Filosofi Teh Poci: Nikmati Dulu Pahitnya, Baru Manisnya

by on

 

Sudah agak lama, pacar tiba-tiba beli poci teh tanah liat. Iya, yang khas Tegal gitu. Katanya waktu itu papasan sama bapak yang jualan poci ini di depan Kalibata City Square. Pocinya doang sih, tapi gak masalah, karena kebetulan ada stok mangkuk mungil buat minum teh.

Buat saya, kebetulan banget nih! Sedari dulu saya ingin menggantikan poci teh saya yang ketinggalan di Jogja, tapi belom kesampean karena belom sreg beli di mana.

Jadi ceritanya, dulu waktu saya kuliah dan kos di Jogja, saya punya ritual minum teh.

Setiap sore, selalu deh saya sibuk menyeduh teh di poci tanah liat dan kemudian menikmatinya di cangkir kecil dengan gula batu.

Lalu menikmati senja, berpuisi meski tanpa kopi. Sounds like anak-anak hipster jaman sekarang, yes?

Seringnya sendirian, terkadang beramai-ramai dengan teman.

Rasanya tuh beda, minum teh yang terseduh di poci dengan teh celup yang diseduh di cangkir, gitu. Kalau pakai poci, apalagi poci made in Tegal, rasa tehnya bisa lebih pekat dan mantap.

Setelah saya pindah dari Jogja, poci teh kebanggaan saya tertinggal di sana. Padahal, hasil lima tahun lebih ngeteh dengan poci yang sama, menyebabkan poci teh itu sudah berkerak tebal. Dan itu bikin makin nikmat seduhannya!

Sayang banget yak.

Eniwei, terima kasih buat pacar yang sudah turut merekonstruksi ritual minum teh saya.

Sebelum dipakai buat minum teh pertama kali, saya persiapkan dulu poci tehnya agar tidak bau tanah. Seduh teh dan diamkan sehari. Besoknya dibuang, lalu seduh lagi. Gitu aja terus sampai kiamat. Eh, maksudnya, sampai berasa mantap dan nggak bau tanah lagi.

Baru kemudian seduh teh beneran.

Dan pendamping teh poci gini, bagusnya pakai gula batu. Bukan gula pasir. Mengapa? Saya sih nggak tahu persis alasannya, tapi gula batu lebih awet dan mencair nggak segampang gula pasir.

Budaya Minum Teh Poci
Gambar diambil dari: https://muda.kompas.id/2015/08/11/kenangan-dalam-secangkir-teh-wangi/

Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas minum teh poci ini:

  • Ketika minum teh, disarankan untuk tidak mengaduk gula, tapi biarkan agar larut dengan sendirinya. Filosofi di balik itu: saat kita menyeruput teh, yang terasa pertama adalah pahitnya, baru setelah itu rasa manis di dasar cangkir karena gula batu yang mencair perlahan itu. ┬áSeperti hidup. Kepahitan hidup nggak perlu dihindari, namun dihayati dan dijalani saja. Setelah itu, ketemu manisnya kehidupan, niscaya bikin lebih “menghargai” manisnya hidup dan hidup jadi berasa lebih hidup.
  • Setelah acara minum teh selesai, poci jangan dicuci dengan sabun. Cukup dibuang saja tehnya, lalu dibilas dengan air. Atau, kalau kebiasaan saya, disiram pakai air panas lagi. Dengan cara begini, teh akan meninggalkan kerak yang semakin tebal semakin menambah rasa pekat.
  • Suka nemu kemasan teh yang kecil-kecil gitu ‘kan? Yang satu kemasannya berisi 9-10 gram teh kering, seperti gambar di atas. Setelah teh ditumplekkan semua ke poci untuk diseduh, kemasannya itu bisa buat menutup lubang poci, agar panas tertahan lebih lama di poci.
  • Memang teh yang dimasukkan ke poci porsinya banyakan, agar bisa di-refill dengan air panas 2-3 kali.
  • Ada istilah nasgitel alias panas, legi, kentel (= panas, manis, kental). Ada lagi yang menambahkan jadi wasgitel alias wangi, panas, legi, kentel.

Yang populer dengan budaya minum teh poci sih, pastinya adalah Tegal. Jadi pengin ke Tegal nih, menikmati suasana saat minum teh poci di tempat asalnya.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.