Wahai Rakyatku, Nikmat Air Mancur Menari Mana Lagi Yang Kau Ingkari?

by on

 

Judul artikel ini agak lebay yah, abaikanlah. Eniwei, sudah marak di berita bahwa Pakdhe Djarot, Gubernur DKI saat ini, telah meresmikan kembali air mancur menari di Monas setelah air mancur tersebut ogah muncrat sekian lama. Sebagai warga pendatang yang cinta DKI banget, tentu saya dan teman-teman tak mau ketinggalan merayakan kemenangan ini.

Kemenangan?

Iya dong. Air mancur menari yang digagas awalnya oleh Bang Ali Sadikin, sempat tertidur sekian lama dan baru menari lagi di tahun 2005 saat Bang Sutiyoso memimpin. Apesnya, nggak lama tuh air mancur menari, di tahun 2007 kembali tertidur karena mahalnya biaya perbaikan dan perawatan.

Di tahun 2017, lagi-lagi air mancur di Monas mampu unjuk gigi dan menari lagi!

Ada kisah menarik di balik hidupnya kembali air mancur ini. Ternyata, dana yang dibutuhkan untuk memampukan aktifnya kembali air mancur ini, nggak dari pemerintah lo, tapi patungan.

Duh kayak mau rujakan aja ya, patungan.

Siapa aja donatur yang baik budi dan tidak sombong ini?

Yang jelas, Pak Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama turut menyumbang bersama Pak Djarot, Mas Addie MS, Pak Sabdo (Kepala UPT Monas). Tidak semua sumbangan berupa uang namun juga barang dan lagu aransemen Addie MS yang menjadi pengiring air mancur menari. Juga sound system yang disumbang oleh Pak Harry Kiss. (Sumber: KOMPAS)

Cerita di balik kembali menarinya air mancur ini adalah satu cerita kemenangan bagi saya.

Kemenangan cinta dan pengabdian Pak Ahok, Pak Djarot, Mas Addie MS, Pak Sabdo, Pak Harry Kiss, yang menyingkirkan segala ego dan keinginan untuk memperkaya diri sendiri.

Alih-alih mengeruk keuntungan pribadi, mereka rela menyisihkan dana dan sumber daya, lagi-lagi untuk kebahagiaan rakyat Jakarta.

Alhasil, saat malam Minggu kemarin, saya menyaksikan air mancur itu menari-nari dan ingatan saya nggak bisa lepas dari Pak Ahok yang saat ini tengah meringkuk di penjara. Ah, saya mah lebay, palingan Pak Ahok juga sedang bersukacita menyaksikan donasinya tidak sia-sia, dan menyaksikan warga Jakarta (maupun yang bukan) bersuka ria di Monas malam itu.

Jadi….

Menurut berita yang kami baca, air mancur menari ini dijadwalkan setiap Sabtu dan Minggu malam saja. Jadi nggak setiap hari ya.

Ada dua kali pementasan, yaitu pukul 19.30 dan 20.30. Setiap sesi diisi oleh 5-6 lagu daerah yang berkumandang aransemen Addie MS. (Etapi kemarin sepertinya lebih dari 6 lagu deh setiap sesinya.)

Lokasinya di mana? Monas ‘kan luas.

Kami pun sempat bingung kemarin, karena nggak ada petunjuk jelas di mana lokasi air mancur tersebut.

Setelah berjalan kaki kian kemari, akhirnya telinga menangkap riuh suara pengunjung bertimpaan dengan musik orkestra. Barulah ngeh di mana air mancur tersebut berada.

Saat pulang kami tanya ke petugas, paling dekat masuk lewat pintu Patung Kuda Indosat. Memang lumayan gelap sih jalannya, tapi aman kok karena setiap jengkal kawasan Monas dipantau lewat CCTV.

Nah kalau kalian masuk lewat pintu Patung Kuda Indosat, jalan lurus aja terus sampai menemukan air mancur di sebelah kanan. Itu spot paling bagus karena saat air mancur menari, Monas akan terlihat di latar belakang menjulang dengan gagahnya.

Suprisingly, saat kami duduk di spot paling bagus itu, tempias air mancur sampai juga ke muka loh. Padahal angin gak seberapa kencang malam itu.

Air mancur menari di Monas
Dari spot ini terlihat Monas di latar belakang air mancur menari

Pertunjukan air mancurnya sendiri, gimana?

Boleh dibilang: mengagumkan. Ya kalau dicari bandingannya seantero dunia, pastilah banyak yang lebih spekta, namun mengingat ini Monas yang masuknya pun gratis, tarian air mancur ini sungguh memikat dan mengagumkan.

Pembawa acara yang mengawal pertunjukan juga oke. Komunikatif. Informatif.

Pengunjung Monas yang saya lihat malam itu, semua bersuka. Rata-rata bersiaga mengabadikan momen lewat kamera hape maupun kamera yang lebih serius kayak kamera DLSR. Setiap lenggokan air mancur disambut dengan seruan dan tepuk tangan. Meriah!

Kalau kalian punya tripod, sangat disarankan untuk membawa. Kalau enggak, ya bakalan goyang-goyang macam rekaman saya di bawah ini. Nggak maksimal hehe.

Selamat menikmati, mohon maap kalo kamera saya goyang-goyang dan pun agak kotor, dan bentar doang recordingnya (banyak juga ya excuse-nya). Tapi lumayanlah, bisa menangkap suasana Monas malam itu dengan antusiasme pengunjung setiap melihat lenggak lenggok air mancur.

Lain kali mau ke Monas lagi ah, berbekal tripod biar mantap! (Doakan air mancurnya nggak rusak lagi, dan tetap menari sekian tahun lamanya.)

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.