Awal Perkenalan Saya dengan Dunia Catur, Dunia 8×8 yang Penuh Keajaiban

by on

 

Kemarin, satu pesan mendarat di hape saya. Dari nomor tak dikenal. Cuma bertanya, “Ini benar nomornya mbak mbayik?” Dari profile picture-nya, dan dari sapaan yang dia gunakan, saya rasa dia anak catur kampus lama. Entah dari mana dia dapatkan nomor saya. Mungkin dari grup whatsapp yang sudah saya tinggalkan.

Eniwei, bukan dia yang ingin saya bahas di sini. Namun kenangan yang seketika meruyak begitu terkena satu sentuhan kata: catur.

Saya sempat menulis sepotong-sepotong tentang dunia catur yang dulu lama saya geluti. Tentang pengalaman sebagai penumpang kelas ekonomi. Tentang krisis waktu yang sering saya alami. Dan tentang perjalanan ke Bali di tahun 1994 yang membuat saya jatuh cinta pada Pulau Dewata ini.

Kali ini, saya mau cerita lebih lengkap meskipun beberapa detil sudah terlupa karena sampai sudah lebih dari 15 tahun saya meninggalkan dunia itu.

*****

Saya mengenal catur sedari kecil. Masih duduk di TK, sepertinya. Mungkin karena sering melihat bapak dan kakak-kakak main catur.

Awalnya saya nggak kenal langkah bidak catur itu cem mana. Saya malah main perang-perangan dengan memakai buah catur sebagai serdadu saya.

Kakak ketiga yang menjadi guru saya. Diajarinya saya mengenal bidak catur satu persatu. Mengenal aturan yang berlaku. Bagaimana Kuda, Benteng, Menteri, Pion dan lain-lainnya melangkah.

Setelah saya mulai bisa mengalahkan kakak, saya mulai mencari lawan di lingkungan sekitar. Bayangkanlah, seorang anak SD pulang sekolah bergegas berganti kaos dan menenteng papan catur, lalu keliling ke tetangga satu RT/RW untuk menantang siapa tahu ada yang mau menjadi lawan tanding saya.

Tentu saja saya banyak kalahnya. Tapi saya nggak kapok. Terus saja keliling kampung demi bisa bermain catur.

Pertandingan tujuhbelasan pun saya ikuti. Bisa ditebak, di tahun ’80an, peserta pertandingan catur pastilah kaum lelaki. Cuma saya satu-satunya peserta perempuan. Kalah pula di babak pertama.

Di Sekolah Dasar, saya mengalami pengalaman diskriminasi pertama kalinya. Saya ingin banget jadi peserta lomba catur di class meeting tahunan. Tapi saya tidak diperkenankan ikut, dengan alasan catur hanya untuk lelaki.

Untungnya orang tua saya mendukung hobi saya. Mereka cari tahu adakah klub catur di kota kami.

Jadilah, di kelas 4 SD, saya bergabung dengan klub catur “Ratu”, yang saat itu merupakan salah satu klub catur terkuat di Semarang.

Saya anggota termuda, dan satu-satunya perempuan.

Kami berlatih setiap Rabu dan Sabtu malam. Bapak dengan setia mengantar dan menjemput saya. Selama di klub, tentu saya sendirian. Mungkin itu yang membuat saya jadi cepat akrab dengan om-om, eh, dengan strangers.

“Latihan” yang saya maksud di sini bukanlah latihan dengan kurikulum pasti. Intinya kami hanya berkumpul di rumah Om Feng An (kalau tidak salah ingat ya, beliau founder Klub Ratu Semarang), mencari lawan tanding, atau kalau nggak ketemu lawan tanding ya harus puas menyaksikan permainan anggota lain. Seusai permainan, kami menganalisa setiap langkah. Begitu cara latihannya.

Saya tentu saja jadi anggota paling pecundang, awalnya. Terkadang menang sih. Nggak tahu dikasih menang atau menang beneran. Soalnya saya pernah ngompol tanpa sadar, saking tertekannya saat posisi sudah kalah.

