Pertemuan Tanpa Rekam Kamera

by on

Samarinda, sekian tahun silam.

Ada acara kantor di Balikpapan, dan daripada hari Sabtu saya pulang ke Bali, saya menyempatkan melewatkan semalam di Samarinda. Misi utama sih mengunjungi Adek, yang lagi manggung di sana. Adek ketemu gede yang dibilang mirip banget sama saya, kerjanya memang jadi penyanyi band, dan berpindah-pindah kota mengikuti tempat manggungnya. Kebetulan, karena dia di Samarinda, dan sudah setahun lebih saya nggak berjumpa dengannya, saya sempatkanlah menempuh perjalanan darat (saya lupa, dua jam, empat jam?) Balikpapan-Samarinda.

Kami melewatkan seharian bersama. Malam hari, saya menyempatkan nongkrong di kafe tempat band Adek bermain. Saya nggak peduli tatapan orang-orang yang melihat saya duduk sendirian. Mata saya cuma terpaku pada panggung, senyum nggak pernah lepas terkulum, menikmati lagu demi lagu, sambil mengingat sekian tahun kami bersahabat, dan terkenang satu perkataan saya setiap mengenang dia di atas panggung: “Kamu begitu hidup saat bernyanyi.”

Hari Minggu kami lewatkan secara sederhana. Makan di warung kesukaan dia, berjalan-jalan di pertokoan mencari printilan untuk hobi dia merangkai asesoris, sampai sore tiba dan taksi menjemput saya untuk mengantarkan saya kembali ke Balikpapan.

Di tengah perjalanan, saya tergugu. Saya baru tersadar bahwa selama 24 jam bersama Adek, nggak sekalipun kami berfoto bersama. Kamera saya penuh dengan aksi panggungnya, tapi tak ada terlintas kami untuk foto berdua sekedar untuk pembuktian bahwa kami pernah berada di Samarinda, bersama-sama.

Bali, 2013.

Kemarin, seorang sahabat berlibur di Bali bersama istrinya. Mereka baru menikah, dan sayang saya nggak cukup punya uang dan waktu untuk terbang mengunjungi mereka.

Kami bertemu di lobby hotel lantas memutuskan melewatkan waktu di sebuah warung kopi. Cerita-cerita yang berkisar pada masa lalu saat kami sama-sama tinggal di Jakarta, seakan nggak ada habisnya. Sampai waktu kami berpisah, karena mereka hendak menikmati matahari terbenam di pantai dan saya sudah ada janji lain bersama teman-teman.

Dan setelah kami berpisah, saya tersadar bahwa kami belum berfoto bersama.

Well, jaman sekarang rasanya tidak sah pertemuan tanpa foto-fotoan. Kenangan itu musti dibekukan, musti diabadikan. No picture = hoax, begitu seloroh yang biasa kita dengar.

Tapi ternyata, keabadian itu nggak musti berwujud nyata. Keabadian itu ada di hati, tersimpan di laci kenangan yang akan terawat baik sehingga tidak terhapus oleh kenangan-kenangan lain yang menyusul bertumpukan.

Pertemuan, nggak selalu harus terekam kamera.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.