Review Film “Tengkorak” (2018)

by on

 

Dua hari lalu saya ditemani pacar akhirnya menonton “Tengkorak” yang sedang tayang di Plaza Senayan XXI. Sebelumnya, judul film ini ramai berseliweran di Facebook grup alumni, dengan berbagai undangan nonbar alias nonton bareng menyertainya. Karena saya anaknya pemalu, saya memilih nonton sendiri saja sama pacar, ketimbang nonton bareng rame-rame.


Begitulah. Di satu malam Senin yang sepi, kami mulai terhanyut oleh cerita film “Tengkorak” yang lumayan bikin mikir. Bertahan karena saya hendak menuntaskan kepenasaran, seperti apa sih film yang mendapat nominasi Best Film untuk kategori Science Fiction, Fantasy dan Thriller dalam Festival Film Cinequest di Sanjose, California, Amerika Serikat.

Disclaimer: Agak-agak mengandung spoiler gapapa ya…. Brace yourself!

Jadi ceritanya, gempa hebat di Jogja tahun 2006 menguak satu misteri yang sebelumnya tersembunyi: sebuah kerangka sepanjang kurang lebih 1,8 km yang diperkirakan berumur 170,000 tahun. Bisa dibayangkan betapa hebohnya masyarakat dan pemerintah ya.

Awal film diwarnai dengan tayangan-tayangan pendek berita dan wawancara di televisi, yang menggambarkan betapa pentingnya penemuan ini.

(Sakjane aku rada bingung nulis review iki, lompat-lompat gitu pikiranku, seperti gaya penceritaan di film Tengkorak yang lompat-lompat bergembira.)

Lalu tiba-tiba diperkenalkanlah tokoh seorang pembunuh bayaran, yang lama kemudian kita tahu namanya adalah Yos. (Aktor pemain karakter ini, Yusron Fuadi, ternyata adalah juga sutradara dan penulis cerita. Ntap nan yo!)

Setelah itu muncul tokoh si Ani, seorang gadis yang magang di BPBT (Balai Penelitian Bukit Tengkorak). 

Dan dari sini, saya rasa cerita agak mengendor. Fokus jadi terpecah antara Mas Yos, Ani, dan penemuan kerangka nan spektakular itu sendiri. Tapi yo gapapalah, masih bisa dimaafkan.

Lanjuttt….

Singkat cerita, ternyata manusia-manusia yang terlibat dalam penelitian, harus dimusnahkan. Alias: dibunuh. Dipateni. (Campur-campur basa Jawa yo ben kayak filmnya.)

Mengapa? Mbuh. FYI aja, karena saya takut melihat darah dan hati saya terlalu lembut untuk menyaksikan kekerasan, setiap ada adegan tembak-tembakan yang berdarah-darah, saya tutup mata.

Pokoke nonton dan enjoy aja, melihat Ani yang seharusnya terbunuh mati, diselamatkan oleh Mas Yos yang malah membunuh si Mila (yang seharusnya membunuh Ani), dengan alasan: “Soale tampangnya Mila iku nggapleki.” (Nggapleki = nyebelin.)

Eka Nusa Pertiwi in Skull (2018)

Berkelanalah si Ani dan Mas Yos, mencari perlindungan dan keselamatan, dan ternyata si Ani ini membawa rahasia penelitian di BPBT yang membuatnya diburu-buru oleh … pihak pemerintah? Mbuh, saya agak blank soal ini.

Jadi ya gitu aja gaes, biar nggak spoiler-spoiler amat, tontonlah.

Dan simpulan dari saya, film ini punya potensi jadi bagus, tapi beberapa detil kurang terekspos sehingga membuatnya mengambang. (Tapi ya nggak tahu, mungkin memang begitulah gaya sang sutradara?)

Misalnya soal penelitian itu sendiri. Hanya diceritakan sekilas. Ani pun hanya digambarkan sebagai gadis tukang kopi buat sang profesor. Saat ending cerita, Ani mencoba meyakinkan pemerintah bahwa Bukit Tengkorak jangan sampai dihancurkan, bahasa yang digunakan normatif sekali.

Mbokyao kayak film-film sci-fi pada umumnya, ngarang teori big bang bang tut kek atau teori yang membuat orang manggut-manggut, daripada hanya menuturkan bahwa iya ini logis, wah benar juga ya, oiya sepertinya begitu adanya (semacam itu ya, saya sudah lupa persisnya kata-katanya gimana).

Tapi ya harap maklum gaes, film indie ini tetap harus diapresiasi dengan baik. Diacungi jempol. Dengan segala keterbatasan dana (total biaya film konon bisa mencapai Rp. 12 M – kalau semua pemain dan kru dibayar), Yusron Fuadi mampu menyuguhkan tontonan yang menyegarkan. 

Skull (2018)

Ide cerita, menurut saya, mantap sekali.

Penyajian gambar, oke juga meski ada yang bilang itu memusingkan, tapi saya suka setiap scene yang diambil oleh kamera drone dan menyajikan pemandangan sawah yang ijo royo royo.

Aktor dan aktris yang terlibat, menurut saya, boleh bangetlah, apalagi Mas Yos yang kocak dan nggapleki. 

Kurangnya ya di detail penceritaan dan fokus yang suka nggak fokus (halah piye to).

Kalau saya yang bikin film nih ya (Mas Yusron jangan marah ya!), saya fokus pada si tengkorak. Nggak usah bikin konflik dengan pemerintah apalagi PBB. Bikin konflik aja antara si tengkorak dengan masyarakat sekitar. Masa’ iya sih, setelah kerangka ditemukan, nggak ada kejadian-kejadian aneh yang dialami oleh masyarakat? Si tengkorak nggak terganggu apa sama tingkah polahnya BPBT? Pasti dalam melakukan penelitian, mereka mencongkel apalah, menggali apalah, bikin sinyal-sinyal apalah, yang mengusik tengkorak dan mengajaknya untuk berkomunikasi dengan masyarakat bumi.

Trus itu penelitian bisalah ditampilkan secara lebih serius. Apa sih yang sebenarnya diteliti? Kandungan yang ada di tulang belulang itu? Efek samping terhadap kesuburan tanah? Mau cari tahu siapa sebenarnya jati diri si kerangka? Referensi apa saja yang digunakan? Rujukan pada kitab-kitab agama?

Banyak sih pertanyaan yang tersisa di benak saya, tapi ya daripada saya tersiksa, lebih baik saya terima film ini sebagai mana adanya. Ending mengingatkan saya pada kebangkitan Ragnarok, mungkin keren juga ya kalau dibikin kayak Ragnarok versi Indonesia.

Buat yang belum nonton, silakan tonton ya, dukung film buatan Indonesia yang berniat baik memberikan sesuatu yang lain secara sci-fi, bukan hanya sebatas soal generasi micin dan kelakuannya.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.