Mengapa Saya Tertarik Pada Perseteruan Mario Teguh vs Ario Kiswinar

by on

 

Hari-hari belakangan ini, mayoritas publik dihebohkan oleh konflik antara Mario Teguh dan Ario Kiswinar. Nggak usah saya jabarin di sini, pasti kalian sudah pada mafhum (kecuali kalau memang benar-benar nggak sempat update via sosmed atau nggak pernah nonton televisi).

Saya akui, saya termasuk yang rajin mengapdet perkembangan kasus ini di akun Facebook saya meskipun saya protect agar terbagikan di kalangan teman saja dan tidak saya set publik.

Mengapa sebegitu rajinnya saya? Apakah saya kepo?

Iya, saya kepo.

Saya pengin tahu seberapa dahsyat kasus ini berdampak pada pamor Mario Teguh yang selama ini dikenal dengan quote termehek-meheknya itu. Saya senang mengamati aksi, reaksi dan interaksi yang terjadi seputar perseteruan ini.

Beberapa orang bilang: sudahlah, itu urusan pribadi Mario Teguh dan keluarganya.

Malahan tak sedikit yang kemudian menyalahkan Ario Kiswinar karena mengumbar aib keluarga di media. (Kalau dilihat dari wawancara adik kandung Mario Teguh – tautan ada di bagian akhir artikel – bisa dimengerti mengapa Ario Kiswinar mengangkat masalah keluarga ini ke media.)

Kalau saya bilang, sebagai public figure, Mario Teguh mau nggak mau harus terima konsekuensi bahwa ranah pribadinya sudah berkurang banyak, beralih menjadi ranah publik.

Terlebih tentang masalah Ario Kiswinar ini.

Selama ini, Mario Teguh boleh dibilang berjualan kata-kata. Sebagai motivator, setiap hari bahkan setiap jam dia membombardir para penggemarnya dengan berbagai kutipan motivasional.

Berbagai tips tentang kehidupan ia bagikan.

Termasuk tentang cinta.

Termasuk tentang keluarga.

Nah.

Di sinilah ia tersandung, ketika kata-kata indahnya tentang keluarga, ternyata tak seindah perbuatannya.

Dan di sinilah mengapa saya dan banyak orang lain merasa peduli dengan kasus ini. Sekali lagi, bukan karena kepo atau usil pengin tahu urusan orang lain.

Tapi karena ada kebenaran yang dipertaruhkan di sini.

Ibaratnya kalau ada dokter yang selama ini mengklaim bisa menyembuhkan penyakit kanker, ternyata salah satu keluarganya meninggal karena kanker tersebut. Otomatis kita bertanya-tanya, mengapa dokter itu tidak mengobati keluarganya? Atau, ternyata sanak tersebut sudah berobat sesuai metode dokter, namun tak juga sembuh. Apakah klaim dokter tersebut ternyata palsu?

Dengan menjadi motivator, secara nggak langsung Mario Teguh berperan sebagai guru. Guru kehidupan.

Ajaran-ajaran yang dia sampaikan lewat kutipan kata-kata indah, pastinya akan diamini oleh banyak penggemarnya.

Dan ketika ternyata perilaku Mario Teguh sendiri bertentangan dengan apa yang diajarkannya selama ini, wajar apabila banyak orang tersentak dan protes.

Sebagai contoh….

Setelah Ario Kiswinar muncul di televisi, Mario Teguh tidak langsung mengklarifikasi dengan tegas, melainkan mengeluarkan cuitan-cuitan dan juga apdet status di fanpage-nya yang memakai bahasa bersayap. Iya, bahasa bersayap itu ya bahasa yang nggak tegas gitu, nggak semata-mata artinya adalah yang terbaca namun juga yang tersirat.

Itu salah satu ke-tidak-sreg-an saya tentang tingkah laku Mario Teguh yang nggak bijak dalam menghadapi masalah ini.

Salah dua yang lain? Masih ada. Tapi kalau saya beberkan di sini, nanti tulisan ini malah jadi ‘nyacat’ orang alias mengupas kekurangan orang. Padahal saya nggak mau membahas orangnya, tapi mau belajar saja dari peristiwa yang menimpanya.

(Sudah kayak Mario Teguh belum nih saya, dengan bahasa yang muter-muter dan mbulet?)

*****

Anyway….

Hidup itu nggak seindah atau semudah cocote Mario Teguh.

Kalimat ini sudah sejak lama berseliweran di antara kita. Pastinya dilontarkan oleh mereka yang tidak termasuk penggemar Mario Teguh.

Dan cerita Agus Nonot Supriyanto di mojok.co tentang hidup tak semudah cocote Mario Teguh  ini sungguh menohok:

Dalam salah satu episodenya, Mario Teguh pernah berkata di depan para pengikutnya “Anda pilih mana? Salah tapi cepat atau benar tapi lambat?”

