Ini Sekedar Gerundelan: Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono

by on

Belakangan ini saya merasa gerah. Bukan gerah pertanda hujan turun, tapi gerah yang bikin kulit gatal gara-gara baca seliweran berita, blog posting, cuitan, atau rentetan status di newsfeed saya.

Gerah yang bikin saya pengin menguliti orang-orang yang seenak udelnya sendiri njeplak gak mikir perasaan orang lain.

Gemes karena saya musti menelan tontonan ketololan demi ketololan setiap hari.

Bergidik mendapati kekejaman yang terlontar dari berbagai pihak, mulai dari yang terang-terangan membenci sampai yang menyajikan kekejaman secara halus di balik kata-kata bersayap.

Topik apa sih yang bikin saya gerah, gemas dan bergidik dan pada suatu sore menuliskan status ini di Facebook saya?

Untuk pertama kalinya selama jadi WNI, baru kali ini terpikir untuk pindah tinggal ke luar negeri. Kebodohan yang semakin menjadi dari banyak orang membuatku semakin sedih. Jadi digital nomad enak kali ye… ke manapun, selama aku bisa berdua hidup tenang bersama kekasihku. ‪#‎SabtuMuram‬‪#‎IndonesiaSuram‬

Apakah berita tentang Pasha Ungu yang tiba-tiba saja jadi norak setelah jadi pejabat?

Atau Ahok yang mencak-mencak merasa disabotase dengan ditemukannya kabel memenuhi gorong-gorong di Merdeka Selatan?

Atau Ridwan Kamil yang mendadak caper, maju mundur maju mundur ala Syahrini? Kalau pejabat lainnya mau maju jadi calon di suatu ajang pemilihan, memilih sholat istikharah atau berdoa meminta petunjuk pada Yang Mahakuasa, kalau Ridwan Kamil mah beda, bikin jajak pendapat di Facebook meskipun saya yakin dia sebenarnya sudah nggak minat maju sebagai calon DKI-1. Ujung-ujungnya dia menyatakan nggak jadi maju dan dari sana-sini menguarlah puja-puji atas kebesaran hati sang RK.

Eh, melantur dah!

Jadi gini para pembaca blog yang saya hormati, saya jadi gerah karena tiba-tiba saja persoalan LGBT mencuat.

Semua orang bicara LGBT.

Dari yang serius sampai yang santai.

Dari yang pro sampai yang berusaha netral dan juga yang terang-terangan kontra.

Dan ujung-ujungnya, semua orang merasa sok tahu tentang LGBT.

Nah di sinilah saya merasa sedih, dan gerah. Dan gemas dan bergidik.

Siapa yang nggak sedih, coba, melihat teman tiba-tiba memposting status yang menunjukkan betapa dia gagal paham tentang LGBT.

Atau mendapati penulis pujaan (dulu pujaan, sekarang udah nggak) yang berinisial DS tiba-tiba memposting artikel yang kejam banget (menurut saya). Si kepala tomat berjubah kulit durian (ini copy paste gaya DS ya) yang demen ngopi sambil ngejek-ejek SJ atau FA atau siapapun yang terlintas di kepala cupetnya, menulis dengan berapi-api sampai saya merasa seakan-akan pintu surga sudah tertutup bagi para LGBT.

Apakah kamu itu Tuhan, wahai DS?

Apakah kamu lupa bahwa Tuhan memahami umatNya lebih daripada kamu, DS. Tentang pemahamanmu soal homoseksualitas pun, banyak ahli kitab yang jauh lebih paham ayat-ayatNya daripada kamu, toh mereka tetap menunjukkan sikap penuh kasih pada semua tanpa terbatasi label dan gender.

Jadi gini….

Situ mau pro, situ mau kontra, silakan.

Tapi kalau situ pro dengan menoyor-noyor kaum yang anti dan mencap mereka sebagai kaum yang kurang modern dan kurang memahami sains dan apalah apalah, saya nggak demen.

Sebaliknya juga gitu.

Situ mau anti LGBT, silakan. Tapi kalau situ anti dan menganggap kaum LGBT ini lebih rendah dari binatang (gemes gue kalo baca kalimat “binatang aja ogah bercinta dengan sesama jenisnya”, hellawwww, banyak-banyak baca ya! Nih gue kasih satu artikel aja, sisanya googling sendiri sana.), menganggap kaum LGBT ini layak untuk dihina-hina bahkan layak dibunuh….

Duh Gusti, saya mohon ampun dulu karena saya jadi terbakar emosi dan pakai kata ‘situ’ yang amat tidak sopan.

Dan….

Duh Gusti, saya mohon ampun juga untuk mereka-mereka yang saking semangatnya membela pendirian mereka, sampai lupa bahwa bahasa universal Kamu jauh melebihi makna semua argumen yang centang perenang di muka bumi.

