Antara Minimalis, Hemat dan Hidup Sederhana

Ada beberapa kata yang belakangan ini akrab dengan saya.

Suatu ketika saya memproklamirkan diri sebagai ‘minimalis’. Gaya hidup minimalis memang sedang nge-trend di berbagai belahan dunia, sebagai bentuk protes atas gaya hidup konsumtif. Sebagai seorang minimalis, kita tidak perlu banyak barang dalam hidup kita, intinya sih begitu.

Kata ‘minimalis’ sering bersandingan dengan ‘hemat’ (= frugal) dan ‘hidup sederhana’ (= simple living). Dan ternyata, banyak kaum minimalis yang lebih suka disebut menganut paham living simple, dan sebaliknya banyak juga yang bersikukuh bahwa mereka adalah minimalis, bukan sekedar living simple. (Agak susah ya menjabarkan dalam bahasa Indonesia.)

Saya sih nggak masalah, dalam beberapa hal saya memang minimalis. Dalam soal berpakaian, misalnya.

Tapi saya juga nggak membabi buta menjadi minimalis dan nggak merasa perlu menghitung benda milik saya. Iya, banyak minimalis di luar sana yang membatasi berapa banyak benda yang dimilikinya. Dalam hal ini, saya menganut prinsip hidup sederhana. Live simple. Entahlah itu jadinya minimalis atau nggak, yang penting saya menikmatinya secara sederhana.

Yang jelas saya bukan seorang frugalist. Lha saya ini males banget menghitung-hitung. Selama barangnya kebeli, ya saya beli. Setelah itu saya lupakan. Saya nggak bisa menghitung-hitung beda barang yang ini dengan yang itu, di toko ini dengan toko yang itu. (Biasanya sih pilihan saya pasti barang yang harganya murah, jadi saya nggak mau menambah keribetan dengan segala macam perhitungan dan pembandingan.)

Jadi, kalau diminta merumuskan gaya hidup saya sekarang, saya bilang sih simply minimalist. Minimalis tapi nggak ribet. Tetap simpel. Sederhana nggak pake ribet.

Masih jauh sih perjalanan saya, masih banyak ketololan-ketololan yang saya lakukan dengan sadar. Yang harus saya eliminir adalah:

  • Belanja impulsif. Problem klasik sih. Dari rumah sudah nyiapin list belanjaan, sampai di hypermart kelupaan, malah beli yang nggak ada di daftar.
  • Mengurangi kebiasaan nongkrong. Ngopi-ngopi ala eksekutif muda itu menghabiskan banyak duit, saya tahu.
  • Makan junk food. Habisnya praktis, tinggal pergi ke drive through. Coba kalau ke warung tradisional. Musti parkir dulu (dan saya malas parkir). Turun dari mobil, ngantri.

Cukup tiga saja. Kalau kebanyakan, nggak sehat. Mari kita lihat apakah hari-hari ke depan, tiga kebiasaan buruk saya berhasil memudar.

Baca tulisan lainnya....