Awal dari Periode Hidup Penuh Drama Ala Dunia 8×8

by on

 

Nyambung cerita kemaren nih tentang perkenalan saya dengan catur yang berakhir dengan keberhasilan saya diterima di UGM. Merantau deh ke Jogja. Jadi anak kost. Berpisah dengan orang tua dan kakak-kakak. Ibarat burung lepas sangkar, mungkin ya, jadinya saya hidup bebas banget. Ya nggak bebas ala generasi milenial sekarang sih. Bebas namun masih tetap jadi anak baik-baik kok.

 

Masih ingat ‘kan alasan saya memilih UGM? Karena UKM Catur mereka termasuk yang paling kuat di Indonesia.

Nah, waktu OSPEK, ada pameran UKM atau apalah nama eventnya, saya lupa. Pokoke semua UKM gelar stand di Gelanggang (nama tempat ngumpulnya UKM se-UGM). Mahasiswa baru diwajibkan minta tanda tangan ke penjaga stand. Lupa saya harus ngumpulin berapa tanda tangan.

Jelas yang saya cari ya stand UKM Catur. Tiba di sana, ada beberapa cowok yang berjaga. Saya cuek bertanya tentang pecatur wanita dari UGM yang telah saya kenal sebelumnya di Kejurnas Banjarmasin.

Songong banget yak jadi anak baru sok nanya-nanya, bawa nama senior lagi. Sok akrab banget hahaha.

Ya begitulah cara saya menarik perhatian. Sampai ada yang langsung jatuh hati. (True story, tapi nggak perlu dibahas di cerita ini.)

Hari-hari saya di Jogja langsung disibukkan dengan kuliah, dan main catur. Rutin kami berkumpul di Gelanggang. Seringnya berlanjut ke angkringan sampai jauh malam. Selalu saja ada yang kami diskusikan. Entah itu partai terbaru para grandmaster, buku catur yang baru tiba, atau bersiap-siap untuk berbagai turnamen.

Bagaimana kuliah saya? Target saya hanyalah tidak terkena DO. Saat itu aturannya 4 semester IPK rata-rata di atas 2,00. Santai aja. Apalagi melihat kakak-kakak di UKM Catur saat itu, yang menyandang gelar MA alias Mahasiswa Abadi. Banyak yang sudah kuliah 8 tahun dan nggak lulus-lulus. Yang penting, main catur dan bahagia!

*****

Di awal tahun 1991, baru satu semester saya jalani, bapak meninggal dunia. Saat itu saya terlihat tabah. Namun kemudian saya merasa bahwa kepergian beliau sangat mempengaruhi saya secara nggak langsung.

Saat itu saya merasa semuanya baik-baik saja, sedangkan sekarang saya melihat dulu saya seperti orang limbung seperti kehilangan pegangan.

Bulan itu juga, ada Kejurnas Catur Mahasiswa dengan UGM sebagai tuan rumah. Saya sudah aras-arasen (bahasa Jawa untuk “ogah-ogahan”) bermain. Sehari sebelum pertandingan, saya malah mengajak teman-teman kost untuk pergi ke Gunung Kidul. Padahal beberapa minggu sebelumnya, saya sudah ke sana bersama kakak-kakak UKM Catur.

UKM Catur UGM 1991
Piknik UKM Catur ke Pantai Kukup, 1991 (maafkan kualitas fotonya, ini dari foto lama yang saya scan)

Piknik, ceritanya. Teman-teman saya yang baik pun menemani saya. Kami menginap di rumah seorang teman yang berasal dari Wonosari, Gunung Kidul.

Dan esok paginya, kami menjelajah pantai demi pantai. Iya, Gunung Kidul punya banyak pantai, yang sekarang sudah terekspos dan popular. Saat itu, hanya Pantai Baron, Pantai Sundak dan Pantai Kukup yang punya nama, itupun masih belum banyak pengunjung.

Kami tiba di satu pantai yang benar-benar sepi. Jadi serasa pantai punya sendiri.

Saya menemukan satu batu karang yang gede banget. Cukup deh buat menidurkan badan saya yang dulu masih cungkring. Tiduran di atas batu karang, dengan deburan ombak, menatap langit cerah….

Sampai seorang teman mengingatkan, bukannya saya harus bertanding di Kejurnas Mahasiswa malam itu? Mendadak saya menemukan kekuatan kembali, dan segera rombongan kami kembali ke Jogja dengan menggunakan mobil sewaan.