Saya rutin datang setiap Rabu dan Sabtu malam. Tapi lama-lama, kok bosan ya? Saya tidak pernah diikutkan dalam pertandingan. Mungkin juga karena saat itu pertandingan catur terbuka umumnya tidak membedakan kelas pria atau wanita.

Bosan, saya keluar. Tetap main catur sih, tapi sebatas main buat senang-senang aja, di sekolah atau di kampung.

*****

Beberapa tahun berlalu, suatu siang ada tamu datang tak diundang.

Kabarnya si om itu sedang mencari pecatur muda berbakat, dan ada yang merekomendasikan saya. Ketika kami bertemu, yaelah, ternyata Om Feng An, founder Klub Ratu yang sudah saya tinggalkan. Beliau mengajak saya kembali bergabung, kali ini dengan janji bahwa saya akan mulai diikutkan bertanding.

Saya sempat ikutan pertandingan catur simultan dengan GM Taimanov dari Rusia yang kala itu bertandang ke Semarang. Grogi karena bertanding di depan banyak penonton, saya kalah hanya dalam hitungan berapa langkah. Partai Mini, kalau orang-orang bilang.

Singkat cerita, akhirnya saya ikut seleksi tingkat kota untuk mencari wakil Kota Semarang di Kejurda (Kejuaraan Catur Daerah). Peserta wanita hanya beberapa, dan saya juara pertama. Otomatis, saya maju ke Kejurda.

Saya masih ingat siang itu, tatkala saya pulang dari rumah Pak Sulolipu (pengurus Percasi Semarang) di daerah Lemah Gempal tempat seleksi diadakan.

Sendiri, turun dari angkot, saya lari menyusuri gang sepi karena saat itu beneran siang bolong. Sandal saya yang memang sudah longgar, akhirnya saya copot agar tidak memberatkan lari saya. Saya sudah nggak sabar memberitahukan pada ayah, ibu, kakak dan semuanya, bahwa akhirnya saya bisa jadi juara! Dan saya akan ikut kejurda! Dan saya membawa uang Rp. 75,000 sebagai hadiah sang juara!

Norak sih kalau saya ingat sekarang. Ya gampang jadi juara, wong peserta kelas wanita gak ada lima orang.

Etapi, uang Rp. 75,000 di tahun ’87 sangat besar nilainya lho. Kata Bapak, itu setara dengan gaji pertama dia.

Kejurda pertama saya ikuti, di Cilacap. Saat itu hanya ada dua kelas: Pria & Wanita. Masih belum dipecah antara Senior dan Yunior.

Itu pengalaman pertama saya traveling sendirian. Maksudnya, nggak bersama keluarga.

Saya nggak menjadi juara pertama, tapi saya termasuk yang lolos ke Kejurnas (Kejuaraan Nasional) yang diadakan di Salatiga. Namanya tuan rumah, pasti dapat kuota peserta terbanyak.

Itu Kejurnas pertama yang saya ikuti. Di tahun 1988. Sebagai peserta yang baru pertama kali itu ikut Kejurnas, bisa dimaklumi kalau agak norak.

Serasa bermimpi, bisa melihat dan bertemu para pecatur kondang dari seluruh Indonesia.

Bisa bercanda bersama mereka. Berbagi cerita. Merasakan keakraban, meski baru kenal. Dan merasakan ketakutan bersama, karena Wisma Kaloka yang jadi tempat Kejurnas, benar-benar angker dan seram.

Saya langsung semakin cinta dengan dunia catur, meskipun saya nggak mencetak prestasi apa-apa di ajang ini.

Yang saya ingat dari Kejurnas 1990 ini, selain Wisma Kaloka yang angker, adalah pesta penutupan yang meriah. Kalau dibandingkan dengan jaman sekarang, kerasa banget sih jadulnya. Persembahan kami, kontingen Jawa Tengah, adalah satu lagu Chrisye yang diubah syairnya menjadi ala ala catur. Dan di akhir acara, kami bernyanyi lagu Kemesraan yang saat itu terasa mengharukan sekali.

