Perjalanan Tanpa Henti

by on

 

Sejak umur belasan saya sudah terbiasa bepergian. Awalnya semacam ritual akhir pekan, saya dan ibu mengunjungi Budhe di Salatiga, satu jam perjalanan dari kota saya, Semarang. Karena bapak belum tentu bisa mengantar, saya terbiasa naik bis umum atau travel. Terkadang naik bis ekonomi tanpa AC, terkadang naik bis Patas yang nyaman dan ber-AC.

Lalu, karena saya sempat menjadi atlet, tepatnya pecatur, saya sering bepergian untuk mengikuti turnamen sana-sini. Kota-kota kecil di Pulau Jawa silih berganti saya kunjungi. Dari sana, saya tahu betapa setiap tempat memiliki keindahan sendiri. Selalu ada cerita terlahir di setiap kota.

Menginjak masa kuliah, jajahan saya meluas menjadi antar provinsi. Lagi-lagi, karena sebagai pecatur kami punya event nasional yaitu Kejuaraan Nasional setahun sekali, lumayan setahun sekali saya menginjak berbagai ibukota provinsi tuan rumah Kejurnas itu.

Belakangan, setelah dipaksa teman untuk punya paspor, akhirnya saya jadi merasakan bepergian ke tempat di mana bahasa yang dipakai beda jauh dengan bahasa di kampung halaman. Beramai-ramai, berdua, atau bersendiri, semua saya nikmati.

Cerita perjalanan saya bukan apa-apanya cerita berbagai pejalan tangguh seperti Agustinus Wibowo, Dina si Dua Ransel, Marischka Prudence, dan seribu nama selebritas di dunia jalan-jalan.

Cerita perjalanan saya juga nggak bisa dibandingkan banyak teman saya, yang karena perjalanan bisnis mampu memenuhi paspornya dengan cap berbagai negara.

Tapi saya masih jauh lebih beruntung ketimbang kakak perempuan saya, yang baru merasakan berlibur ke Bali tahun 2012.

Saya juga masih jauh lebih beruntung dibandingkan banyak orang yang untuk makan sehari-hari saja musti hemat sana-sini.

Perjalanan, akhirnya bagi saya, bukanlah sekedar pergi ke tempat asing lalu foto-foto, update status di sosial media, berbangga mendeklarasikan: “Ini lho saya sudah sampai di sini!”

Perjalanan, bagi saya lebih merupakan kesempatan untuk belajar lebih banyak di kampus yang berbeda. Melihat keseharian penduduk lokal, merasakan angkutan publik berbagai negara, makan di warung pinggir jalan, leyeh-leyeh di lapangan rumput sambil melihat bagaimana masyarakat kota itu melewatkan sorenya.

Dan setelah satu perjalanan usai, sesungguhnya satu kesadaran muncul bahwa yang namanya perjalanan tidak akan pernah terhenti. Ia hanya terbedakan oleh labelnya, entah itu liburan, sales trip, pulang kampung, atau label yang lebih keren: adventuring, weekend escape, dan semuanya tersambung dalam satu perjalanan: perjalanan hidup.

Karena ketika saya mengetik artikel ini pun, saya sedang tiba dalam satu titik perjalanan hidup saya, yang mendamparkan saya pada lautan inspirasi dan memulai blog ini. Esok, siapa tahu saya belajar dari tukang parkir di Pantai Balangan yang rencananya akan saya sambangi untuk melepaskan kangen pada matahari senja. Senin, perjalanan saya akan menjadi rutin sampai Jumat, dengan dominasi tapak-tapak pekerjaan.

Karena hidup adalah perjalanan tiada henti.

 

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.