Selalu Menyenangkan, Apabila “Diingat” oleh Seseorang

by on

 

Secarik undangan yang dikirim JNE semalam tiba di tangan saya. (Sebenarnya sih sudah sedari siang, tapi karena saya beredar kesana-sini, jadinya undangannya baru sampai di tangan jelang tengah malam.)

Melihat undangan sederhana tapi nggaya itu, senyum saya terkembang nggak henti-hentinya.

Yang menikah adalah teman saya. Dan saya turut berbahagia atas kebahagiaan mereka.

Sepertinya saya nggak akan bisa menghadiri acara pernikahan mereka. Ngirit budget, cyiin. Dan saya yakin teman saya juga paham akan ketidakhadiran saya. Namun, tetap mengirimkan undangan meskipun saya tidak akan hadir, meskipun kami sudah berlainan pulau, meskipun intensitas perkawanan kami jauh menurun dibanding ketika kami sama-sama tinggal di Jakarta, itu yang membuat saya tersenyum tiada henti.

Memang, selalu terasa menyenangkan bila kita ‘diingat’ oleh.. oleh siapa saja. Teman, sahabat (ya kalau sahabat mah nggak akan mungkin melupakan kita), kenalan, teman sekantor, boss, partner bisnis, saudara jauh, bahkan oleh siapa saja yang sempat bersirobok jumpa di perjalanan kita.

Diingat dalam rangka apa saja. Dari yang remeh temeh seperti ucapan selamat pagi, pertanyaan sudah makan atau belum, ucapan selamat ulang tahun, selamat berhari jadi, apalagi kalau diingat alias tidak dilupakan dalam hal kenaikan gaji. (Kidding.)

Sebaliknya, juga menyenangkan apabila mereka juga tidak kita lupakan.

Saya sendiri baru tersadar belakangan bahwa saya sempat melupakan teman-teman saya, karena kesibukan kerja yang nggak ada hentinya.

Saya mencoba meluangkan waktu sejenak. Secara acak mengambil nomor-nomor yang tersimpan di hape, dan menelepon mereka sekedar untuk berucap salam. Atau menyemangati mereka yang sedang dalam kesusahan.

Siapa tahu, besok saya sudah tidak sempat lagi menyapa mereka.

 

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.