Saya yang menyaksikannya di layar TV di rumah pun ikut berpikir. Dan sebelum menemukan jawabannya, Mario Teguh sudah bersabda lagi:

“Pilihlah yang salah tapi cepat. Karena cepat, walaupun salah, setidaknya anda punya waktu yang cepat juga untuk melakukan koreksi. Salam super.”

“Wah benar sekali.” Batin saya. Maka sabda itu saya pegang dan saya terapkan di pekerjaan kantor saya. Hasilnya? Saya dimarahi habis-habisan oleh atasan saya.

“Kerja itu yang bener. Kalau masih salah ya jangan diberikan ke saya. Menyesatkan itu namanya.” Teriak atasan saya.

Modiarrr….

*****

Sampai hari ini, perseteruan Mario Teguh dengan Ario Kiswinar belum menemukan titik temu. Masing-masing pihak masih bersikukuh dengan kebenaran yang diamininya.

Sebagai penonton, kita cukup gelar tiker ngunyah kacang menikmati drama yang terjadi.

Atau kalau jengah, ya pindah channel saja, masih banyak sajian drama lain seperti sidang Jessica yang nggak kelar-kelar.

Lebih baik sih nggak peduli drama, tapi mengikuti nasihat Pak Jokowi saja: kerja, kerja, kerja!

Bagi saya pribadi….

Dari peristiwa Mario Teguh vs Ario Kiswinar ini, menjadi jelas bagi saya bahwa menjadi public figure itu beneran berat banget. Harus terima meskipun nggak rela, ruang pribadinya diobok-obok media dan dijadikan santapan publik.

Jadi public figure itu berat, karena tiap kata yang terucap akan punya dampak bukan main pada kredibilitasnya.

Beda dengan yang bukan public figure, seperti saya misalnya. Kalau salah-salah kata di blog ini ya nggak akan ada yang peduli, lha wong yang baca juga bisa dibaca hitungan jari. Ja toch?

Saya juga belajar bahwa benar, kita semua punya masa lalu. Benar, seperti yang sering digaungkan oleh Mario Teguh (meskipun kata-kata ini nggak istimewa, biasa aja, sepertinya semua orang berpikiran waras bicara hal yang sama): berdamailah dengan masa lalu.

Kata kuncinya: berdamai.

Berdamai berarti menerima. Bukan mengingkari.

Menerima segala baik buruknya masa lalu kita, lalu move on. Kalaupun kelak ada yang bertanya atau mengungkit masa lalu kita, ya bilang apa adanya bahwa: ya, saya pernah begitu, saya pernah begini, namun bagi saya itu sudah bagian masa lalu yang tidak relevan lagi bagi kehidupan saya sekarang.

Bukan malah mengingkari: ndak, saya ndak begitu, mereka yang begini. Lha kok malah nuduh orang lain…. Jadi nggak damai dong.

Yang lebih penting lagi….

Saat ini, saat yang kita jalani sekarang ini, akan segera menjadi masa lalu kita kelak. Jadi daripada susah menangkal masa lalu kita yang diungkit-ungkit orang, ya lebih baik mencegah agar kita nggak tertimpa masalah di masa depan gara-gara masa lalu kita.

Dengan kata lain, berkelakuan baiklah kita di masa sekarang, agar ke depannya nggak jadi sandungan.

Sebagai referensi, berikut saya sertakan tautan agar kita bisa dapat gambaran lengkap tentang perseteruan Mario Teguh vs Ario Kiswinar ini. Jadi nggak cuma separo-separo, cuma dengar kesaksian dari satu kubu. Dengarkan semua (kalau niat), lalu ambil hikmahnya yang mungkin bisa kita gunakan dalam kehidupan kita.

Setelah itu, move on. Nggak mantengin drama orang terus, tapi kerja, kerja, kerja. (Kalimat yang terakhir ini reminder bagi saya pribadi, sebenarnya.)

Featured image diambil dari lampung.tribunnews.com

You may also like

6 Comments
  1. Yoga 1 year ago

    Saya juga kepo nih ada hubungannya ga kasus ini dengan baru dealnya MT dengan Kompas TV. Apakah ada modus persaingan dengan Trans 7 atauu hanya setting belaka supaya acara MT yang pindah ke Kompas TV di kenal publik. Sekian Terimakasih hehe 😀

  2. wawan ketut 1 year ago

    Ulasan yg selalu menarikk. Bagus…

  3. bayik 1 year ago

    Nah ini lebih menarik lagi hahahaha. Sepertinya, segala sesuatu yang terjadi di republik ini susah ya bebas dari rekayasa? Marilah kita tunggu bersama :))

  4. bayik 1 year ago

    Terimakasih sudah mampir dan membaca, kaka 🙂

  5. Iin Sari 1 year ago

    Ceuu…gw penasaran sama drama MT ini krn postigan2 loe juga hehehe..thank you udah share byk update #langsungcari2beritaMTlg

  6. bayik 1 year ago

    Hahaha iya gemes soalnya. Biar pada tahu dari semua angle, nggak cuma percaya apa kata MT. Biar berimbang gitu.

Leave a Comment

Your email address will not be published.