Kebiasaan Bergunjing

by on

 

“Great minds discuss ideas; average minds discuss events; small minds discuss people.” – Eleanor Roosevelt.

Pasti sudah familiar dengan kutipan di atas, yang sedari dulu banyak beredar di dunia maya, dengan berbagai versinya. Tapi seperti kutipan lain bilang: “easier said than done“, begitulah, lebih mudah untuk mengutip daripada melaksanakannya.

Termasuk saya.

Beberapa waktu lalu saya “terjebak” dalam satu kumpulan (mengapa saya katakan terjebak, karena saya pikir yang berkumpul itu cuma teman-teman dekat saja, namun ternyata yang datang satu banjar). Topik awal rame membicarakan seorang oknum yang bikin heboh di dunia persilatan di Bali ini dengan segala kenorakannya. Dan mulailah segala siletan muncul, dengan segala ketajamannya.

Dan tiba-tiba saya merasa jengah.

Karena saya tahu saya nggak lebih baik dari si oknum – yang saya nggak kenal dekat itu.

Sama seperti sekian waktu lalu ketika saya unfollow seorang teman di Twitter, karena tweet dari dia penuh dengan celaan, mulai dari orang yang ditemui di mal sampai artis yang lagi tayang di televisi.

Rasanya kok, jengah saja ya. Apa diri kita sudah sempurna sampai kita sah mengolok-olok kekurangan orang?

Jujur, saya juga sering ngomongin orang. Sebagai salah satu pusat informasi terpercaya di Bali ini, ehm, semua informasi bisa mampir ke saya dari segala sumber. Tapi saya nggak gegabah memilih orang untuk membicarakannya.

Dan pun apabila saya membagi informasi itu, saya nggak melulu mencerca si obyek penderita, tapi lebih fokus pada hikmahnya. Apa yang bisa kita pelajari dari ketidaksempurnaan mereka dan kita sebagai manusia. Apa yang bisa kita jadikan cermin dari peristiwa yang dialami mereka.

Saya lebih nyaman berbicara dengan beberapa orang yang benar-benar saya kenal, daripada mengumbar cerita di warung kopi dengan volume suara yang kencang sampai pengunjung sebelah meja pun bisa mendengarnya.

Ingat, dinding pun punya telinga, siapa tahu mereka kenal obyek penderita yang sedang kita gunjingkan?

Dunia saya sekarang lebih sepi. Saya memilih untuk undur diri dari keramaian, tapi memelihara hubungan baik dengan sedikit teman-teman yang saya percaya.

Saya lebih menikmati makan berdua atau bertiga, daripada keroyokan satu banjar dimana obrolan akhirnya ngalor ngidul dan nggak fokus. Saya lebih suka pergi ke pantai sendirian, daripada memaksakan diri untuk lebur dalam keramaian.

Jangan salah, saya nggak menganggap diri lebih baik dari siapa pun.

Tapi inilah saya, dan saya tahu apa yang terbaik buat saya. Terkadang saya bisa menjadi salah satu dari orang-orang hebat yang mendiskusikan ide, seringnya saya cuma manusia biasa yang membahas peristiwa demi peristiwa, namun sekarang saya belajar untuk sesedikit mungkin menggunjingkan orang.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.