Malam telah tiba saat kami sampai di Gelanggang. Untung belum kena W.O. Saya pun segera bertanding, melawan Herwati, pecatur wanita perwakilan Unsoed, yang adalah juga rekan satu tim saya di Kontingen Jawa Tengah.

Partai kami berjalan sengit. Sampai pada satu titik, saya menemukan langkah brilian. Kombinasi!

Kombinasi itu langkah pengorbanan yang sebenarnya bertujuan memetik keuntungan di beberapa langkah selanjutnya. Bisa berupa keuntungan posisional, atau material. Misalnya mengorbankan pion, namun tiga langkah kemudian malah dapat Benteng.

Saat itu, kala kita bertanding, kita boleh nyambi jalan-jalan selama bukan giliran kita berpikir. Oya, sudah tahu ‘kan kalau tiap pertandingan resmi kita menggunakan jam catur untuk mengukur jatah waktu masing-masing pemain? Bentuknya seperti ini.

Jam Catur Manual
Jam Catur Jerger, kalau sekarang sudah banyak berganti ke digital. Sumber: armansyahputra.blogspot.com

Nah, saat saya jalan-jalan, beberapa rekan senior memuji langkah kombinasi saya. Saya pun besar kepala, senang tak terkira.

Ketika kembali ke meja, Herwati sudah menjalankan langkah balasannya. Dan saya, lantas membalas dengan langkah blunder.

Blunder. Alias salah besar.

Langkah kombinasi saya tidak salah, apabila langkah terusannya benar. Namun entah seperti tersirap, saya malah memilih alternatif yang keliru.

Habislah nasib saya.

Nggak heran ‘kan, begitu selesai menumbangkan Raja pertanda saya menyerah, saya langsung lari ke teman-teman kost yang setia menunggu, dan menangis.

Iya, saya memang cengeng.

Dan kekalahan seperti itu pahit banget buat saya. Kemenangan seperti sudah nyaris terpetik, tapi entah tangan saya jatuh lemas dan malah tertusuk jarum. Belum ditambah kondisi mental saya yang masih lemah karena kehilangan bapak. Seperti itulah.

Untung saya punya teman-teman yang baik. Beramai-ramai kami mengitari Jogja malam itu. Saya dibonceng satu teman, dan agaknya dia paham akan kesedihan saya. Di satu titik, dia memberi tanda agar teman-teman yang lain meninggalkan kami berdua. Dan kami berdua meneruskan perjalanan menelusuri jalanan Jogja yang remang-remang, sampai air mata saya mengering.

Saya nggak berhasil masuk tiga besar di Kejurnas Catur Mahasiswa tahun itu. Lagian, saya masih terhitung yunior pula.

*****

Tahun itu, saya masih tercatat sebagai tim Jawa Tengah. Saya kembali ikut Kejurnas yang bertempat di Ujung Pandang. Kali kedua saya naik kapal. Masih kelas ekonomi, tapi saya sudah lebih berpengalaman. Jadi, saya nggak lupa bawa sendok garpu karena meskipun tiket kelas ekonomi sudah termasuk makan tiga kali, tapi tidak termasuk sendok garpu.

Saya masih termasuk Kelas Yunior Wanita, dan kembali menjadi juara 3. (Saya lupa sepertinya tahun itu sudah terbagi lagi menjadi Yunior Wanita A dan B sesuai usia.)

Seperti biasa, buat kami yang masih berjiwa kanak-kanak, setiap Kejurnas yang dinanti adalah acara jalan-jalannya. Kami sempat ke Bantimurung, ke Benteng Rotterdam, dan pastinya menikmati pisang epe berlatar belakang senja di Pantai Losari.

Kejurnas Catur Ujungpandang 1991
Saat bertanding, jadi lawan. Saat rehat, jadi teman main. Bantimurung, 1991.

Seingat saya, saya begitu menikmati hari-hari. Kecuali tentu, ibu saya yang semakin cerewet karena saya semakin gila catur. Kuliah meski belum terbengkalai, namun ya gitu-gitu aja. Nggak pernah mencapai IPK 3. Nggak masalah sih buat saya, bukankah target saya sekedar nggak kena DO di tahun kedua?

Kegiatan di UKM Catur pun semakin intens. Tentu kecakapan saya masih mentah dibanding para senior yang telah malang melintang di dunia percaturan. Saya hanya bisa terkagum-kagum melihat kecakapan mereka melangkahkan bidak dengan langkah taktis nan gemilang.

Seorang senior pernah mengomentari gaya permainan saya. “Kamu itu aneh, gaya bermainmu menyerang, namun opening pilihanmu Caro-Kann yang bertahan.”

