Cerita Lalu: Bali, 1994

by on

 

Saya terbiasa hidup susah. Saking beraneka ragamnya cerita yang pernah saya alami, saya pikir hidup saya ibarat film yang absurd. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, nggak segitu juga sih. Siapa sih saya. Saya nggak segitu istimewanya.

Kembali ke topik hidup susah tadi. Mungkin, karena saya sudah berumur segini, jadinya suka nostalgia. Hal-hal sepele bisa membawa saya ke masa-masa susah yang waktu itu nggak terasa susahnya sih.

Seperti waktu saya pertama kali mengunjungi Bali tahun 1994. Waktu itu niatnya ikut turnamen catur. Berempat bersama teman-teman yang lelaki semua. Rencana sudah tersusun rapi. Kami akan menumpang tinggal selama sepuluh hari di rumah teman di Denpasar. Karena teman di Denpasar ini juga ikut turnamen, kami bisa menumpang dari dan ke tempat pertandingan.

Ternyata, sesampainya di Bali, kami baru tahu bahwa turnamen dipindahkan ke Sanur. Yang teramat jauh dari rumah teman kami itu. Alhasil kami menyusun rencana baru. Cari kost di daerah Sanur. Dapat, dua kamar. Satu kamar buat saya sendiri, satu kamar buat teman saya bertiga. Dari kost ke tempat pertandingan, bisa naik angkot, atau jalan kaki. Beres.

Seusai menaruh tas-tas di kamar, kami mencari makan. Dapatlah rumah makan Padang. Dan terhenyak kami mendapati bahwa sepiring nasi, sayur dan sebutir telur itu harganya empat kali lipat harga makanan serupa di Yogya. Kami panik! Nggak mungkin bertahan dengan uang yang kami bawa.

Rencana baru lahir: mari memasak! Satu teman bersedia membeli kompor, karena dia memang bermaksud membeli kompor di Yogya. Segera kami ke Alfa untuk belanja kompor (kompor minyak, tahun segitu kompor gas portable belum jamak), panci, wajan, piring, sendok garpu, dan survival kit standar: indomie sekardus, beras, dan telur.

Nelangsa banget ya? Sepuluh hari itu kami makan ya gitu-gitu aja, nasi dengan lauk telur atau indomie. Kadang tambah krupuk beli di warung depan. Pulang dari turnamen, karena sudah malam dan juga untuk ngirit ongkos, kami berjalan kaki. Yang namanya Bali, di malam hari gang-gang dipenuhi anjing, jadi kami terpaksa memutar lewat jalan besar. Lumayan jaraknya, mungkin dua kilometer, tapi karena malam hari bersama teman-teman baik, jadinya ya nggak berasa.

Kami survive. Teman-teman cowok mendapat hasil lumayan di turnamen, jadi hari terakhir kami bisa makan enak.

Tapi nggak tahu kenapa, mungkin karena masih berjiwa muda dan menganggap itu sebagai satu petualangan seru, saya enjoy saja dan tidak merasa nelangsa waktu itu. Kalau sekarang sih, mudah-mudahan tidak terulang lagi ya pengalaman prihatin macam itu.

Segudang pengalaman seperti itu, yang membuat saya sampai pada titik ini. Pada pemahaman bahwa semua itu akan berlalu. Kita boleh kaya saat ini, tapi siapa tahu, besok kekayaan kita akan sirna seperti kisah Ayub. Kita boleh punya wajah ganteng, tapi siapa tahu, besok kita ketiban duren sehingga wajah kita hancur. (Serem banget gak sih pengandaian saya.)

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.