Inilah Dunia Yang Kita Tinggali: Kekejaman Silih Berganti, Namun Kebaikan Selalu Ada

by on

Tanggal 21 Mei yang lalu, malam hari begitu saya dan teman-teman mendarat di Taipei, kami mendapat berita seram: siang itu telah terjadi huru-hara di MRT dengan pelaku tunggal seorang pemuda bersenjatakan pisau, menyebabkan kematian empat orang dan duapuluh empat orang lain terluka. Seram banget yak! Berita itu cukup mengguncang karena sepengalaman kami, Kota Taipei adalah salah satu kota teraman yang pernah kami kenal. Dengan lalulintas yang rapi, penduduknya yang ramah dan selalu siap membantu meski dengan keterbahasan bahasa Inggrisnya, rasanya susah membayangkan ada tragedi berdarah seperti di MRT siang itu.

Lebih menggemaskan lagi ketika kami membaca headline di berbagai harian Taipei, yang menyebutkan bahwa pemuda berusia 24 tahun itu melakukan kekejaman tak terkira atas dasar keinginan: “I want to do something big.” Anjrit banget nggak sih? Terlebih dia nggak menunjukkan rasa bersalah dan tampak senang bisa masuk media.

Saya nggak akan panjang lebar membahas kronologis peristiwa menyakitkan itu.

Tapi sebagaimana yang lain, saya jadi bertanya-tanya: dunia macam apa yang kita tinggali sekarang?

Dunia nyata dan fiksi serasa tak ada beda. Kisah-kisah yang dulu hanya kita temui di cerita khayal, kini dengan mudah bisa kita temukan di dunia nyata. Kekejaman-kekejaman yang tidak terbayangkan, kini dengan mudah seperti meloncat ke hadapan kita dan mau tak mau kita harus menelannya.

Sehari setelah peristiwa berdarah itu, kami naik MRT seperti biasa menuju ke kantor. Memang agak sepi, namun hari-hari berikutnya, nggak ada beda. Hanya saja dari pengamatan saya, entah saya yang mengada-ada atau memang begitu adanya karena dibenarkan oleh teman kantor kami di Taipei, orang-orang jadi lebih waspada. Banyak yang membawa payung – karena langsung popular berita bahwa payung berguna sebagai senjata. Beberapa mendekap tas di dada – ya siapa tahu bisa menangkal serangan tak terduga. Beberapa saya amati, memilih membalikkan badan dan berdiri menghadap dinding – rasanya sebelum kejadian, jarang deh saya temui posisi berdiri di MRT seperti ini.

Memang lebih bagus berjaga-jaga ya.

Dan pada Sabtu malam, saat kami berjalan-jalan dari Shilin Market menuju MRT, entah bagaimana asalnya, seorang gadis memberitahu kami bahwa kami harus berganti kereta untuk menuju Taipei 101. Untung seorang dari kami bisa berbahasa Cina, jadi kami selamat batal tersesat karena sebelumnya kami mengira kereta yang kami naiki langsung menuju Taipei 101. Gadis itu pun memberikan sebuah peta MRT sambil tersenyum-senyum, mungkin geli melihat kami yang udik ini.

Dan inilah dunia yang kita tinggali sekarang. Kekejaman mungkin silih berganti menghampiri, namun kebaikan tetap tersembul tanpa kita duga pun tanpa kita minta.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.