Belajar Ikhlas Dari Dr Lo & Pak Widya Pratama

by on

Sebuah post di Facebook menarik perhatian saya. Meski dulu pernah samar mendengar, baru kali itu saya membaca penuh cerita tentang seorang dokter di Solo yang menggratiskan biaya praktek. Kisah tentang Dokter Lo Siaw Ging bisa di baca di tautan ini. Dan saya jadi berpikir, hebat sekali Dr Lo ini, rasanya nggak salah kalau saya belajar ikhlas dari beliau.

Di jaman ini rasanya tidak ada yang gratis. Udara pun mulai dijadikan bisnis. Bagi saya, Dr Lo termasuk manusia yang mengagumkan, sama seperti Pak Widya Pratama, pemilik Kopi Aroma Bandung. Beberapa tahun silam saya beruntung bertemu Pak Widya saat saya berkunjung ke toko kopinya di Jalan Braga. Beliau ramah membawa saya berkeliling toko dan gudangnya, padahal saya cuma tamu biasa yang baru sekali itu berkunjung. Ketika saya hendak membayar, saya terkejut mendapati betapa harganya jauh di bawah harga pasaran. Padahal Kopi Aroma berkualitas tinggi. Saya bilang membayar empat kali harga yang dia sebutkan pun, saya rela. Namun beliau hanya tersenyum dan bilang,” Dengan harga segitu saya sudah bisa hidup.”

Mulia sekali ya?

Seperti Leo Babauta, salah satu blogger minimalis barisan terdepan, dia pernah sekali berujar: hak cipta itu milik semesta.

Lah, terus kalau semua digratiskan, dari mana kita hidup?

Nggak juga harus gratis. Namun: secukupnya sajalah, seperti kata Pak Wira di atas.

Kalau mau pasang tarif, ya pasang sewajarnya tanpa perlu pembenaran ini-itu, tapi cukup memakai kata-kata Pak Widya: segitu sudah cukup buat hidup. Kalau mau gratiskan jasa kita, ya gratiskan saja, tanpa perlu gembar-gembor bahwa: woy, kita ini berhati mulia lho!

Karena kata-kata yang terangkai ini bukanlah milik kita, ilmu yang dikuasai Dr Lo disadarinya hanya titipan, kecintaan Pak Widya pada kopi membuatnya ikhlas berbagi.

Mengagumkan.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.