Sekilas Tentang Penyesalan

by on

Sudah lama tidak menulis ya? Iya. Nggak ada yang peduli juga sih.

Banyak ide mengendap di kepala, stok foto menumpuk untuk diapdet di blog sebelah. Tapi ya itu, procrastinator sejati ini selalu punya alasan untuk menunda menulis. Sampai tahu-tahu bulan September sudah lewat, dan tiga bulan lagi ganti tahun.

Banyak yang bisa saya ceritakan. Mulai dari keseharian, percakapan-percakapan bernas dengan berbagai teman, baik lewat media elektronik maupun langsung bertemu muka. Tapi ya itu, lagi-lagi kemalasan yang membuat saya susah menuangkan berbagai remeh temeh ke blog ini.

Senyampang saya menulis blog ini, lagunya Bruno Mars mengalun dari radio. Dulu saya nggak begitu mudheng dengan lagu “When I Was Your Man” ini. Tapi setelah menyimak liriknya, kok rasanya pas banget ya dengan yang pernah saya alami.

Dulu dia pernah menganggap saya sebagai soulmate dia. Lalu karena selisih paham, dia pergi. Setahun, lantas datang lagi. Dan ketika seorang teman bertanya pada kami, “Sekarang kalian sudah jadian?” kami cuma saling pandang dan saya nggak tahu musti bilang apa, dan dia duluan menjawab: “Kami lebih dari sekedar teman.”

Jawaban yang ambigu, memang. Dan saya terlalu lemot untuk menegaskan, apakah arti ucapannya itu. Lebih dari sekedar teman, apakah itu berarti kami adalah sahabat? Atau saudara? Atau seperti yang saya harapkan: kekasih rahasia?

Wotever.

Saya pernah menyangka bahwa saya nggak punya penyesalan atas sesuatu yang semestinya saya lakukan tapi enggak. Saya bohong. Ternyata penyesalan-penyesalan macam itu saya punya. Banyak.

Mustinya saya bisa bersikap gentle selalu padanya, saat itu. Mustinya saya bersabar, dan tidak menuntut banyak. Kan katanya, cinta sejati itu satu arah. Ternyata saya belum memahami benar prinsip yang saya agung-agungkan itu. Setiap saya memberi, saya mengharap dia juga membalas. Saya kalah, kalah dari egoisme saya.

Dan kisah penyesalan semacam ini terus berulang, karena saya ini selain dikenal pintar, juga punya ketololan-ketololan tersendiri.

Bulan kemarin dia ulangtahun. Sebenarnya sejak lama saya sudah menyiapkan sesuatu untuknya. Tapi di saat-saat terakhir, semua saya batalkan. Saya nggak mau membuatnya jengah, dan digosipkan satu kantor hanya gara-gara kiriman bunga dari saya. Akhirnya saya hanya menulis status Facebook, tentu tanpa menyebut namanya: “Kado terbaik yang pernah kuberikan selama hidupku, kupikir, adalah ini: cinta yang diam. Mencintaimu dari kejauhan, dalam diam, meskipun itu membunuhku perlahan. Cinta yang terus menggerogotiku hingga aku tak bisa lagi merasakan luka, namun sebaliknya, hanya cinta yang semakin cinta. Cinta ini, sobat, adalah cinta yang kurelakan menyublim perlahan hingga menyatu dengan udara, tanpa aku berhak atas embunnya setetes pun sebagai penghilang dahaga.”

Saya nggak menyesal membatalkan segala kejutan yang mungkin bagi dia nggak berarti.

Tapi saya bakalan menyesal apabila suatu saat saya mati tanpa sempat menyatakan cinta ini secara langsung dan tegas tanpa bias puitisasi. (Ugh, maaf kalau akhirnya ternodai oleh Vickynisasi.)

Buat kamu, ya, maaf bila saya terus menerus mengobral perasaan saya di blog ini. Karena toh kamu juga selalu menolak apabila saya ajak bertemu.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.