Spontanitas dan Memungut Sampah Yang Terbuang Tidak Pada Tempatnya

by on

Kapan hari baca posting ini di blognya mBak Okke si Sepatu Merah. Moral ceritanya – kalau buat saya ya – adalah: spontanitas itu murni. Dan yang murni itu pasti baik adanya – misalnya: madu murni. Well, terlepas dari adanya spontanitas yang tidak membangun alias merusak, yang saya ingin bagikan di sini adalah spontanitas yang beralaskan niat baik.

Seberapa banyak niat baik kita yang akhirnya terkubur oleh pertanyaan-pertanyaan atau pemikiran-pemikiran yang menyusul segera setelah niat itu terbit? Contohnya ya cerita mBak Okke tentang Mbah Bungkuk ini.

Jadi ingat masa kanak-kanak – sampai remaja. Dulu kalau saya – mudah-mudahan yang lain juga mengalami – mengacungkan tangan untuk bertanya, teman-teman ada saja yang mengernyitkan muka. Sok cari perhatian. Sok pinter. Duh, cerewet banget sih, udah mau jam istirahat nih! Dan bisik-bisik remaja yang akhirnya bikin kapok untuk rajin bertanya.

Nggak sehat banget ya?

Tersentil oleh posting mBak Okke tadi (mBak, saya sebut namanya tiga kali, dapat bonus apa ini?), saya mencoba membangunkan bakat (?) spontanitas saya yang lama terlupakan gara-gara kebanyakan mikir dan kebanyakan berandai-andai tadi.

Kemarin di suatu hari Minggu yang cerah, saya dan teman-teman mengeksplorasi daerah Ubud. Meskipun kami ini berbelas tahun tinggal di Bali, bahkan ada yang anak Bali asli, tetap saja yang namanya tersasar itu tidak terhindarkan. Tetap saja ada tempat yang bagi kami belum pernah kami kunjungi.

Salah satunya Bukit Cinta. Di Campuhan sana. Nama resminya sih Bukit Lebah. Mungkin karena banyak insan muda bercinta di sana, jadilah disebut Bukit Cinta.

Bukit ini hijau banget. Tergelar padang ilalang diselai beberapa pohon cemara atau pakis yang eksotis. Nanti deh, saya kasih link ke blog saya satunya yang memuat foto-foto yang kami ambil, agar kalian mafhum betapa indahnya Bukit Cinta ini.

Nah, selayaknya tempat umum di Indonesia, sampah bertebaran di sana-sini adalah hal biasa. Menyedihkan ya? Kotor kok menjadi satu kelayakan.

Tiba-tiba saya ingin memunguti sampah itu.

Lantas keinginan itu menciut ketika terngiang; “ih, aneh ah keliatannya”, “beh, sok iye banget kelakuannya”, “sok cinta lingkungan sih”. Itu suara entah dari mana terngiang-ngiang gitu.

Lantas saya ingat posting dan komentar saya di blog si embak itu.

Mengapa harus takut? Mengapa harus surut hanya karena males dianggap sok iye?

Jadilah, kebetulan ada yang membuang tas plastik sembarangan, saya pungut dan setiap ada sampah, saya ambil dan masukkan ke dalam tas plastik. Sambil berjalan menikmati hijaunya pemandangan. Sambil berpikir ini orang-orang nggak punya hati apa, tega meracuni hamparan ilalang dengan sampah-sampah plastik atau bungkus Chiki, dan mayoritas tebaran kertas tissue.

Nggak semuanya sih. Mengikuti suara hati saja. Jadi ada beberapa sampah yang terbiarkan, tapi di akhir perjalanan, ada dua tas plastik yang saya dan teman kumpulkan. Lalu kami buang di tempat sampah penduduk sekitar. (Ya ironisnya sih, tempat wisata segede itu nggak punya tempat sampah satupun. Tapi itu bukan alasan ya. Bisa ‘kan sampah itu ditenteng sampai menemukan tempat di mana dia diterima di sisiNya.)

Menyenangkan ya? Nggak peduli dianggap apa oleh anak-anak muda yang ramai nongkrong dan juga berjalan-jalan di sana. Nggak peduli ditatap aneh. Menulikan telinga agar nggak dengar komentar-komentar yang nggak sedap – seandainya ada.

Nggak kapok untuk berbuat spontan! Selama itu positif, pastinya. Hidup spontanitas!

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.