Ulasan: “Nyai Gowok” (2014), (Bukan) Novel Kamasutra Dari Jawa

nyai-gowok-budi-sardjonoKalau buku pertama yang saya baca tahun 2015 adalah buku karya Paulo Coelho, “Selingkuh”, buku pertama yang saya baca tahun 2016 ini adalah “Nyai Gowok” karya Budi Sardjono, terbitan DIVA Press, 2014. Impulsif saja sih belinya, karena lagi pengin baca buku yang bukan e-book dan pengin cerita yang bukan chicklit dan sejenisnya. Tertumbuklah pada cover buku ini yang dilabeli “novel kamasutra dari jawa”.

Saya tidak butuh waktu lama untuk menuntaskan buku ini. Gaya bertutur Budi Sardjono cukup rapi dan alur cerita tidak berbelit. Bagi saya selaku orang Jawa, tidak ada kesulitan untuk mengikuti perjalanan Bagus Sasongko, perjalanan singkat menuju misi menjadi “lelananging jagad”. Beberapa tembang Jawa yang disisipkan dalam buku ini, bagus juga sih buat mengingatkan saya pada kandungan makna yang dikandung oleh tembang-tembang yang sudah saya lupakan itu.

Bahkan, sebagai orang Jawa, saya malah takjub mendengar tradisi “gowok” yang baru saya tahu. Sebelum baca buku ini, saya tahu Gowok itu ya nama satu daerah di Jogja, atau nama buah. Ternyata nggak loh, ada tradisi gowok yang sudah lama punah sih.

Jadi ceritanya gini….

Bagus Sasongko, anak Wedana di Kewedanan Randu Pitu di daerah Temanggung sana, baru saja sunat, dan untuk melengkapi ilmu menjadi pria sejati, dia dititipkan sementara pada Nyai Lindri, seorang gowok di Dusun Gowangan. Nyai Lindri inilah yang bertugas membekali Bagus agar mengenal seluk-beluk tubuh perempuan dan bagaimana mencapai kepuasan sejati bagi dia dan bagi pasangannya. Nggak cuma teori, tapi juga praktik. Lha praktiknya sama siapa? Ya sama si Nyai itu. Paham?

Tema yang amat sangat menarik ini, sayangnya diolah secara kurang maksimal oleh Budi Sardjono. Alhasil, “Nyai Gowok” ini jauh dari label “novel kamasutra dari jawa”. Jangan bayangkan ilmu bersenggama secara detil diceritakan di sini selayaknya “Kamasutra”. Cerita mengalir begitu saja tanpa tertangkap pergulatan dan pertumbuhan emosi Bagus dari anak-yang-baru-sunat menjadi seorang lelaki sejati, pun tak tertangkap suasana hati Bagus ketika mengalami orgasme pertamanya.

Yang juga mengganggu adalah cerita tentang Nyai Bayak Abang, seorang prajurit perempuan pemberani yang ikut serta dalam Perang Diponegoro. Dari halaman 21 sampai halaman 38, cerita berkisar tentang pertempuran demi pertempuran Nyai Bayak Abang sampai ajalnya. Meskipun merupakan cerita yang menarik, tapi terasa mengganggu karena tidak bersangkut paut dengan inti cerita tentang Nyai Lindri.

Sebaliknya, cerita tentang tradisi gowok itu sendiri dituturkan secara sekilas. Saya berpikir, mungkin lebih membantu bila satu bab khusus diperuntukkan untuk cerita tentang asal muasal gowok, daripada Nyai Bayak Abang?

Di pertengahan cerita diselipkan kisah tentang Lurah Juwiring yang mengejar-ngejar Nyai Lindri, bahkan sampai mengerahkan ilmu hitam. Cuma ya, begitu saja sih ceritanya, kurang dieksplor biar lebih mengigit dan mencengkeram. Kesannya, jadi tempelan begitu saja.

Kalau saya jadi penulisnya, kok saya malah lebih tertarik menyoroti kehidupan Bagus Sasongko setelah selesai dititipkan pada Nyai Lindri. Pastinya setelah mendapat segudang ilmu, banyak benturan ya, misalnya bagaimana ia membimbing istrinya. Atau malah, setelah merasakan nikmatnya bercinta dengan Nyai Lindri, apa iya si Bagus nggak tersiksa setiap nafsu birahinya bangkit dan dia nggak mendapatkan pasangan bercinta? Lha belum menikah ini. Dengan setting cerita tahun 1950-an, pasti banyak keterbatasan pergaulan, yang jelas tidak sebebas dan segampang sekarang, gampang saja cari partner seks lewat berbagai apps misalnya.

Yang agak mengganjal sebenarnya ya tentang tradisi gowok itu sendiri. Nanya ke mbah Google, nyaris nggak dapat referensi valid tentang tradisi ini. Yang saya dapat sebatas blog posting resensi tentang novel Nyai Gowok, dan artikel Alle yang sedikit menyinggung tentang tradisi gowok. Sayangnya di artikel Alle, tidak ada penjabaran atau tautan lebih lanjut tentang karya Iman Budi Santoso (2001) yang menjadi referensi tentang tradisi gowok.

Walaupun memiliki beberapa kelemahan dari sisi kekuatan cerita dan cara penceritaan yang terkadang kurang tepat, saya tetap tidak menyesal membeli dan membaca “Nyai Gowok” ini. Paling tidak, ada pengetahuan dan wacana baru yang saya dapat, dan bisa saya eksplor lebih dalam buat mengisi waktu luang dan buat bahan postingan selanjutnya.

Baca tulisan lainnya....

8 Responses

  1. winny says:

    ulasannya bagus kak

  2. bayik says:

    Terima kasih, Winny 🙂

  3. dedi says:

    baru tau ada asal-usul.a…

    jawa sekali by dei mitsubishi

  4. Yuki Judai says:

    keren postingannya, cukup bermanfaat 🙂

  5. Anonymous says:

    Bagus ulasannya, baru tau saya.

  6. flady says:

    keren gan

  7. Dyah says:

    Pernah denger tradisi gowok untuk anak-anak bangsawan jaman dulu, tapi belum pernah baca buku Nyai Gowok ini. Mungkin karena penulisnya takut sensor makanya dia tidak berani menulis terlalu “artistik”?

  8. celotehyori says:

    boleh beli bukunya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *