Cerita Lalu: Tentang Teman Kesayangan

by on

 

Ada beberapa momen bersamanya yang nggak akan terlupa.

Saya masih ingat saat pertama kali berkenalan, saya sudah langsung jatuh sayang. Di balik keceriaannya, di balik senyum lebarnya, ada jiwa ringkih yang ingin disayang-sayang. Begitulah, nggak butuh waktu lama bagi kami untuk dekat.

Spontanitas adalah ciri khasnya, dan menulari saya. “Ke Bogor yuk!” Hayuklah. “Ke Yogya yuk!” padahal belum memasuki masa liburan. Karena itulah, kami mendirikan GAM. Gerakan Anti Mikir.

Suatu saat kami menelusuri Jalan Malioboro. Bergandengan tangan, bernyanyi-nyanyi tanpa peduli dilihat orang. Mampir ke Toko Ramai, dan dia jatuh hati pada sepotong black forest yang langsung kami beli, lantas kami singgah di warung lesehan dan sambil minum jahe anget diiringi hujan gerimis, kami nikmati sepotong black forest itu berdua.

Saat itu kami pulang dari Malioboro naik becak. Selewat Kali Code, melihat toko bunga yang masih buka tengah malam, spontan saya menghentikan tukang becak.

Lari ke toko bunga, membeli setangkai bunga kesukaannya, lalu kembali ke becak mempersembahkan bunga yang saya selalu lupa namanya itu. So sweet ya? Waktu itu sih terasa biasa saja. Saya cuma senang saja melihat senyum lebarnya.

Ketika dia berantem dengan kekasihnya, saya datang sebagai penyelamat.

Iya, waktu itu memang jamannya saya sok heroik banget. Tapi ya gimana, dia cuma mau bertemu saya, bahkan kakaknya pun nggak tahu dia di mana.

Akhirnya kami kembali ke Yogya. Dan dalam satu kesempatan saya, dia dan kekasihnya, duduk di satu taksi mencari tempat aman untuk bicara. Dia menepuk punggung saya. “Nyanyikan lagu ‘Pulang’,” pintanya.

Saya terkesiap. Suara saya nggak bagus-bagus amat, suwer, tapi ya karena dia meminta, saya lantas menyanyikan lagu kesukaan kami itu.

Saat saya tinggal di Jakarta, kami sekali-dua bertemu untuk makan siang. Kebetulan kantor kami berdekatan. Dia masih terlihat lucu seperti dulu, meskipun sudah beranak satu. Masih suka berceloteh nggak penting tapi terdengar asik. Saya bertanya bagaimana hidupnya sekarang. Dia bilang, “Hidup gue gini-gini aja, nggak butuh waktu lima menit untuk menceritakannya.”

Dan pertemuan-pertemuan kami didominasi oleh diam. Habis, mau bagaimana lagi? Segala cerita sudah kami lalui, nggak asik juga ‘kan kalau selalu bernostalgia? Sedangkan kehidupan sekarang, seperti katanya, nggak sampai lima menit sudah habis semua update-an.

“Pertemanan yang karib itu seperti ini. Saling diam, tapi tetap terasa nyaman,” katanya.

Iya, nggak merasa perlu untuk cari-cari bahan pembicaraan. Diam saja, bertukar senyum, melihat sekeliling, bertukar pandang, ngobrol satu topik untuk lantas diam lagi, tapi tetap malas untuk beranjak pergi. Dan tetap merasa perlu untuk bertemu.

Teman-teman kami bilang, saya cinta padanya. Sampai saat ini saya masih yakin, saya nggak cinta. Saya sayang dia setengah mati, tapi untuk cinta…. Well, mungkin saya pernah cinta, mungkin juga tidak, saya sudah lupa. (Nah, kalo saya pernah cinta, pastinya saya nggak akan pernah lupa ‘kan? Sumpah, saya cuma sayang sama dia. Banget-banget sayangnya.)

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.