Merayakan Natal Setiap Hari

by on

Sedari dulu – ya, sebenarnya semenjak saya mulai bisa berpikir dan tidak melulu mengikuti apa kata guru Sekolah Minggu sih – saya suka berseloroh: saya nggak merayakan Natal pada tanggal 25 Desember. Iya, di Alkitab pun tidak tertulis bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Bagi saya, itu nggak lebih semacam konsensus saja yang lantas mentradisi.

Dan saya sering bilang: saya merayakan Natal setiap hari.

Karena kehadiran Tuhan – yang dulu dinyatakan lewat bayi Yesus – mustinya nggak hanya diperingati setahun sekali. Karena itu, bagi saya, Natal itu setiap hari.

Setiap hari saya bergulat untuk memaknai penyelamatan umat manusia yang konon tak terselamatkan ini kecuali lewat Dia. (Well, mengapa saya memakai kata ‘konon’ ya? Yasudahlah.)

Tapi saya menulis posting ini nggak untuk membahas arti Natal secara panjang lebar, secara serius, secara dalam karena itu bukan gaya saya.

Saya cuma mau bilang, sekarang saya benar-benar merayakan Natal setiap hari. Literally.

Iya. Gara-garanya bulan Desember kemarin, kekasih saya datang ke Bali dan dia memberikan kejutan yang di luar praduga saya: pohon natal. Mungil sih, cukup manis untuk bersanding dengan tivi, dihiasi lampu-lampu natal dan figur Miley Cyrus. (Iya, tema Natal kemarin itu Miley Christmas, karena kami sama-sama menggilai Miley.)

Dan sampai hari ini, 18 Januari 2014, pohon Natal itu masih bertengger manis. Lampu-lampunya masih berkerlip menerangi kamar dan menemani saya tidur setiap malamnya. Entah sampai kapan. Sampai sekarang saya nggak punya niat, dan saya juga gak kebayang suatu hari terbersit niat, untuk menyingkirkan pohon Natal itu.

Karena, bukankah saya merayakan Natal setiap hari?

You may also like

2 Comments
  1. Darma 2 years ago

    Suka dengan tulisan2mu mbak. Nggak neko2 tapi makjleb.

  2. bayik 2 years ago

    Waaah terimakasiiiih. *tersipu malu* Makasih ya sudah mampir dan membaca!

Leave a Comment

Your email address will not be published.