Saya dan Hal-Hal Acak Yang Tak Pernah Selesai

by on

Kekasih saya sedih melihat saya begitu disibukkan dengan pekerjaan. Sampai-sampai menyempatkan diri berkumpul dengan teman saja, tidak bisa. Itu membuatnya sedih, katanya, dan tahu dia sedih akhirnya membuat saya sedih juga.

Nggak segitunya juga sih. Saya masih tetap bikin janji dan bertemu dengan teman-teman baik (yang, yah, memang jumlahnya semakin menipis saja). Cuma, saya nggak bisa lagi seperti dahulu, mengesampingkan diri sendiri demi hal-hal lain atas nama kebersamaan.

Ya gimana ya, badan ini rasanya gampang capek. Butuh istirahat lebih. Jadi saya memilih untuk beristirahat, apabila memang badan saya bilang butuh istirahat.

Barusan, saya menyempatkan diri keluar demi beli pulsa listrik. Jalanan Denpasar di malam minggu ini tumben nggak begitu hiruk pikuk. Sampai di daerah Sanur, macet sedikit karena ada upacara. Lumayan lama mobil berdiam. Tiga mobil di depan mulai putar balik. Saya nggak. Saya diam saja menanti aba-aba dari pecalang pertanda jalur mulai dibuka kembali.

Jalanan remang-remang, seperti biasa. Dan saya menyetir sambil melamun. Ada beberapa saat yang skip dari ingatan, blank, tahu-tahu saya tersadar bahwa saya sedang menyetir. Seorang teman bilang, dia juga begitu. Menyetir sudah seperti kegiatan otomatis. Robotis sekali ya.

Selepas dari ATM – beli pulsa listrik dan menyempatkan bayar tagihan, siapa tahu tanggal 1 saya belum kembali ke Bali – saya pun menyetir lagi dengan angan-angan menyambangi warung pecel lele langganan saya di Jimbaran. Apa daya, hujan datang tiba-tiba. Deras pun. Motor-motor langsung menyingkir. Sibuk mengembangkan jas hujan, atau pasrah berteduh di halte menunggu hujan berhenti.

Hujan yang memang deras. Saya menyetir perlahan. Sambil menampar-nampar diri sendiri, betapa beruntungnya diri ini, meski cuma mobil kantor, toh saya terhindar dari hujan tiba-tiba ini.

Saya membatalkan niat ke warung pecel lele. Tiba-tiba saya ingin pulang dan minum kopi dan menulis. Ah ya, menulis. Satu kegiatan yang naik turun dan makin lama malah makin menipis kadarnya di kehidupan saya. Padahal saya rindukan benar, saat-saat seperti dulu, merangkai kata yang menyentuh rasa dan mengundang banyak komentar.

Saya belok ke Jalan Sesetan, arah menuju pulang. Hujan mulai reda, namun kembali menderas ketika saya sampai di pertigaan Sidakarya. Sebuah mobil dari arah berseberangan memberi tanda ia mau belok kanan. Saya berhenti memberi dia jalan. Dia nggak jalan-jalan sampai berapa detik dia tersadar dan mulai membelok dengan pelan-pelan. Saya mulai nggak sabar. Sebal, rasanya, memberi kebaikan namun nggak dimanfaatkan sepenuhnya. Ah, jangan-jangan, saya nggak tulus?

Di pertigaan Pulau Saelus, lampu merah membuat saya berhenti. Mata saya menangkap sosok anak kecil yang meringkuk di bawah pohon. Seorang bapak bermotor mengambil dompet dan memberi sesuatu pada anak kecil itu. Diterimanya lantas si anak pergi menerobos hujan. Si bapak memasukkan lagi dompetnya ke kantung belakang celana. Terpujilah kamu, Pak, bersempat diri merogoh dompet di tengah hujan untuk si anak itu.

Sisa perjalanan pulang seperti biasa. Pikiran melayang kian kemari. Saya teringat betapa tidak akrabnya saya sekarang dengan buku. Mungkin saya harus mendisiplinkan diri, meniru komitmen Mark Zuckenberg yang berniat menghabiskan satu buku setiap dua minggu sepanjang tahun 2015 ini.

Hujan tinggal rintik ketika saya parkir di kost. Saya bergegas masuk kamar, menenggak kopi yang telah dingin, mengirim pesan pada kekasih, dan menulis posting ini.

Entahlah apa isi tulisan ini, ini cuma latihan jari-jemari dan otak biar nggak beku. Ini cuma tentang saya, dan hal-hal acak yang tak pernah selesai.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.