Ulasan: “Telepon Pertama dari Surga” (Mitch Albom, 2013)

by on

Saya penyuka tulisan Mitch Albom sejak “Tuesdays with Morrie”. Buku-bukunya berkisar seputar keyakinan manusia tentang hidup, mati dan apa yang ada di antara dan sesudahnya. Dia bertutur secara sederhana, dan saya penyuka kesederhanaan ini tentu mudah jatuh hati pada tulisannya.

Seperti buku yang satu ini: “The First Phone Call from Heaven” (Indonesia: “Telepon Pertama dari Surga”). Dari judulnya saja kita tahu bahwa itu hil yang mustahal. (Maaf, jadulnya kumat. Itu bahasa ala Asmuni Srimulat untuk hal yang mustahil.) Namun, dari awal kita digiring oleh cerita yang meyakinkan kita bahwa benar kok, orang-orang itu menerima telepon dari surga!

Yang menarik, setiap awal bab atau topik, diselipkan cerita tentang sejarah telepon. Lumayan jadi nambah pengetahuan tentang perteleponan. Tentang Alexander Graham Bell dan perjuangan dia dalam mempatenkan penemuannya itu. Juga tentang istri (dan ibu) si Alexander yang ternyata tunarungu.

Dan apakah arti sebuah panggilan telepon? Ternyata besar sekali artinya, apalagi jika itu panggilan dari orang-orang terkasih. (Dalam cerita ini, ada satu panggilan yang diterima bukan dari orang terdekatnya, namun kita bahas nanti saja.) Ditambah, itu panggilan dari orang-orang yang sudah meninggalkan kita selamanya. Sudah wafat, gitu. Ajaib ‘kan? Sejak kapan provider telpon merambah surga?

Sepintas saya teringat akan film Ghost Town. Yang berkisah tentang hantu-hantu yang masih belum bisa menemukan ‘jalan pulang’. Bukan karena mereka para hantu itu ingin selamanya gentayangan, tapi karena orang-orang mereka masih belum merelakan kepergian mereka. Masih punya ‘unfinished business’. Urusan yang belum selesai.

Dan telepon dari surga itu, membawa dampak yang tak terkira. Bagi si penerima telepon, bagi orang-orang di sekitarnya, dan bagi masyarakat luas – ya, berterimakasihlah pada internet karena satu berita langsung menyebar bagai virus ke seluruh penjuru negeri.

Mitch Albom – seperti biasa – berkisah banyak tentang iman, tentang kepercayaan pada kuasa dan hal-hal yang tak terlihat, namun dia tak lupa untuk menyajikan sudut pandang dari para penentang.

Cerita diakhiri dengan menarik, meski ada satu bagian yang cukup garing kriuk-kriuk menurut saya – nggak bisa saya ceritakan di sini karena jadi spoiler ntar. Satu bagian yang bisa dimaklumi karena ‘keberpihakan’ si penulis pada kaum percaya.

Membaca cerita ini sampai tuntas membuat saya berpikir, kalau saya tiada nanti dan saya entah di surga atau di neraka, akankah saya merindukan orang-orang yang biasa ada di dekat saya? Akankah tersedia telepon bagi saya untuk menghubungi mereka? (Saya sih yakin nggak banyak orang yang akan merindukan saya, lagipula saya nggak mau bikin orang-orang itu bersedih, jadi kalau saya mati ya sudah lupakan saja saya secepatnya.)

Tapi ya pertanyaan-pertanyaan itu cuma bertahan semenit dua, karena setelah saya menaruh kembali buku ini di rak, saya kembali menjadi saya yang realis. Yang ogah berpikir panjang tentang kehidupan setelah mati karena hidup yang sekarang saja belum saya pikirkan dan jalani benar-benar.

 

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.