Bahasa universal yang bernama: kasih sayang.

Di mana kasih sayang berada, ketika mereka hanya bisa melemparkan batu cacian dan hinaan kepada para si kepala tomat itu? (Lagi-lagi saya minjam bahasanya DS, maaf.)

Ataukah memang mereka tidak memiliki kasih? Kasih hanya tersedia bagi mereka yang sepaham, senada seirama, senasib seperjuangan, dan di luar garis pembatas itu, kasih serta merta menyublim tak bermakna?

Nggak berarti semua harus pro LGBT.

Saya nggak bilang gitu lho ya. Kalau kamu berpikiran saya memaksa semua harus pro LGBT, berarti kamu termasuk golongan si kepala tom… ah, sudahlah.

Saya cuma pengin bilang, baik itu pro maupun kontra, janganlah berlebihan.

Jangan memalsu fakta demi gagahnya kamu berargumentasi.

Jangan merendah-rendahkan sesama, karena kamu nggak tahu bagaimana candaan kamu bisa menorehkan sakit di hatinya. (Trus pada bilang: “Ah, gitu aja baper.” Yagimana ya cong, kalo kamu becandanya serius, ya saya jadi baper dong ah.)

Jangan menghina-hina, karena kamu (dan saya) sama hinanya dengan mereka.

Jangan menutup pintu surga bagi mereka, karena kamu bukan Tuhan.

Dan berbagai jangan lainnya… yang tiba-tiba bikin saya kangen jangan bobor bikinan Ibu. (Jangan bobor = sayur bayam santan.)

Yang terpenting, jangan seperti Mister Tifatul ini, yang setelah ngetwit trus dihapus gara-gara kaum netizen langsung bereaksi atas cuitan dia yang berbau ‘hate speech’.

twit tifatul tentang lgbt

Ngono yo ngono, ning ojo ngono, kalau kata orang Jawa. Terjemahan harfiahnya: begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Alias: jangan bertindak berlebihan.

Menutup pintu surga, menjatuhkan derajat sesama sampai menganggapnya lebih rendah dari binatang,

Ingat, kita semua ini manusia.

Mending, daripada mengobarkan kebencian dan memupuk kebodohan, ikuti Om Manampiring ini yang dengan sejuk sekali menulis surat untuk kaum LGBT.

Atau jadi cerdas seperti Herman Saksono yang meskipun dihujat banyak orang gara-gara tulisannya, tetap kalem dan tegas berargumen. (Sok kenal hehehe, ndak, saya ndak kenal beliau meski saya kagum akan keluasan pikirannya.)

Dan renungkanlah pernyataan sikap KOMNAS HAM ini atas situasi yang dihadapi komunitas LGBT.

*****

Beberapa hari yang lalu, saya menumpahkan kekesalan saya dengan memajang status di Facebook.

Kemarin ketemu teman dan kami punya reaksi beda-beda tentang situasi yang bikin gondok sekarang ini. Satu diem aja. Satu nggak pernah buka fesbuk lagi. Satu aktif report posting yang berbau hate speech. Dan satu lagi (aku) cerewet komen dan posting apa aja. Mungkin harus puasa fesbuk dan medsos dulu sih. Apalah enaknya baca status teman yang merendahkan keberadaanku (meskipun no mention), mencap aku kaum sesat (padahal aku bahagia sebahagianya umat), share posting berbau hate speech dan penuh joke kasar. Yak, puasa dimulai…

Untungnya teman saya pada baik-baik (yang nggak baik sudah saya unfriend kok). Mengingatkan saya bahwa nggak semua orang otaknya sekacang kedele. Bahwa masih banyak orang-orang baik yang bisa jadi sandaran dan memberi penguatan saat kita lelah. Makasih ya guys!

Jadinya saya batal puasa sosmed, meski mengurangi interaksi dengan mereka yang tidak senada seirama dan menyaring berita biar newsfeed saya nggak bikin sebel ati.

Semoga besok-besok saya nggak kegatelan lagi.

Kalau gatel ya nulis lagi. Biar gerundelannya tersalurkan nggak nyangkut bikin gondok.

 

You may also like

2 Comments
  1. Anonymous 2 years ago

    Cinnb tulisanmu makin lama makin okehhh loh, makin rajin yakk ngeblognya, jangan kayak aku rajin ngeblognya cm cita2 doanggg hahahaa 🙂

  2. bayik 2 years ago

    Hahahaha Makasih udah mampir jeung @Anonymous 😛 lha piye angkat aku jadi asistenmu aja untuk perbloggingan, awakmu sibuk traveling terus gitu lho.

Leave a Comment

Your email address will not be published.