Cerita Lalu: Nasib Penumpang Kapal Kelas Ekonomi

by on

 

Waktu itu saya masih aktif sebagai atlet catur. Salah satu hal yang menyenangkan adalah, kami bisa jalan-jalan gratis karena dibiayai pemerintah. Meskipun, karena saya warga Provinsi Jawa Tengah (dan kemudian membela DI Yogyakarta), saya musti berpasrah diri apabila fasilitas yang saya dapat jauh beda dengan teman-teman dari provinsi lain yang lebih makmur seperti DKI Jakarta dan Bali.

Pun, itu sudah lebih dari cukup buat saya, anak kampung yang nggak mimpi bisa berlayar sampai Kalimantan, Sulawesi, Sumatra tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Dapat uang saku lagi.

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) yang digelar setahun sekali, memperkaya pengalaman jalan-jalan saya. Dan karena pemerintah provinsi saya nggak cukup kaya, rombongan kami selalu naik kelas ekonomi, mau pakai moda apapun, yang pasti kelas ekonomi.

Termasuk kapal.

Awalnya nggak terbayang sama sekali bagaimana naik kapal kelas ekonomi itu.

Ternyata, sungguh di luar dugaan. Meski kapal berangkat pagi menjelang siang, sejak jam empat pagi kami sudah siap sedia di pelabuhan. Mustri ngantri, cyiin.

Begitu pintu gerbang dibuka, sontak semua manusia yang memadati ruang tunggu, bergerak menuju tangga pintu masuk ke kapal.

Nah, ini penderitaan pertama kelas ekonomi: mau masuk kapal musti desak-desakan, beda dengan kelas di atasnya yang terpisah pintunya dan cukup melenggang santai.

Pengalaman paling sadis yang pernah saya alami, saking penuh manusia berjubelan dan merangsek maju menuju tangga untuk naik ke kapal, tahu-tahu kaki saya nggak menapak tanah.

Iya, karena dari belakang gerombolan itu mendesak saya ke depan, sementara manusia-manusia di depan saya cuma beringsut tak kentara, tahu-tahu badan saya tergencet dan bisa bayangkanlah, seperti di film kartun itu, kaki saya menggapai-gapai untuk turun ke tanah lagi.

Untung ada yang berteriak: “Ada yang pingsan!” Entah itu ditujukan untuk saya atau memang ada manusia malang lainnya, akhirnya gencetan itu mengendor. Saya bisa bernafas kembali.

Penderitaan kedua, setelah sampai di atas kapal, belum berarti perjuangan berakhir. Nggak ada itu nomor kamar. Kelas ekonomi waktu itu hanya berupa barak panjang, dan kami musti berebut tempat lagi. Plus berebut matras sebagai alas tidur.

Tentunya ada yang sigap memperjualbelikan matras. Ada kemungkinan kita nggak dapat tempat tidur, tapi dapat matras, jadi gelar saja matras itu di sepanjang lorong dan enjoykanlah melewatkan waktu di bawah seliweran kaki orang yang lalu lalang.

Mungkin juga kita dapat tempat tidur, tapi nggak dapat matras, jadi berkreatiflah untuk melambari dipan panjang kita dengan kain sarung atau apapun yang bisa dijadikan alas.

Jangan bayangkan dipan satu-satu begitu ya. Ini benar-benar dipan panjang tanpa pembatas, jadi bisa saja saat tidur, kita saling tendang dengan penumpang di sisi kiri kanan kita.

Pernah, saya ingat, kami yang berenambelas, hanya mendapat tempat tidur empat buah. Alhasil, kami tidur bergantian, pun dengan posisi yang beraneka ragam. Itu musti ditahankan selama delapanbelas jam perjalanan waktu itu dari Surabaya ke Banjarmasin.

Sudah cukup menderita? Belum. Pertama kali melihat ransum makan yang disediakan, saya terbelalak.

Ransum makan yang sudah include di harga tiket itu, ditaruh di atas piring aluminium, selayaknya penghuni penjara di film-film itu. Udah gitu ngantri panjang pula. Beruntung saya pergi berombongan, jadi para pria selalu siap meladeni kami para wanita.

Parahnya adalah, tidak disediakan garpu dan sendok. Dimaklumi sih, kalau ada garpu sendok, gak jamin deh bakal kembali, yang ada malah dibawa pulang para penumpang.

Itu pelajaran berharga, jadi dalam perjalanan selanjutnya, saya selalu membawa garpu dan sendok, plus bekal pop mie yang banyak, karena air panas bisa diminta secara gratis.

Penderitaan yang lain yang menyiksa saya adalah kamar mandinya jorok banget. Saya memilih nggak mandi sampai tiba di tempat tujuan. Kalau kebelet pipis, numpang di kamar atlet provinsi lain yang mendapat jatah kamar VIP.

Cuma ya, karena waktu itu saya masih muda, tahun ’90an, saya mah nikmat-nikmat saja. Sepanjang perjalanan saya beserta teman-teman sibuk mondar-mandir mengelilingi kapal, lalu menghabiskan waktu di kafetaria di dek belakang, menikmati hembusan angin kencang, laut terbentang luas, dan beberapa kali mendapati ikan terbang meloncat-loncat.

Ketika lewat Sungai Mahakam pun, saya sempat melihat pesut melintas. Dan saat matahari terbenam, sungguh, nggak berasa tersiksa deh menjadi penumpang kelas ekonomi.

Tapi itu tahun ’90an ya, saya nggak tahu apakah kondisi sekarang masih sama atau memburuk atau membaik. Yang pasti, saya bersyukur sempat punya pengalaman yang orang lain mungkin nggak punya.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.