[30DMC] Day 06 – Your Favorite Comedy Movie: Idiocracy (2006)

Hari keenam tantangan 30 Days Movie Challenge ini akan saya rapel dengan hari ketujuh. Kemarin sepulang kantor, kami bebersih rumah sampai lewat tengah malam, jadi project 30 hari menulis ini agak terganggu. Eniwei, langsung aja deh simak film komedi favorit saya.

Perlu berpikir agak keras, film komedi mana yang saya suka ya? Warkop DKI, bukannya nggak suka, tapi bukan favorit saya. My Stupid Boss, nggak masuk juga dalam daftar kesukaan saya.

Akhirnya saya memilih film ini deh, dengan catatan saya menonton lewat DVD dan streaming, karena nggak masuk ke bioskop di Indonesia sepertinya.

Idiocracy (2008) adalah film komedi tentang masa depan bumi yang hancur-hancuran karena populasi orang tolol mendominasi, bahkan Joe Bauers yang tersasar ke masa depan dengan IQ 104 pun, dianggap manusia tercerdas di muka bumi!

Ini penampakan bumi di masa depan. Di film diceritakan kejadian berlokasi di Amerika Serikat, jadi kamu akan melihat Amerika Serikat masa depan versi ancur banget.

Amerika di tahun 2505

Banyak review tidak sedap tentang Idiocracy. Di IMDB pun cuma dapat ponten 6,6 dari 10 sementara Rottentomates mencatat rating 5,5 dari 10.

Tapi saya suka, dan saya sependapat dengan review yang bagus-bagus tentang film ini.

Sepintas memang humor yang ada di film terlihat kasar dan vulgar. Humor receh alias nggak penting. Tapi memang begitulah kehidupan di dunia yang didominasi orang tolol.

Pembuka film ini cukup sarkas. Digambarkan bahwa orang cerdas cenderung menunda punya anak, sibuk dengan karir dan kesuksesan, dan saat mereka ingin punya anak, ternyata banyak masalah melanda. Sampai akhir hayat, mereka tidak punya anak.

Di sisi lain, digambarkan bahwa orang tolol menghiasi hari-harinya dengan seks dan seks. Pikirannya seputar seks aja deh. Alhasil, mereka beranak cucu dengan suksesnya.

Bayangkan apabila ilustrasi di atas berlangsung dari generasi ke generasi. Populasi orang pintar makin menyusut, dan orang tolol mendominasi.

Sampai akhirnya muncul Joe Bauers, yang bangun 500 tahun setelah ia masuk ke kotak hibernasi satu projek militer yang nggak jelas. Bersama Rita sesama peserta projek militer itu, Joe harus berjuang melawan kebodohan demi kebodohan yang terkadang bikin saya nyengir, ngakak, ketawa pahit, atau tersenyum getir.

Memang sih, sebagaimana banyak film lain, ada juga ketidakmasukakalan di sini.

Sedemikian tololnya penduduk bumi kala itu, tapi mereka punya sistem yang berjalan secara otomatis. Mungkin, pendesain sistem itu sudah memprediksi semua kemungkinan sehingga manusia nggak butuh akal untuk menjalankannya.

BTW, ini penampakan presiden AS di film ini yang super duper ancur.

President Camacho
President Camacho

Film ini nggak mencatat kesuksesan ketika dirilis di Amerika sana. Namun dari review yang saya baca di IMDB, mereka yang menulis review positif berpikiran sama seperti saya.

Film ini butuh kecerdasan untuk menangkap segala satir dan sarkas yang terpampang dari awal hingga akhir.

Kalau kamu cuma menontonnya sebagai film komedi, kamu akan berpendapat film ini nggak lucu, norak, lebay.

Bagi saya, film ini menyimpan pesan moral yang cukup serius: seperti apakah masa depan bumi, ketika kita biarkan manusia hidup hanya untuk menuruti hawa nafsunya? Alih-alih membaca buku, orang lebih suka bikin anak. Alih-alih berolahraga, orang lebih memilih nonton televisi dengan acara yang nggak penting.

Bisa jadi, narasi yang menjadi pembuka film ini akan menjadi kenyataan 500 tahun lagi. Mungkin bisa dimulai dari Indonesia, dengan semakin banyaknya kaum bodoh penyebar dan pemercaya hoax di negeri tercinta ini? Amit-amit jabang bayi yak!

Narrator: As the 21st century began, human evolution was at a turning point. Natural selection, the process by which the strongest, the smartest, the fastest, reproduced in greater numbers than the rest, a process which had once favored the noblest traits of man, now began to favor different traits. Most science fiction of the day predicted a future that was more civilized and more intelligent. But as time went on, things seemed to be heading in the opposite direction. A dumbing down. How did this happen? Evolution does not necessarily reward intelligence. With no natural predators to thin the herd, it began to simply reward those who reproduced the most, and left the intelligent to become an endangered species.

Itu aja yang bisa saya ceritakan tentang Idiocracy, film komedi favorit saya. Segera meluncur ke tantangan hari ketujuh 30 Days Movie Challenge yuk!

Baca tulisan lainnya....

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *