Kotak Pandora

Pada suatu masa, saya mengkontak teman lama untuk mengirimkan satu berkas yang saya butuhkan. Berkas tersebut dari kantor lama yang pernah menaungi kami berdua. Teman saya mengirimkan berkas tersebut lewat email, dengan nama berkas: pandorabox.xls.

Pandora box. Kotak Pandora.

Saya terbahak melihat cara teman saya menamai berkas tersebut.

Betapa… tepatnya! Berkas tersebut memang ibarat kotak Pandora yang apabila terbuka akan melepaskan segala keburukan.

Mengapa bagi saya (dan teman saya), sekeping berkas itu seperti kotak Pandora?

Apa sih kotak Pandora itu? Berikut salah satu pengisahan tentang kotak Pandora yang saya rasa pas banget.

Menurut mitologi Yunani, dahulu kala api hanya dapat digunakan oleh dewa. Manusia tidak diperbolehkan untuk ’menyentuh’ dan merasakan faedah api dalam kehidupan sehari-hari. Adalah sesosok raksasa bernama Prometheus yang kemudian diam-diam mencuri api dan menyerahkannya pada manusia. Mengetahui hal itu, para dewa yang dikomandani Zeus berang. Mereka tidak terima salah satu bentuk kekuasaannya jatuh ke tangan manusia, dan khawatir manusia dapat mengambil alih kekuasaan mereka.

Sebagai langkah antisipasi, Zeus menyusun siasat. Ia meminta dewa Hephaestus untuk menciptakan makhluk yang disebut wanita. Wanita tersebut kemudian dinamakan Pandora. Pandora yang diberkahi kecantikan dan keutamaan yang luar biasa itu kemudian dikirim ke bumi untuk diperistri oleh Epimetheus, adik Prometheus. Prometheus yang mencium rencana busuk dewa-dewa tersebut memperingatkan adiknya untuk tidak menerima pemberian apa pun dari Zeus.

Namun, Pandora menerima sebuah hadiah dari para dewa. Hadiah tersebut berwujud sebuah kotak disertai pesan untuk tidak membuka kotak itu apapun yang terjadi. Larangan tersebut justru membuat Pandora makin penasaran untuk membuka kotak misterius itu. Kelanjutannya bisa ditebak. Rasa ingin tahu Pandora yang begitu kuat membuatnya tak sanggup menahan dorongan untuk membuka kotak misterius itu. Ketika kotak itu terbuka, seketika itu pulalah kejahatan dan wabah penyakit yang terhitung banyaknya keluar dari kotak itu. Pandora yang kaget dan ketakutan melihatnya berusaha menutup kotak yang terlanjur dibukanya. Sayang, hanya tertinggal satu hal tersisa dalam kotak itu. Hanya harapan yang tertinggal untuk menguatkan manusia melalui berbagai kesulitan yang telah dibiarkan keluar dari kotak tersebut.

*****

Dari cerita saya di awal tulisan ini, berkas yang dikirimkan oleh teman saya adalah kotak Pandora bagi saya. Bagi kami.

Mengapa?

Karena berkas itu mengandung banyak rahasia perusahaan, termasuk informasi sensitif tentang gaji semua karyawan yang ada di perusahaan kami.

Saya sih nggak sakit hati melihat jajaran angka di kolom gaji, karena gaji saya lebih dari cukup waktu itu.

Tapi melihat betapa banyak uang yang dihambur-hamburkan selama dua tahun perusahaan kami berdiri (sebelum akhirnya tutup karena nggak punya duit lagi), kok ya terasa sakit di sini.

Bersamaan dengan itu, terkenang juga semua pengalaman yang telah lalu selama saya bekerja di sana.

Segala perdebatan, salah paham, kasak-kusuk di belakang, semua terbayang kembali setiap saya membuka berkas itu.

Kalau kotak Pandora menyebarkan kejahatan dan wabah penyakit, kotak saya membangkitkan lagi perasaan tidak enak karena kenangan yang menyakitkan.

Untungnya….

Sama seperti kotak Pandora yang menyisakan harapan, kotak saya juga menyisakan sesuatu: pemahaman. (Nggak perlu ‘harapan’ lha wong perusahaannya aja sudah bubar, apalagi yang mau diharapkan?)

Pemahaman itu yang membuat saya bisa tersenyum kembali, memaknai semua yang lalu dengan pengertian dalam, tanpa misuh-misuh, tanpa sakit hati berlebihan.

*****

Kita semua punya kotak Pandora masing-masing. Dan mungkin juga, nggak cuma satu kotak yang kita dapatkan selama perjalanan hidup kita.

Mungkin bisa berupa album foto dengan mantan, lagu-lagu yang biasa kita dengarkan yang mengingatkan kita pada mantan, tempat-tempat yang biasa kita kunjungi bersama mantan.

Yang ketika kita buka lagi, kita dengarkan, kita tak sengaja singgah, ternyata masih mampu membuat hati tersayat oleh kenangan buruk bersamanya. (Kalau kenangannya nggak buruk alias kenangan manis, ya berarti nggak sah menjadi kotak Pandora.)

Atau mungkin dalam bentuk lain….

Yang seharusnya tidak perlu kita ketahui, tapi karena sangking keponya, kita memaksa tahu.

Misalnya, buku harian kekasih. Atau, handphone pacar. Atau, slip gaji teman sekerja. Hal-hal yang sebenarnya kita nggak perlu tahu, karena nggak tahu pun nggak akan mempengaruhi kehidupan kita.

Lalu setelah tahu, biasanya sakit hati. Karena salah paham atau pendek pikir.

Ya mending nggak tahu.

Sama seperti Pandora. Coba dia nggak menuruti kekepoannya. Segala hal buruk seperti kejahatan dan penyakit, akan tetap tersimpan rapi di kotaknya.

Tapi kalau kita sudah terlanjur membuka kotak kita, tetaplah ingat bahwa ada satu hal baik yang tersisa di samping segudang ketidakbaikan yang menguar.

Hal baik itu bisa jadi harapan.

Atau penerimaan.

Atau kebenaran.

Yang jelas, hal baik tersebutlah yang bisa menguatkan kita untuk move on, untuk terus berjalan dan meninggalkan kotak itu di tempatnya.

Dan jangan buka-buka lagi kotak itu, kecuali kalau sudah berhasil menjaring segala sakit hati yang sempat terbang keluar. Kalau sudah terjaring, boleh deh masukin lagi ke kotak.

Tutup rapat-rapat. Kubur dalam-dalam.

Tanpa perlu berusaha dilupakan.

Cukup diberi senyuman dan siram dengan penerimaan.

Dan ingat, lain kali nggak usah kepo kayak Pandora.

 

Baca tulisan lainnya....

4 Responses

  1. intanrawits says:

    baru tau kisahnya pandora mb, pelajaran moral hari ini adalah Kepo yang merugikan diri sendiri. Mending urus diri sendiri aja lah drpda rempong urus orang lain.
    salam kenal mb

  2. bayik says:

    Betul Mbak Intan. Kalau nggak siap mental, mending nggak usah kepo hehehe. Daripada susah sendiri nantinya. Salam kenal kembali, terima kasih sudah mampir dan membaca ya!

  3. Putri says:

    Apik sekali tulisannya mba Bayik!

  4. bayik says:

    Terima kasih banyak Mbak Putri, terima kasih sudah mampir dan membaca! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *