Melalap Jalanan

by on

 

Saya sering merasa berdosa ketika melalap jalanan, khususnya jalanan Bali, dan melaju sendirian di atas mobil.

Saya tahu ini nggak benar. Pemborosan energi banget, satu mobil yang bisa mengangkut tujuh orang, malah saya pakai sendiri. Tapi gimana dong, di Bali nggak ada angkutan umum yang beres. Yang baru-baru ini diluncurkan, namanya bis Sarbagita, trayeknya terbatas. Dan dari kantor / kost menuju halte, susah cari ojek.

Saya juga sering merasa bersalah ketika berhenti di lampu merah, dan di samping saya sepasang suami istri berboncengan di atas motor, sang istri menggendong bayi dan satu anak lagi terjepit di antara ayah dan ibunya. Kontras banget dengan saya yang sendirian di mobil.

Tapi itulah hidup ya. Life isn’t fair. Dan mustinya saya nggak perlu berpusing-pusing tentang itu. Jalani saja, doakan mereka selamat sampai tujuan, semoga tidak kepanasan tidak kehujanan.

Dan saya selalu merasa iba bercampur gemas setiap mendapati para peminta-minta mendatangi mobil saya. Anak-anak, laki perempuan, ibu-ibu dengan bayi di gendongan, melangkah gontai dari mobil ke mobil sambil menadahkan tangan.

Terkadang saya pengin mewawancarai mereka, seberapa banyak sih pendapatan mereka sehari? Karena amat sangat jarang saya lihat mobil-mobil itu membuka kaca dan si penumpang memberi sedekah.

Termasuk saya, pantang memberi sedekah karena bukan rahasia lagi, ada mafia yang mengorganisir para pengemis itu.

Saya merasa kagum apabila mobil mewah melintas, seperti kemarin ketika empat Porsche melaju di jalur kiri saya. Berapa ya gaji mereka sebulan, sampai bisa membeli mobil semewah itu? Apakah itu hasil korupsi, atau murni kerja keras, atau hadiah dari malaekat macam Fathanah? Terberkatilah apabila itu memang murni hasil kerja keras.

Seribu perasaan yang menghampiri setiap saya ada di jalanan, khususnya jalanan Bali. Bersilih kenangan, ataupun pemandangan, menghampiri dan beberapa tak mau pergi.

Beberapa tersimpan di benak sebagai kenangan baru, yang takkan terlupakan, seperti ketika saya menangis, sungguh sungguh menangis, melihat pengemis bocah kecil menggendong adiknya (atau siapanyalah) yang bayi, terhajar hujan deras di tengah malam. Pemandangan yang sungguh kejam, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berdoa.

Jalanan, sebagai mana semua tempat yang pernah kita singgahi, adalah tempat pembelajaran di mana kita berinteraksi secara langsung maupun tak langsung dengan pemakai jalan lain. Menurut seorang penulis, jalanan ibarat simfoni, di mana kita para pemakai jalan musti bergerak seirama agar tidak saling tabrak.

Itulah mengapa saya senang sekali melahap jalanan, mengumpulkan keping-keping cerita, sebagai bekal perjalanan saya esoknya.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.