Selamat Ulang Tahun, Ibu

by on

 

Selamat ulang tahun, Ibu.

Dua hari yang lalu Ibu saya ulang tahun. Pagi-pagi kakak sudah mengirimkan pesan, mengingatkan bahwa Ibu berulangtahun. Ah, tidak mungkin saya lupakan tanggal yang bersejarah itu.

Agak siang, saya menelepon Ibu. Mengucapkan selamat ulang tahun, semoga tetap terberkati di usianya yang ke-79, bertanya bagaimana kabarnya, bagaimana kabar para ponakan yang tinggal bersamanya. Ibu bertanya saya ada di mana. Saya bilang ada di kantor. Dan beliau tidak memperpanjang percakapan. Agaknya beliau segan menyita banyak waktu saya.

Ibu selalu begitu. Beliau tidak seperti kebanyakan ibu yang lain.

Dari Ibu, saya belajar untuk demokratis. Untuk selalu berbagi. Mendahulukan kepentingan orang lain. Belajar rendah hati.

Bukan berarti hubungan saya dengan Ibu selalu harmonis. Ada kurun waktu di mana kami selalu salah paham. Beliau tidak memahami kecintaan saya pada catur, dan saya terlalu muda untuk mencari jalan tengah, sehingga yang terjadi adalah pertengkaran. Dan hasilnya sama-sama tidak menyenangkan kedua belah pihak: karir catur saya hancur, kuliah pun tidak sampai tamat.

Namun itu yang bikin saya tambah kagum pada Ibu. Banyak orang bilang, orang tua susah untuk berubah. Mereka pasti berpegangan pada dogma bahwa orang tua lebih kaya pengalaman dari yang muda, maka dari itu orang tua selalu tahu apa yang terbaik bagi yang muda.

Ibu saya beda. Beliau mau dan mampu berubah. Beliau tidak lagi protektif seperti masa-masa pertengkaran kami. Beliau lebih banyak mendengarkan, percaya bahwa saya tahu apa yang saya pilih.

Melihat Ibu berubah, saya pun berubah. Saya tidak lagi se-egois dulu. Saya menjadi lebih memikirkan perasaan Ibu.

Ibu tidak pernah mempermasalahkan mengapa saya tidak menikah sampai sekarang. Beliau tidak pernah cerewet menanyakan saya punya kekasih atau tidak. Pun, beliau tidak pernah mencela mengapa sampai sekarang saya belum punya rumah, atau mobil, hal-hal yang menjadi standard kesuksesan bagi kebanyakan orang.

Yang beliau tekankan hanya satu: “Kalau kamu bahagia, Ibu bahagia.”

Dan saya bahagia dengan cara hidup saya yang sekarang. Saya bahagia punya Ibu yang istimewa.

Saya yakin, Ibu saya juga bahagia.

You may also like

1 Comment

Leave a Comment

Your email address will not be published.