Memecat, Eh, Memberhentikan Karyawan Itu Mudah Nggak Sih?

by on

 

Ini cerita dari perusahaan tetangga. (Tetangga jauh banget sih sebenarnya.)

Belum ada setahun perusahaan itu berdiri, sudah ada tiga pemecatan terjadi. Tiga orang dari divisi yang berbeda, hengkang pada kurun waktu yang berbeda, dengan alasan yang berbeda-beda pula. Yang sama hanya satu: mereka dipecat. Hmm, mungkin kata dipecat terlalu kejam. Bagaimana kalau kita ganti saja dengan: diberhentikan.

Sedemikian mudahkah memecat, eh, memberhentikan karyawan?

Mudah kok, mungkin begitu jawabnya. Kalau karyawan nggak mencapai target? Kalau karyawan bikin rusuh melulu, bertengkar sama atasannya, membawa iklim yang nggak sehat buat perusahaan? Kalau karyawan sok pinter dan… well, memang dia lebih pinter sih dibanding CEO-nya.

Saya pernah dalam satu posisi yang memungkinkan saya memberhentikan kontrak karyawan di departemen saya, di perusahaan tempat saya bekerja dulu.

Untungnya atasan saya bilang: “Nggak segampang itu memberhentikan mereka. Mereka punya keluarga yang harus dihidupi. Mereka punya adik yang butuh uang kuliah. Mereka sendiri butuh duit buat hidup.”

Dan ketika di lain kesempatan saya harus menghentikan kontrak kerja salah satu supervisor karena manajemen baru menganggap gaji ybs terlalu besar, saya pun pasang badan untuk menganulir keputusan yang nggak rasional itu. Gaji terlalu besar, salah siapa? Salah yang mengangkat dia dong. Kalau perusahaan sedang kesulitan keuangan, mengapa harus dia yang dikorbankan? Mengapa nggak mulai dari jajaran tertinggi yang saya tahu gajinya berlipat-lipat itu?

Intinya, memberhentikan karyawan itu memang nggak segampang kelihatannya.

Beberapa pimpinan perusahaan hanya mengacu pada kontrak kerja, yang terkadang dipelintir demi menyelamatkan perusahaan.

Cobalah melihat lebih jauh nggak sebatas kertas.

Seperti ucapan atasan saya di atas itu. Pikirkanlah mereka sebagai manusia, bukan sekedar sebagai aset.

Kalau kinerja karyawan yang bersangkutan memburuk, coba telaah lagi, apakah target yang diberikan realistis? Apakah perusahaan sudah memberi apa yang mereka butuhkan untuk mencapai target? Apakah panduan sudah jelas diberikan dari pucuk pimpinan?

Kalau karyawan membawa hawa buruk bagi perusahaan, misalnya bersitegang dengan atasannya selalu, coba telaah lagi, masing-masing pihak pasti punya alasan. Cari titik temu, jelaskan pada mereka, buat mereka bersatu lagi, dan move on, maju terus tanpa mengungkit-ungkit kesalahan yang lalu.

Kalau karyawan merasa lebih pinter dari CEO…. well, mungkin memang benar begitu adanya? Tinggal diberi pengertian saja toh, bahwa CEO menduduki jabatan sebagai CEO karena alasan tertentu, dan mau nggak mau si karyawan musti terima itu, dan keputusan terakhir yang diambil oleh CEO adalah final. Nggak usah terus merasa tersinggung dan merasa si karyawan nggak bisa berkolaborasi, dan langsung ambil jalan pintas memecat si karyawan.

Intinya, memberhentikan karyawan itu memang nggak segampang kelihatannya. (Eh, diulang-ulang mulu ini kalimat yak?)

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.