Hidup Tanpa Drama

by on

Tiba-tiba bulan Juli sudah mau habis, dan tiba-tiba sudah mau Lebaran lagi. Terkadang saya berpikir, apakah balita merasakan apa yang saya rasakan, bahwa bumi berputar lebih cepat, hari-hari lebih ringkas, waktu semakin terasa relativitasnya, terasa tipis resonansinya.

Dan hidup saya masih begini-begini saja.

Dan belakangan saya makin kangen dengan Jakarta. Tepatnya, dengan hidup saya selama di Jakarta.

Seorang teman bertanya,” Memangnya bagaimana hidupmu di Jakarta?”

Saya jawab,” Hidup saya lebih teratur dan rapi. Bekerja, nongkrong di warung kopi, dan bila akhir pekan tiba, pergi ke mall atau ngendon di kamar. Nggak ada pertemuan yang tidak terencana, nggak ada interupsi sana-sini. Saya nggak punya banyak teman di Jakarta, tapi itu malah bagus, karena saya makin akrab dengan diri saya sendiri.”

Teman: “Dan di Bali?”

Saya: “You know Bali laaaa…. Sudah bersiap tidur, tahu-tahu ada ajakan clubbing.”

Saya terdiam sebelum lanjut berkata,” Ya salah saya sendiri sih, mengapa saya iyakan.”

Teman saya terbahak. “Nah! Kamu sudah tahu sendiri jawabannya.”

Saya baru tersadar bahwa hidup saya di Jakarta bisa dikatakan sebagai “easy, simple, quiet life”. Tanpa hingar bingar, nyaris tanpa drama, baik itu drama tentang hidup saya maupun drama orang lain yang sepertinya terpaksa jadi urusan saya juga.

Tapi salah siapa, bila drama menghampiri kita? Salah kita sendiri, mengapa kita membiarkan ia datang dan meracuni kita.

Ini satu artikel yang bagus tentang hidup dan drama: Don’t Respond to Drama and Drama Won’t Come Back Around.

Sekarang makin jelas gambaran hari-hari yang saya inginkan. Saya nggak perlu jadi asosial, tapi memang bukan waktunya lagi untuk ber-hiphiphurahura.

Saya menginginkan hidup yang lebih tenang, dan saya punya hak untuk memilih siapa saja yang boleh masuk ke hati saya. Mereka yang sekiranya mengganggu ketenangan jiwa, akan saya terima di teras saja.

Mungkin dia, yang saya cinta secara rahasia itu, nggak akan lagi berteman dekat dengan saya, tapi saya punya teman-teman baik, dan mereka sudah lebih dari cukup untuk membuat saya nyaman.

Mungkin saya nggak akan punya teman hidup, tapi itu adalah pilihan, dan saya menjalani pilihan tanpa banyak tanya.

What a quiet life I deserve.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.