saya, buat jadi cermin juga. Biar diri ini sadar diri, ketika sekarang mau ngatain orang lain norak, hey dulu saya juga norak. Ketika sekarang mau nyinyir, diri ini sudah menampar hati duluan, ingat dulu kenyinyiran saya nggak membawa apapun kecuali kerusuhan dan geger sana-sini.

Dengan segala hal baik dan hal buruk di masa lalu, apakah saya kenal dengan rasa menyesal? Kalau mau menyesal, rasanya semua perlu disesali. Namun saya nggak mau menyesal, karena dulu saya menikmati benar, semua yang saya lakukan adalah putusan saya sendiri, kata hati saya sendiri, yang memang tidak semua bijak, namun ya apabila semua itu tidak saya lalui dan saya rasakan, belum tentu saya bisa berada di titik ini.

Satu titik yang berjudul ‘sekarang’.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.