Disconnected Setiap Hari Minggu

by on

 

Saya bekerja dari jam sembilan pagi sampai jam enam sore. Officially. Pada kenyataannya, saya sering tiba di kantor jam delapan, dan pulang jam sepuluh malam. Pernah juga pulang jam enam pagi, hanya untuk tidur sebentar di kamar dan jam sembilan pagi sudah nongol lagi di kantor.

Akhir pekan? Ceritanya nggak jauh beda. Melewatkan beberapa jam di kantor, sebelum berakhir pekan ala saya, entah itu di coffee shop kesayangan atau ke pantai bersama teman.

Karena pekerjaan menuntut saya untuk selalu online, jadilah internet sebagai kebutuhan primer saya selain makan, baju dan tempat tinggal. Di kantor saya online selalu. Di rumah, saya pun masih menyempatkan online sebelum tidur. Hanya untuk browsing atau menulis artikel seperti ini.

Saya tahu seharusnya nggak begitu sih.

Tapi kecanduan terhadap internet membuat hidup saya jadi tidak seimbang.

Saya lupa apa buku terakhir yang saya baca. Dan saya tahu setumpuk buku yang saya beli masih menunggu untuk saya selesaikan. Saya lupa kapan terakhir berjalan kaki untuk benar-benar bersantai. Hidup saya nggak lebih dari sekedar kamar kost – kantor – kamar kost diselingi coffee shop.

Sebelum itu menjadi parah, saya harus berbuat sesuatu.

Saya ingin mencoba disconnected setiap hari Minggu. Alih-alih browsing sana-sini, mending saya baca buku. Atau bersantai di pantai yang nggak ada koneksi internet.

Siapa tahu dengan begitu, sisi kreatif saya mulai muncul. Dan novel yang sudah bertahun-tahun mengendap di otak saya, bisa mulai saya tulis dan selesaikan. Siapa tahu.

Setelah saya published posting ini, saya akan matikan laptop, mencabut modem wi-fi, mandi (ya saya tahu ini sudah jam sebelas pagi), dan beraktifitas melihat dunia luar.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.