Orang Baik Itu Masih Banyak Jumlahnya Di Muka Bumi Ini. Percaya?

by on

Jadi kemarin malam, ketika berada di atas pesawat dan sudah setengah perjalanan Denpasar-Taipei, tiba-tiba terlintas di otak saya: dompet saya mana ya? Dan saya baru tersadar bahwa terakhir kali memegang dompet mungil itu adalah ketika membeli makan siang di salah satu outlet di Bandara Bali. Saya merunut kejadian-kejadian setelah itu: makan di meja bersama teman-teman, seorang teman mengingatkan agar saya tidak melupakan paspor yang tergeletak di meja, seusai makan kami kembali ke terminal keberangkatan internasional, melewati X-Ray sebelum masuk ke departure lounge dan saya ingat hanya meletakkan paspor, ipod, sabuk dan sepatu di wadah, lalu menuju ke boarding gate dan saya memasukkan ipod ke kantong depan tas saya.

Saya ingat semuanya tapi tidak ingat di mana dompet saya.

Pasrah deh. Mau panik di atas pesawat, percuma juga. Jadi yang saya bisa lakukan cuma berdoa biar dompet saya selamat.

Turun di Bandara Taoyuan, langsung saya memeriksa tas yang saya tenteng dan benar, dompet saya nggak ada. Lemes. Semua kartu atm, kartu kredit, KTP, SIM, ada di sana, belum termasuk uang. Tapi ya saya mau apa? Mau nangis, percuma. Mau teriak-teriak sebel, tidak mengubah keadaan.

Selama menunggu bagasi keluar, otak saya sudah mengembara ke mana-mana. Berniat mengetwit berita kehilangan dan siapa tahu bisa tersebar dan bisa membantu ditemukannya dompet saya. Karena seingat saya nggak ada kartu nama saya di sana, jadi mereka yang menemukan dompet itu, nggak tahu dong harus menelpon siapa (kalau mau balikin ke pemiliknya sih). Tapi saya nggak mau langsung ngetwit, saya kirim DM dulu ke pacar. (Iya, sekarang prinsip saya, pacar saya harus jadi orang yang pertama tahu tentang apa yang terjadi pada diri saya, sebelum saya mengabarkannya pada dunia.) Eh lha belum sempat cerita lengkap ke pacar, kami sudah harus naik taksi dan putus deh koneksi, baru bisa terhubung ke internet lagi setelah sampai di hotel.

Hmm, melantur ya. Iya, selama penantian itu pikiran saya melantur ke sana-sini, meski lagak laku saya tetap tenang. Padahal hati sudah maknyes membayangkan musti mengurus KTP dan SIM, tapi siapa tahu itu cara Tuhan memaksa saya untuk pulang ke Semarang (sekian lama nggak pulang, ya, mungkin saya harus sempatkan waktu untuk mengunjungi Ibu). Membayangkan duit yang jumlahnya lumayan banget buat saya, apesnya sebelum itu saya menerima segepok uang cash dari teman yang mengembalikan pinjaman. Membayangkan kerepotan mengurus kartu kredit, sementara saya sudah berjanji untuk mengunjungi kekasih saya awal bulan depan.

Tapi ya nasib baik, nasib buruk, siapa tahu? Kutipan ini yang membantu saya untuk tetap tenang, seburuk apapun berita yang saya terima.

Anyway, untung teman-teman saya baik, mereka sibuk menghubungi siapa yang bisa kami hubungi. SMS ke airport handling agar bantu mengecek ke outlet tempat kami makan, siapa tahu dompet saya tertinggal di sana dan ada yang menemukannya. SMS ke corporate secretary agar bisa bantu telpon ke outlet itu juga, dan siapa tahu bisa bantu pasang iklan kehilangan di Bali Post. Akhirnya setelah mencari di Google dan mendapat nomor telepon outlet tersebut, teman berbaik hati meminjamkan teleponnya (well, sebenarnya juga perusahaan yang bayar sih jadi saya nggak usah bingung pakai telepon).

Betapa leganya ketika saya terhubung dengan supervisor di sana yang bilang ada dompet dan sebungkus rokok yang tertinggal dan mereka sudah amankan. Jesus. (Iya teman saya juga heboh karena kehilangan sebungkus rokok, yang saya yakin ya tertinggal berbarengan dengan dompet saya, ternyata benar.) Saya bikin janji untuk mengambil dompet begitu saya landing di Bali nanti.

Saya percaya, orang baik itu masih banyak jumlahnya di muka bumi ini. Dompet mungil saya itu, sudah 3-4 kali hilang selama di Bali, dan selalu kembali ke pangkuan saya. Dan meskipun saya sering kehilangan telepon dan Blackberry, saya tetap percaya orang baik itu masih banyak jumlahnya.

Dan yang bisa saya lakukan selama sisa hidup saya ini, berusaha untuk selalu menjadi satu dari sekian banyak orang baik itu.

 

 

 

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.