Saya dan Hujan

by on

 

Ini sudah pertengahan Juli dan hujan masih saja turun, deras dari awal pagi.

Saya dulu pecinta hujan. Pulang sekolah, saya nggak peduli hujan turun deras. Melewati orang-orang yang berteduh di halte, mereka pasti geli melihat saya yang santai berjalan tanpa payung, sementara saya juga geli melihat mereka yang sama hujan aja kok takut.

Waktu kost di Jogja, saya sering sengaja berhujan-hujan. Berjalan keliling kompleks, menikmati deraan tiap titik hujan, sampai puas dan kembali ke kamar kost yang hangat.¬†Saya pernah bertemu dengan seorang pelancong di bis kota. Kami bertukar cerita. Ketika saya memaparkan kecintaan saya pada hujan, dia berkomentar, “Sepertinya, ada sesuatu dalam dirimu yang perlu dibersihkan.”

Mungkin juga. Ada satu kerinduan yang nggak terkatakan, yang cuma butuh basuhan langsung dari Semesta, dan titik-titik air yang jatuh itu seperti penyadaran bahwa “Aku ada.”.

Terlintas juga satu momen saat hujan turun, butiran air jatuh segede biji jagung, tapi anehnya renggang jatuhnya, sehingga saya mencandai hujan agar diri saya nggak basah terkena air satu titik pun. Saya meloncat-loncat sedemikian rupa, dan cukup berhasil sepanjang beberapa meter, sampai hujan menderas dan air turun rapat tanpa jeda.

Sekarang, hujan cukup saya nikmati dari balik jendela dengan secangkir kopi.

Tanpa merutuki turunnya, karena Semesta punya rencana. Hujan maupun panas, semua adalah berkat.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.