Ulasan: “Beauty & Sadness”, Yasunari Kawabata (1964)

by on

 

“Beauty & Sadness” adalah perkenalan pertama saya dengan penulis dari Jepang, Yasunari Kawabata. Awalnya dikirimi hadiah oleh teman saya di tahun 2000an. Saat itu yang edisi bahasa Inggris. Perkenalan pertama itu begitu berkesan sampai kemudian saya ngefans dengan Yasunari Kawabata dan mulai membaca karya-karyanya yang lain.

Yasunari Kawabata adalah peraih Nobel Sastra tahun 1968, dan “Beauty & Sadness” adalah novel karya terakhirnya sebelum dia meninggal di tahun 1972.

Sayang sekali, buku “Beauty & Sadness” edisi bahasa Inggris tersebut sudah hilang entah ke mana, saya lupa. (Maafkan saya ya, teman.)

Ketika saya melihat “Beauty & Sadness” edisi bahasa Indonesia di Gramedia beberapa minggu lalu, tentu saja saya langsung membeli gak pake lama mikir. Pengin mengasah ingatan kembali, dan pengin tahu apakah edisi terjemahan bahasa Indonesia ini layak baca (banyak kali saya menemukan edisi terjemahan yang asal-asalan).

Dari sisi penerjemahan, bagus meski  seingat saya, “rasa” yang didapatkan agak beda dengan hasil terjemahan Ajip Rosidi di karya-karya Yasunari Kawabata yang lain seperti “Penari-Penari Jepang”.

Yang jelas, selesai membaca edisi terjemahan bahasa Indonesia ini, ingatan saya pun kembali. “Beauty & Sadness” bagi saya tetap karya yang mengagumkan, yang bisa membuat hati maknyes, dan yang penuh kejutan-kejutan kecil yang terajut rapi khas Kawabata.

Tokoh utama dari cerita “Beauty & Sadness” ini adalah Oki dan Otoko. Mereka pernah berhubungan asmara, sampai Otoko hamil meskipun akhirnya bayinya terlahir mati. Kemelut mewarnai hubungan mereka karena Oki tidak bisa meninggalkan istri dan putranya demi Otoko.

Terdengar klasik, ya.

Oki dan Otoko pun berpisah. Dua puluh empat tahun kemudian, Oki kembali menemui Otoko karena ternyata dia masih merindukan kekasih gelapnya di masa lalu. Masalahnya, Otoko telah memiliki seorang kekasih yaitu Keiko, seorang gadis yang suka berperilaku ganjil.

Kisah cinta segitiga pun dimulai, kali ini lebih rumit karena Keiko yang berdarah muda harus menghadapi kenyataan bahwa cinta Otoko pada Oki belumlah musnah.

Konfik di batin Otoko – setelah kemunculan Oki secara tiba-tiba – diceritakan dengan indah. Kebingungan menghadapi masa lalu yang mendadak muncul kembali seperti hantu, bertabrakan dengan kenyataan bahwa kini telah ada Keiko yang menggilai Otoko.

Keiko pun menyusun rencana pembalasan pada Oki. Pembalasan yang ganjil dan membingungkan, dan memilukan. Akhir ceritanya pun ambigu. Saya merasa tercabik membayangkan apabila saya ada di posisi Otoko.

Selanjutnya? Silakan baca novelnya ya!

****

Apa yang saya suka dari Kawabata?

Saya suka cara dia menggambarkan perasaan maupun kejadian. Begitu detil, begitu halus. Dan sering terasa murung, meskipun dunia yang digambarkannya adalah dunia yang bergerak dan penuh nafsu.

Dia bukanlah pengarang yang vulgar mengumbar hawa nafsu dan menelanjangi para tokoh cerita. Kawabata lebih seperti puisi panjang yang menguliti karakter tokoh sedikit demi sedikit, terkadang disertai sentakan dan kejutan kecil.

Ada sesuatu dalam tulisan Kawabata yang membuat saya selalu rindu untuk membaca ulang lagi dan lagi. Karyanya tak cukup dibaca sekali untuk mencapai pemaknaan yang seutuhnya. Bahkan, terkadang saya merasa bahwa terdiam setelah membaca karya Kawabata, adalah salah satu tanda bahwa saya telah berhasil menangkap makna cerita. Tanpa kata. Hanya rasa.

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.