*****

Seusai Kejurnas, saya semakin berlatih dengan giat. Apalagi orang tua mendukung. Kalau siswa SMA yang lain les Bahasa Inggris atau Matematika, saya les privat catur. Seminggu dua kali. Sekali pertemuan minimal 2 jam.

Saya mulai berkenalan dengan buku-buku catur terbitan luar negeri. Tahun segitu belum ada internet ya. Dan buku impor pastilah mahal harganya (selain susah dicarinya). Kami para atlet terbiasa dengan buku fotokopian yang dijilid rapi hingga menyerupai aslinya. Maafkan kami ya, menikmati karya bajakan (dengan sangat amat terpaksa).

Kalau ada yang nanya, selama les catur, ngapain? Ya belajar.

Permainan catur itu sendiri terbagi jadi tiga babak: pembukaan (opening), babak tengah (middle) dan babak akhir (ending).

Pecatur sendiri biasa dibagi menjadi dua karakter: menyerang, atau bertahan.

Selama les privat, saya digembleng untuk memahami opening, memilih mana yang pas dengan karakter saya, dan mendalaminya karena menghapal saja tidak cukup.

Saya rasa, guru les privat saya ini, Mas Priyo, membuka mata saya sehingga saya tahu hidup nggak hanya yang saya dan teman-teman jalani setiap hari.

Sesekali, saya dibawa oleh Mas Priyo ke tempat rekan-rekannya sesama pecatur berkumpul. Di lapangan kota, di bawah pohon, bahkan di gudang tak bertuan di kawasan Kota Tua Semarang.

Saya mulai ikut turnamen terbuka, yang nggak ada kelas khusus wanita. Jadi lawan saya ya para peserta pria. Belum pernah jadi juara sih, tapi semakin sering ikut turnamen, semakin terlatih otak, mental dan intuisi saya.

Di sekolah, saya jadi andalan pendulang emas setiap class meeting. Juara catur pastilah saya. #shombong

Kalau saya ingat-ingat sekarang, sekolah saya ya gitu-gitu aja, saya lebih menikmati main catur. Bahkan pernah, saya “dimusuhi” guru Bahasa Indonesia. Ceritanya, saya ditunjuk mewakili sekolah saya untuk cerdas cermat Bahasa Indonesia atau apalah itu. Ternyata pada saat yang bersamaan, ada Kejurda di Purwodadi. Saya jelas memilih Kejurda, dan terlambat datang ke lomba Bahasa Indonesia itu. Maafkan saya, ya, Bu.

*****

Saya punya kebiasaan unik saat itu. Saya punya teman akrab, Dian Kharisma Putra namanya. Dia pecatur pria yang usianya di bawah saya. Kayak adek-lah jadinya. Dia sering main ke rumah dan sudah selayaknya keluarga.

Kami berdua senang main ke rumah Pak Hernowo. Beliau wasit catur tingkat nasional yang sudah sepuh alias berumur. Kalau nggak salah, pensiunan hakim atau pengacara gitu.

Dari segi umur, jelas umur kami terpisah jauh. Tapi saya dan Dian nggak pernah bosan main ke rumah beliau, meski untuk mencapai rumahnya di perbukitan, kami harus naik jalan tangga tinggi tinggi sekali.

Kami tak pernah bosan mendengar cerita Pak Hernowo tentang dunia catur yang puluhan tahun digelutinya. Sebagai anak muda, saya merasa mendapat guru kehidupan. Satu pelajaran sederhana dari beliau adalah tentang tepat waktu. Lebih baik datang lebih awal dan menunggu, daripada terlambat dan membuat orang lain menunggu kita.

Setelah Kejurnas 1988 di Salatiga, tiba waktunya saya mengikuti Kejurnas 1990 di Banjarmasin. (Tahun 1989, Kejurnas absen, saya lupa apa alasannya tidak diadakan tahun itu.)

