Kena Tag Massal, So What?

by on

Beberapa hari silam saya kena tag massal di Path. Buat yang akrab dengan media sosial, pasti akrab juga dengan istilah “tag massal” ini. Itu lho, tag yang nggak cuma kita saja yang di-tag tapi juga segelintir orang lain bahkan kadang sekampung, yang darinya banyak nama-nama asing buat kita.

Tag massal ini memang praktis buat menyebarkan satu berita pada banyak orang pada saat yang sama. Seperti saat itu, teman saya menyebarkan berita tentang kemalangan seseorang yang membutuhkan dana bantuan. Dengan bijak dia mencantumkan “disclaimer”, bahwa berita yang dia sebarkan semata-mata atas niat baik, dan permohonan agar jangan dikomen agar yang kena tag massal tidak terganggu.

Kalau misalnya teman saya cuma posting berita doang, belum tentu saya notice karena ya you knowlah orang sibuk macam saya suka kelewatan berita di media sosial.

Tapi tetap saja dong, meskipun disertai “disclaimer” tadi, ada satu yang komen. (Isi komennya nggak relevan buat dibahas di sini, itu buat bahan posting lain kali saja.) Lalu satu lagi komen dengan nada bijak. Dan satu lagi untuk menutup bahasan sebelum berlanjut gak kelar-kelar.

Di situlah letak keburukan tag massal. Karena kita bisa kebanjiran komen dari orang-orang lain yang kena tag, yang nggak kita kenal, dan juga komennya kadang gengges bikin geregetan, tapi geregetannya karena kalau kita balas komen, urusan gak selesai-selesai dah, bakalan semakin terganggu dengan banjir komen.

Berhubung saya sudah makin bijak (iyain aja, gak usah protes), daripada ribut soal etis tidaknya tag massal ataupun ribut soal pesan yang dibagikan, saya mah mengambil tindakan preventif agar tidak kena banjir komen setelah kena tag massal. Iya, gampang aja. Path sekarang sudah punya fitur “mute this moment” (sumpeh, ini saya baru tahu pas googling soal tag massal). Di Facebook lebih mudah lagi, tinggal “remove tag”. Atau “stop following notification”.

Gampang ‘kan?

Dan dunia aman damai tenteram tanpa perlu berantem karena tag massal ini, karena soal kena tag-nya, atau karena soal isi pesannya.

Kalo kita tarik ke kehidupan nyata, kena tag massal ini ibarat kita kena kemacetan tak terduga. Beberapa orang menyalurkan kekesalannya dengan update status di media, beberapa orang menyalurkannya dengan memencet klakson tiada henti. Padahal gak guna juga ‘kan, mau ngelakson sekenceng apapun, macet yo macet. Lalu beberapa orang lain yang terganggu dengan klakson tadi, ikutan pencet klakson dengan maksud menyalurkan kekesalannya karena klakson tadi. Yang akhirnya jadi bersahut-sahutan suara klakson, rauwisuwis.

Terlepas dari kejadian apa yang kita alami, yang terpenting adalah bagaimana kita bereaksi.

Balik ke soal tag massal tadi, saya mah berterima kasih karena kena tag, jadi tahu berita, nggak ketinggalan kereta, dan masih ‘dianggap’ cukup berharga sebagai teman untuk di-tag. Saya menghargai niat baik teman saya. Reaksi saya? Nggak perlu heboh, cukup saya dan Path saja yang tahu.

You may also like

2 Comments
  1. DiPtra 2 years ago

    Cukup saya dan Path saja yang tau Hihihihi nice shot Mbak…

  2. bayik 2 years ago

    Hahaha makasih sudah berkunjung ya 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published.