Ketika Keinginan Diubah Menjadi Kebutuhan, Kita Bisa Mengubahnya Menjadi Bukan Kebutuhan

by on

Malam minggu ini, karena hujan deras membatalkan semua acara, akhirnya saya mendekam di kamar saja. Nggak jadi menyantap gule kambing, indomie rebus pake telor pun terasa nikmat. Setelah makan, saya naik ke ruang tidur saya dan menyetel televisi, pas nyantol di stasiun GlobalTV yang sedang menayangkan Despicable Me.

Film lama, tahun 2010, yang membuat heboh dunia dengan minion-nya.

Dan saya belum pernah sekalipun menonton film ini. Baik di layar lebar, maupun di DVD legal maupun bajakan (karena nggak punya DVD player pun), ataupun di tv kabel (karena memang nggak berlangganan pun).

Padahal film ini heboh banget ya kala itu. Lah kok bisa saya nggak nonton babarblas.

Saya pun heran. Lalu merunut masa’ sih waktu itu saya nggak pengin nonton? Hmmmm. Sepertinya sih pengen, tapi ada kendala karena mungkin nggak ada teman menonton di bioskop. Dan karena saya males nonton sendirian, pastinya keinginan menonton itu terlupakan, sampai malam ini teringat kembali.

Lalu saya berkesimpulan, mungkin waktu itu saya mencoba menawar keinginan saya untuk menonton, dengan pertanyaan: “beneran butuh (nonton) nggak sih?” Dan jawabnya pasti: nggak butuh-butuh juga sih. Iya ‘kan. Nggak nonton Despicable Me nggak bikin mati kok. Ya agak-agak ketinggalan apdet sih misalnya pas ngomongin bahasa ala minion, tapi bisa dikejar dengan modal googling. Dan bener ‘kan, empat tahun berlalu dan saya masih hidup tanpa kekurangan suatu apa yang dikarenakan saya nggak nonton Despicable Me waktu itu.

Jadi rumusnya mungkin gitu ya, ketika keinginan diubah menjadi kebutuhan, kita bisa mengubahnya menjadi ‘bukan kebutuhan’. Selesai perkara.

Coba deh, terapin rumus ini ketika gairah belanja melonjak tinggi. Keinginan beli ini-itu segera diubah menjadi kebutuhan, yang segera dipunahkan dengan pertanyaan: “beneran butuh (belanja) nggak sih?” Kalau memang kita menuruti nalar dan bukan emosi, mungkin sebagian besar akan bertatapan dengan jawaban “nggak butuh”. Nah, kalau memang nggak butuh, mengapa diteruskan. Nah ‘kan, batal deh jadinya belanja.

Karena kalau bagi saya nih, ‘keinginan’ itu nggak bisa ditakar. Seperti seni. “Pokoknya saya ingin.” Nah kalau ‘kebutuhan’, itu bisa dilogika. Lebih mudah untuk menentukan saya butuh apa enggak, secara obyektif.

Ya semoga saja sih prakteknya segampang teorinya.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.