Akun Alter: Buka Dulu Topengmu

by on

Buat para aktifis sosial media, pasti sudah nggak asing dengan yang namanya alter akun (atau akun alter?). Akun alternatif yang sengaja dibuat dengan identitas yang berbeda dengan akun utama. Di akun utama misalnya, dia adalah seorang gadis cantik. Di akun alternya, dia jadi cowok gahar. Di akun utama, dia seorang sholehah. Di akun alter, dia bicara nggak pake saringan sampai seorang follower menjulukinya “Pos Kota edisi Bahasa Inggris”. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Sah-sah saja kok. Lha saya juga punya banyak akun, yang akhirnya satu demi satu saya tinggalkan, karena capek rasanya menjadi pribadi yang berbeda dengan saya yang cuma sebiji di dunia nyata ini. Kalaupun ada satu dua yang masih saya pelihara, memang ada tujuan khusus yang nggak ada hubungannya dengan kepribadian.

Dari apa yang pernah saya alami dan rasakan, dan juga ditunjang pengamatan sekitar, sebenarnya lucu melihat orang membuat akun alter yang sifatnya rahasia, namun pada akhirnya nggak tahan juga untuk buka rahasia sendiri. Lha manusia ini pada intinya pengin dikenal, pengin dikagumi, pengin dipuja-puji.

Ambillah kasus di dunia Twitter. Si A membuat akun alter O. Si X follow A dan O, tanpa tahu bahwa dua akun itu bersumber pada orang yang sama. Sementara si A kenal X di dunia nyata. Saya yakin, pasti pada suatu kesempatan, entah pas ngebahas apa, si O akan secara tersamar mengaku, kurang lebihnya twitnya begini: “Gue tahu elu kok. Kita kan kemaren ketemu, cuma lu aja nggak nyadar kalo itu gue.”

Got my point?

Sebenarnya, apa sih alasan orang bikin alter akun? Kalo menurut saya nih, tanpa referensi ilmiah apapun (males nyarinya dan lagian nggak penting juga sih), ada beberapa alasan:

– Ada sisi gelap yang orang nggak mau tunjukkan pada dunia. Ya seperti paragraf pertama tadi, di akun pertama dia seorang ibu baik-baik yang ngomongnya bijak tertata, di akun alter dia seperti pelacur yang bangga banget memamerkan petualangan seksnya (eh, pelacur nggak gitu juga kali yah, maap aku jadi merendahkan profesi pelacur).

– Meskipun bukan sisi gelap, ada sesuatu yang membuat orang jengah dan terpaksa bikin dua akun dengan audiens berbeda. Seperti saya dulu. Karena saya nggak yakin teman di lingkungan kerja menerima pilihan orientasi seksual saya, akhirnya saya punya dua akun. Di akun pertama yang diikuti teman-teman bisnis, saya tampil ‘normal’ dan nggak banyak tingkah. Di akun alter, saya bebas berkicau apa saja, karena toh akun alter saya beda follower dengan akun pertama.

– Buat riset. Eh, serius. Kalau misalnya saya pengin riset tentang dunia homoseksual, saya berteman dengan mereka di Facebook dan Twitter, tapi saya nggak mau kalau mereka masuk ke kehidupan pribadi saya, jadi gimana? Ya bikin akun alter saja.

– Buat stalking. Ya kalau ini sih alasannya sudah jelaslah ya.

Bagi saya sekarang, percuma sih bikin akun alter, menyembunyikan kepribadian dan memakai dua topeng atau lebih. Capek. Belum kalo salah akun. Bisa jadi ketawaan sejagad raya. Dan seperti saya tulis di atas, tetap, pakai topeng di akun alter pun akan sampai pada satu titik di mana orang merasa perlu untuk berteriak: “Hey, ini gue!”, meski tetap enggan untuk melepaskan topengnya. Ya udah, sakit jiwa aja sana, selamat ya.

Demikian.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.