Hari Gini, Jadi Bos Itu Nggak Keren. Sumpah!

by on

 

Saya pernah bekerja di satu perusahaan yang begitu hirarkial. Para bos yang punya titel keren seperti VP, terlihat enggan berkomunikasi dengan staf level bawah.

Misalnya, kasus seorang teman di departemen IT yang mengeluh karena problem yang dia hadapi tidak mendapat solusi secepatnya dari si empunya proyek (= project owner). Karena si project owner yang bergelar VP dan membawahi departemen lain itu, menolak berkomunikasi langsung dengan teman saya, dan maunya berkomunikasi dengan si bos departemen IT yang menjabat sebagai CTO. Padahal, ujung-ujungnya si CTO ini mendelegasikan penuntasan masalah pada si teman, karena si CTO ini juga nggak menguasai permasalah dan nggak day-to-day berada di kantor.

Taat hirarki banget ya?

Biasanya, organisasi (perusahaan) yang hirarkial ini tercermin dari orang-orang yang terpampang di struktur. Mereka senang menjadi bos. Padahal, jadi bos itu jaman sekarang nggak keren, sumpah! Yang keren itu: jadi leader. Jadi pemimpin.

Perbedaan bos dan leader salah satunya bisa dibaca di sini.

Mereka para bos ini, lazim mempunyai sifat bossy. Namanya juga bos. Tas kudu dibawakan oleh staf karena sebagai bos dia terlalu sibuk memikirkan perusahaan sehingga nggak layak menenteng-nenteng tas. Kalau perlu, tas belanjaan juga dibawakan oleh staf, karena bagi para bos ini, bos adalah tuan dan staf nggak ubahnya seperti pelayan.

Mereka para bos ini, cuma punya dua aturan dalam perusahaan. Satu, bos tidak pernah salah. Dua, apabila bos (dianggap) salah, lihatlah aturan nomor satu.

Sementara para atasan yang sadar bahwa dirinya bukan boss melainkan leader, umumnya mempunyai sifat yang rendah hati. Humble. Nggak segan-segan menyapa karyawan tanpa memandang jabatan bahkan office boy sekalipun. Mereka terbiasa memikirkan nasib karyawan terlebih dulu sebelum memikirkan kepentingan diri sendiri. Mereka nggak butuh pengakuan, karena orang-orang tanpa diminta sudah mengakui kehebatan para leader ini.

Puji Tuhan, saya sudah terlepas dari belenggu hirarki, anggap saja hampir dua tahun berada di perusahaan semacam itu adalah nilai tambah bagi hidup saya. Paling nggak, saya jadi punya bahan untuk menulis posting ini bukan?

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.