Di Santa Fe, Saya Merasa Entah

by on

Kemarin, seusai makan malam dengan dua orang teman, saya bikin janji dadakan dengan teman lama yang sedang berkunjung ke Bali. Berhubung Sabtu pagi dia sudah pulang ke kotanya, saya pun meluangkan waktu menjemput dia di hotel untuk kemudian menuju Santa Fe di bilangan Dhyanapura. Sempat terbersit untuk memilih Center Stage di Hard Rock, tapi sudahlah, Santa Fe sepertinya lebih cocok untuk merayakan pertemuan singkat dengan teman lama.

Santa Fe, sebagaimana banyak tempat lainnya di Bali, adalah tempat nongkrong yang akrab bagi kami terlebih saat teman saya tinggal di Bali sampai tahun 2006. Belakangan saya sudah jarang menyambangi tempat itu, jadi nggak hapal musik apa yang akan disajikan saat Jumat malam.

Ternyata kami nggak salah pilih. Band yang saya nggak tahu namanya itu, mengumandangkan “Comfortably Numb” milik Pink Floyd ketika kami masuk dan langsung memesan minuman kesukaan kami: Beng Beng. (Ya, itu signature Santa Fe jaman dulu, bayangkanlah Tequila Sunrise dan gantikan tequila dengan arak Bali. Seperti itulah.)

Satu demi satu lagu balada rock berkumandang.

Tempat ini nggak lagi serame dulu. Hanya separuh meja terisi. Ya bisa dimaklumi, semakin banyak tempat hiburan yang buka di Bali. Saya rasa hanya pecinta live music khususnya rock seperti saya yang memilih nongkrong di tempat seperti Santa Fe. Beda dengan dahulu masa kejayaannya, semua jenis manusia entah itu lokal maupun orang asing, tumplek blek sampai bela-belain berdiri demi bisa menikmati musik dan suasana.

Saya dan teman mulai bertukar kenangan saat kami masih jadi pengunjung tetap kafe ini. Saat kami bela-belain setiap Kamis malam datang meskipun menerobos hujan, hanya karena kami suka band yang manggung saat itu. Jadi groupies, ceritanya. Tapi anehnya, meskipun kami ngefans, kami malah nggak akrab sama band itu. Kami datang murni untuk menikmati musiknya yang campur-campur ala Top 40.

Ada banyak cerita yang tersimpan rapi sebagai kenangan, dan kemarin satu-satu muncul kembali menerbitkan senyum. Teman-teman yang dulu akrab menemani saya, sekarang sudah berpencar, ada yang hilang kontak, ada yang masih berkomunikasi lewat media sosial. Penyanyi yang dulu sempat saya gandrungi, entah sekarang ada di mana. Dan pemilik awal Santa Fe yang akrab dipanggil sebagai Superman, juga entah di mana.

Tiba-tiba saya merasa… entah.

Ada jarak yang panjang antara kenangan dengan masa sekarang. Saya pernah berucap, “Memories are better serve cold.” Karena ketika dingin, kita nggak akan lagi terluka oleh pedas ataupun pahitnya. Kita hanya memandang kenangan sebagai satu paparan cerita dan komentar yang diperlukan adalah “Oh” dan tanpa perdebatan panjang lebar.

Segala sesuatu ada waktunya. Ada masanya. Santa Fe, bagi saya tetap satu tempat di mana saya menemukan rumah – meskipun sekarang nggak ada satupun waiter/waitress yang saya kenal. Tempat yang sederhana, bukan tempat mewah ala borjuis yang mementingkan penampakan daripada isi. Santa Fe definitely is not a place to see and to be seen. It’s a home.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.