Kejurnas 1990 adalah perjalanan saya pertama kali ke luar pulau. Naik kapal. Kelas Ekonomi. “Penderitaan” penumpang Kelas Ekonomi bisa dibaca di tulisan saya jauh sebelum ini. Yah, nggak beda jauh deh dengan pengalaman Jack Dawson di film Titanic, cuma beda kualitas kapalnya aja.

Di tahun 1990, mulai diberlakukan pembagian kelas Senior dan Yunior. Ada Senior Pria, Yunior Pria, Senior Wanita dan Yunior Wanita. Saya masih termasuk Kelas Yunior saat itu, dan berhasil meraih juara 3. (BTW saya kok agak lupa mengenai pembagian kelas senior-yunior ini. Kalau kurang pas cerita saya, mohon diinformasikan ya.)

Saya mulai merasakan betapa manisnya kemenangan dan betapa pahitnya kekalahan. Kalau ada yang bilang, menang kalah itu biasa, bagi saya itu menunjukkan ketidaktotalan seorang pemain. Pemain kok biasa aja kalau kalah, begitu pikir saya.

Yang saya sukai saat itu, menjadi atlet utusan daerah berarti bisa berjalan-jalan ke daerah lain dengan gratis. Pengalaman itu sungguh membuka mata saya. Melihat budaya masyarakat setempat yang jauh berbeda dengan budaya tempat asal saya, membuat saya mengenal apa makna Bhinneka Tunggal Ika.

Kesukaan saya setiap mengunjungi tempat baru kala itu adalah: naik angkot. Hiburan yang murah meriah, bagi saya. Saya nggak perlu ke mana-mana, cukup berdiam di angkot, menikmati pemandangan di luar, mengamati penumpang yang turun naik, mencoba menyerap percakapan di dalam angkot dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti.

Di Banjarmasin, entah gimana saya jadi berteman baik dengan ibu-ibu yang bertugas membersihkan kamar setiap hari di hotel melati tempat kami menginap (kalau sekarang istilahnya housekeeping kali yak). Saking baiknya, si ibu membuatkan kue untuk-untuk khusus buat saya. Untuk-untuk itu semacam roti goreng khas Kalimantan Selatan. Banyak banget. Senang deh!

Oh iya, dulu itu Kejurnas Catur bisa sampai dua minggu lamanya, karena setiap hari hanya main 1 x. Karena itu, ada hari libur di mana panitia menyediakan wisata gratis buat peserta Kejurnas dari luar daerah. Berkah Tuhan banget, ‘kan!

Suzana Widiastuti - Kejurnas Catur 1990
Kalo nggak salah, ini foto pas Kejurnas Banjarmasin, atau pas Kejurnas Salatiga ya?

*****

Tahun 1990, selain menjadi juara ketiga Kejurnas Catur Kelas Yunior Wanita, saya juga diterima di UGM sebagai mahasiswa baru.

Mengapa UGM? Saat itu, saya memilih universitas yang mempunyai UKM Catur yang kuat. (UKM = Unit Kegiatan Mahasiswa.) Pilihannya adalah UI, UGM atau ITB. Kuliah di UI atau ITB, sepertinya mustahil karena saya tahu kemampuan orang tua saya. Akhirnya saya pilih UGM. Fakultas MIPA Jurusan Ilmu Komputer.

Mengapa Ilmu Komputer? Karena jurusan itu tidak ada di Undip Semarang. Jadi, sah alasan saya untuk merantau meskipun cuma ke Yogya yang notabene cuma tiga jam naik bis dari Semarang.

Periode kehidupan saya di Yogyakarta, adalah periode paling naik turun di sejarah hidup saya. Dunia serasa selebar papan catur yang cuma berukuran 8×8.

Dan karena sudah cukup panjang ceritanya, saya sambung saja ya di tulisan berikutnya!

 

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.