Saya sih hanya tertawa. Bagi saya, yang penting saya enjoy aja mainnya. Saya memang cenderung bertahan, sabar menanti celah sampai tiba saat yang tepat untuk mengobrak-abrik kerajaan lawan.

*****

Di tahun 1992, saya memutuskan pindah untuk membela Kontingen DIY. Daripada bolak-balik ke Jawa Tengah untuk seleksi, mending sekalian aja pindah ke DIY.

Dan tahun 1992 adalah tahun pertama saya bertanding di Kelas Senior Wanita.

Kejurnas Catur 1992 diadakan di Jakarta, mengambil tempat di Wisma Haji Ciputat. Yang saya ingat, kami Kontingen DIY berangkat naik mobil (L300 atau Colt, entahlah, pokoke jangan bayangin mobil ala limusin gitu).

Ya yang namanya kami dari kota kecil, begitu masuk tol Jakarta langsung bingung ini keluarnya di mana. Kocaknya supir kami langsung banting setir putar balik di tengah jalan tol. Waktu itu jalan tol masih sederhana, nggak kayak sekarang yang ada pembatas jalan nan megah.

Tentu saja, saat mobil mau keluar tol, di pintu tol kena marah sama petugas karena tiket tol kami menunjukkan kami nggak berhak keluar lewat pintu itu (jelas ya karena putar balik sembarangan itu).

Terpaksa supir memundurkan lagi mobil dibantu petugas dan putar balik lagi, mencari pintu keluar yang seharusnya.

Dengan seribu perjuangan, sampai deh di Wisma Haji Ciputat.

Wisma Haji Ciputat ini ternyata serem. Cerita serem di Wisma Haji Ciputat ada di tulisan sebelumnya, percaya nggak percaya sih. Untung saya baru mengalami keseramannya di hari-hari terakhir.

Itung-itung, itu kali ketiga saya ikut Kejurnas. Sudah mulai banyak teman. Dan selalu nambah teman baru.

Kejurnas Catur Jakarta 1992 - Wisma Haji Ciputat
Meski pagi lelah bertanding, malam cari hiburannya ya main catur lagi.

Saya bermain dengan lepas.

Ada satu partai yang sampai sekarang masih membekas. Saat itu baik saya maupun lawan, sama-sama kehabisan waktu. Kami melangkah dengan berpikir secepat kilat. Sepersekian detik adalah waktu yang sangat berharga.

Dan di tengah gerak tangan kami memindahkan bidak disambung dengan menekan tombol jam catur, saya merasakan keheningan yang aneh.

FYI, petilan ini sebenarnya saya ceritakan di novel kolaborasi “Puing” (2005).

Jadi begitulah, saya merasa mengambang di satu dimensi lain. Tidak ada suara yang terdengar. Alam membisu, membeku. Saya seperti melayang, menggerakkan buah catur dan menekan tombol jam catur serasa slow motion, padahal kenyataannya kami kayak orang kesetanan.

Benar-benar hening. Padahal penonton di sekitar meja kami begitu antusias dan tak lepas dari jerit kecil geregetan dan komentar apa aja.

Tapi semua itu serasa jauh dari saya.

Pengalaman yang bagi saya serasa mistis itu berakhir ketika saya menengok jam catur dan menyadari bendera jam saya sudah jatuh. Bendera jatuh ini istilah untuk habisnya waktu seorang pemain, dalam hal ini saya.

Jika bendera jam sampai jatuh, berarti saya kalah. Saya langsung lemas dong.

Eh terus saya lirik jam lawan saya, benderanya jatuh juga. Berarti? Dalam hal ini, apabila tidak bisa dipastikan bendera siapa yang jatuh duluan, maka diputuskan hasil permainan adalah remis alias draw. Masing-masing pemain mendapat VP (Victory Point) 1/2.

Bukan hanya partai itu yang berkesan buat saya. Ada satu partai di mana saya kembali melawan Herwati (yang bikin saya nangis karena kalah di Kejuaraan Catur Mahasiswa), dan saya kalah lagi. FYI dengan pemain satu ini, saya selalu kalah, nggak pernah bisa mencetak poin. Mungkin saya kena kutukan.

Yang paling berkesan pastinya partai di mana saya menang dengan gemilang, lagi-lagi dengan kombinasi. Partai ini yang mengantarkan saya menjadi juara nasional.

Nggak cuma gelar juara sih, namun juga serenteng drama menghampiri besertanya.

Apa saja drama yang saya alami? Akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.