My Year in 2014 (Iye, Basi, Madingnya Sudah Terbit)

by on

Jadi tatkala dunia  kebanjiran posting “My Year in 2014” yang berisi kilas balik pengalaman orang-orang selama setahun, saya malah terdiam gak tahu mau nulis apa. Hmmm, tepatnya bukan gak tahu sih, tapi energi diri ini sudah terkuras oleh pekerjaan yang menjelang akhir tahun semakin mendera (iye, lebay ye bahasa gue). Jadi saya melewatkan tahun 2014 dengan tanpa refleksi apapun, padahal dulu gemar banget deh me-review setahun saya ngapain aja – berasa orang penting penuh pencapaian padahal sih hidup saya ya gitu-gitu aja.

Nah karena sekarang saya sudah lumayan berenergi buat menulis, gapapa deh sekarang saya posting “My Year in 2014”.

Sebagaimana tahun-tahun lain, tahun 2014 adalah tahun yang berarti buat saya. Cuma ada yang beda, dan tanpa saya tulis pun pasti teman-teman yang baca ini (kalo ada teman-teman yang baca lho yaaa), pasti udah menuduh: “pasti soal pacar yaaa”.

Iya. Punya kekasih sungguh membuat tahun 2014 berbeda dengan tahun-tahun yang lain. Beda kota tak mengapa, kami sudah saling percaya. Persoalan miskomunikasi yang timbul juga gak jadi membesar, karena kami komit agar hubungan kami jangan sampai terganggu oleh hal-hal yang tidak perlu.

Punya kekasih juga membuat saya berubah, meskipun kekasih saya nggak pernah bawel minta saya berubah (kecuali urusan rajin makan dan rajin mandi). Saya runut selama tahun 2014, mood swing saya turun drastis. Saya lebih stabil mengendalikan emosi, saya lebih fokus pada apa yang penting dan bisa mengeliminasi masalah sepele agar tidak mengkudeta hati ini (ugh!).

Soal kerjaan, puji Tuhan saya melewati setahun bekerja di perusahaan yang sekarang ini, melewati banyak drama (drama orang lain, saya mah bagian penggembira dan tepuk tangan saja), banyak sukaria dan jatuh bangun dalam membangun system sesuai kepentingan perusahaan. Semua itu sungguh adalah berkat yang luar biasa.

Dan kalo dipikir-pikir sekarang, memang hidup saya isinya itu doang sih. Soal pacar, dan kerjaan. Teman-teman masih ada, meski saya jarang bergaul seperti dulu namun saya tahu siapa saja teman-teman yang selalu ada bagi saya sebagaimana saya juga selalu ada bagi mereka. Soal keluarga, ya baik-baik saja di Jawa, hubungan saya dengan ibu dan kakak-kakak memang formal tapi bagi kami itu tidak jadi masalah selama kami masih dan akan selalu menjadi keluarga. Soal pencapaian, banyak keinginan saya yang belum tercapai namun masih ada tahun 2015 yang memberi harapan baru bagi saya.

Secara keseluruhan, meski tak sempurna, tahun 2014 adalah tahun yang bakal saya kenang dengan penuh syukur. Apalagi penutup tahun 2014 sungguh manis. Di malam tahun baru, saya dan kekasih menikmati pesta kembang api dari balkon lantai tiga kost kekasih di Jakarta. Kembang api yang tiada henti menghiasi langit Jakarta di pergantian tahun itu, sebenarnya satu obyek yang sangat berharga untuk diabadikan lewat kamera.

Namun malam itu saya memilih untuk berpelukan saja dengan kekasih, berdekapan sembari menunjuk-nunjuk kembang api yang berpendaran dari segala penjuru.

Karena ada momen-momen yang lebih baik kita endapkan di ingatan, daripada ribut mengabadikan hanya sekedar untuk dipamerkan di Instagram.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.