Mengapa Kamu Begitu Membenci Saya?

by on

Saya jarang sekali membenci orang, dan begitu saya benci pada orang, sekaligus saya benci pada diri sendiri karena membiarkan kebencian itu menguasai saya.

Benci itu menguras energi. Energi yang semestinya bisa buat hal lain. Jadinya kontra produktif.

Saya rasa lebih mudah memasang senyum ketika bertemu kenalan daripada membuang muka karena melihat orang yang kita benci. Lebih menyenangkan berbunga-bunga karena cinta daripada merasa hati penuh sesak ingin meledak karena kebencian. Lebih mudah berangkat tidur ditemani sapaan mesra, dan akan susah tidur apabila kita memikirkan makhluk yang membuat kita dongkol tiada tara.

Saya tahu ada beberapa orang yang membenci saya. Saya toh nggak sempurna. Saya banyak berbuat kesalahan, dan beberapa orang merasa kesalahan itu tidak termaafkan.

Ada pula beberapa orang yang saking bencinya sama saya, memilih untuk mengabaikan saya. Menganggap saya nggak ada.

Kemarin, satu foto lama muncul di Facebook. Foto tiga tahun silam yang menggambarkan keceriaan saya dan teman-teman di tengah makan malam. Beberapa nama tertaut di situ. Salah satunya kamu.

Seorang teman berkomentar. Dua orang lagi berkomentar. Saya juga.

Dan malam harinya, saya mendapati kamu memblock akun Facebook saya sehingga saya tidak bisa lagi melihat profil kamu. (Selama ini toh kita sudah tidak berteman dan kamu sudah setting sedemikian privat jadi saya cuma bisa melihat halaman depan profil kamu yang nggak berisi informasi berguna.)

Sedemikiankah kamu membenci saya? Sampai kamu masih nggak bisa melihat nama saya lalu lalang di newsfeed kamu?

Saya tahu kamu sudah punya dunia sendiri. Kamu makin cemerlang, saya akui itu. Kamu makin berkibar, di usiamu yang masih muda. Lalu apa? Kamu takut saya mengganggu kamu lagi? Kamu takut dunia kamu jungkir balik gara-gara saya, seperti juga dunia saya jungkir balik gara-gara kamu? Kamu takut kekasihmu pergi gara-gara kamu berhubungan dengan saya?

Apa sih yang kamu takutkan?

Selama ini bila melihat namamu berseliweran di media apa saja – Bali ini kecil, ingat?, saya hanya tersenyum dan sekali waktu memanjakan diri dengan kenangan saat-saat dulu kita bersama.

Well, paling tidak sekarang saya tahu kamu masih benci saya.

The opposite of love is not hate, it’s indifference.┬áThe opposite of art is not ugliness, it’s indifference. The opposite of faith is not heresy, it’s indifference. And the opposite of life is not death, it’s indifference. (Elie Wiesel)

Terima kasih, masih menganggap saya ada. Sedemikian ada sehingga kamu berniat memusnahkan keberadaan saya. Terima kasih, kamu tidak mengabaikan saya, meskipun eksistensi saya bagimu selevel kutu yang mengganggu. Paling tidak, saya belum menyublim di dunia kamu.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.