Antara Hidup, Mati dan Kesementaraan

Kemarin pagi berita duka mampir di whatsapp saya. Pacar mengabarkan kalau Oka Mahendra, mantan pacarnya Awkarin, meninggal dunia.

Nggak, kami nggak kenal dua manusia itu. Hanya saja dulu saya sempat memperhatikan tingkah polah Awkarin saat namanya baru melejit. Sempat mau nulis posting seputar kelakuan dia, tapi akhirnya batal.

Eh, melantur yak.

Pacar mengabarkan lagi kalau kematian Oka diduga akibat dia bunuh diri. (Update: Penyebab kematian Oka karena bunuh diri dibantah oleh keluarga dan teman-temannya. Sumber: Bintang.com dan IG: themaninmanhattan.)

“He’s so young,” kata pacar.

Iya. Kematian tak pernah memandang dia masih muda atau sudah tua renta. Kematian tak butuh ijin kita. Kematian tak peduli apakah kita sehat atau sakit, apakah kita miskin atau kaya.

Tapi perkara bunuh diri….

Ada yang bilang, orang yang mengambil putusan bunuh diri (dan sukses menjalankannya) adalah pemberani. Nggak semua orang bisa, bukan? Menyongsong maut tanpa takut. Meninggalkan dunia fana ini, dan menjemput misteri karena sejatinya kita tidak tahu apa yang terjadi setelah kita mati.

Di satu sisi, orang yang mengambil putusan bunuh diri (dan sukses menjalankannya) adalah pengecut. Ia tidak lagi berani menatap dunia. Melarikan diri dari masalah-masalah duniawi, dan memilih melenggang ke alam baka, meninggalkan masalah-masalahnya untuk diselesaikan oleh orang-orang seperti keluarga dan sanak saudara.

Dan siapakah saya, siapakah kita, untuk menjatuhkan suatu penghakiman, apakah itu tindakan pemberani atau tindakan pengecut.

Eniwei….

Setelah pagi yang diwarnai berita duka itu, hari berjalan seperti biasa bagi saya. Kerja, kerja, kerja.

Malamnya kami nonton Java Jive yang manggung di bilangan Kemang.

Saya jarang terjun ke dunia malam semenjak tinggal di Jakarta. Semasa dulu di Bali sih, bisa tiap malam clubbing. Mabuk-mabukan. Dan bangga.

Iya, bangga.

Dan semalam, di rooftop bar yang makin larut malam makin dipenuhi pengunjung, saya seakan melihat kelakuan saya yang petakilan di masa lalu.

Buka botol sudah biasa. Minum dari botol langsung, nggak perlu pakai gelas.

Pesan sofa pun sering, sampai dulu di Blue Eyes Bali, ada papan penanda meja bertuliskan nama saya saking seringnya saya booking sofa.

Merokok, jangan ditanya. Nggak pernah berhenti, sambung menyambung. Sekarang, sudah hampir tujuh tahun saya stop berhenti merokok.

Semalam, kami cuma menikmati sebotol bir, dikarenakan separuhnya lagi tanggal tua, dan separuh alasan karena saya nggak mendapatkan kenikmatan seperti dulu lagi dari minuman-minuman jahanam itu.

Well, minum minuman beralkohol sih masih jalan, tapi nggak seperti dulu lagi.

Semalam, saya melihat orang lalu lalang, saling bersulang. SPG penjaja rokok sliweran, seorang mampir menghampiri saya dan merayu untuk membeli rokok plus korek darinya. Kalau jaman dulu mah, saya nggak ragu untuk mengeluarkan duit untuk menyenangkan para SPG gitu. Sekarang, ya, buat apa?

Setiap ada pengunjung melintas, semerbak parfum mengiringi. Tidak untuk waktu lama. Wangi itu kian menipis, lalu pudar, lalu udara kembali diwarnai bau rokok campur alkohol.

Lalu pengunjung lain melintas, dan semerbak parfum dengan wangi berbeda kembali mampir di indra perasa. Setelah itu menghilang.

Begitu terus berulang.

Kesementaraan.

Nggak ada yang abadi, kecuali keabadian itu sendiri.

Saya mau menuliskan bahwa hidup itu abadi, kita hanya berubah wujud dari wadag jasmaniah semasa hidup ke entah wujud apa setelah mati.

Tapi lantas saya berhenti. Karena benarkah hidup itu abadi?

Siapa tahu, setelah mati, kita tidak akan menjadi apa-apa. Kembali ke kosong. Kita dari tiada kembali ke tiada.

Siapa tahu, tidak ada surga, tidak ada neraka. Itu semua hanya dongengan belaka, yang diciptakan agar kita hidup berasa nggak kosong-kosong amat. (Saya rasa, kita bisa kembali ke kitab suci agama masing-masing untuk menemukan jawabannya. Atau, bagi yang tidak beragama, bisa menciptakan sendiri jawabannya, dan hidup damai beserta pemahamannya.)

Dan sementara kita hidup (benarkah kita hidup?), baiknya kita nikmati saja kesementaraan ini.

Seperti yang kami lakukan semalam. Menonton Java Jive.

Java Jive di Kemang Juli 2017
Java Jive, Shy Roftoop Kemang, 19 Juli 2017

Lagu-lagu yang mereka bawakan, membawa pula kenangan semasa saya muda. Vokal Fatur dan Danny, rasanya tak berubah, masih powerful seperti dulu.

Nikmati saja.

Jadi begitulah, ada saatnya saya berpikir banyak, lalu pada satu titik saya berhenti berpikir dan membiarkan diri ini terbawa kenikmatan – seringnya duniawi, tapi adakalanya juga berasa surgawi.

Dalam satu hari kemarin saya terpicu untuk memikirkan hidup, mati dan kesementaraan.

Saya masih menunggu untuk bisa memahami makna “keabadian”.

 

 

Baca tulisan lainnya....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *