I Own Experience

by on

 

Karena keterbatasan budget, saya harus memilih antara membeli sofa bed, atau meja kerja + kursi, dan saya memilih yang kedua.

Iya, itu untuk saya taruh di kamar kost yang seuplik itu. Tujuannya biar makin betah di kamar. Daripada nongkrong di warung kopi, mending nongkrong di kamar sendiri. Berusaha tetap produktif tanpa mengeluarkan duit lebih.

Pilihan satunya, mengapa sofa bed? Saya suka kepraktisannya. Untuk saya yang tinggal sendiri, sofa bed adalah pilihan logis, ketika dibentang cukup untuk tidur, ketika dilipat jadilah sofa untuk bersantai.

Nah, selama ini memangnya saya tidur di mana?

Saya nggak punya ranjang, kasur, spring bed atau apapun itu. Saya cuma tidur di atas selembar matras. Agak-agak meniru gaya orang Jepang yang tidur di atas futon gitu. Lagipula, konon tidur nyaris tak terpisah dari tanah begitu, cara ampuh untuk menolak santet. (Berasa ada gituh yang mau menyantet saya.)

Miskin? Iya. Saya miskin. Masalah buat elo?

Deskripsi singkat tentang gaya hidup saya adalah: “I do not own things. I own experience.”

Makanya saya nggak punya apa-apa sekarang. Padahal kalau manajemen keuangan saya mengikuti standar banyak orang, pastilah saya sudah berumah, bermobil, ber-apa aja yang jadi standar kesuksesan hidup seseorang.

Saya semakin nggak peduli dengan semua itu. Toh, nanti saya mati semua itu nggak akan saya bawa. Mana muat di peti mati saya.

Demikian.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.