[30DMC] Day 04 – Your Favorite Horror Movie: Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI

by on

 

Hari keempat 30 Days Movie Challenge! Bingung banget nih, karena saya harus menulis tentang film horor favorit saya. Lha gimana, nonton film horor adalah hal yang paling saya sadari. Kalau baca cerita horor macam Keluarga Tak Kasat Mata sih, demen, tapi kalau disuruh nonton, boleh aja dengan syarat saya bawa sarung ya! Iya, bawa sarung buat membungkus kepala rapat biar mata saya nggak melihat adegan mengerikan dan kuping saya tertutup rapat juga.

Trus gimana dong?

Penginnya sih nulis “om telolet om” yang lagi trending di seluruh dunia. Tapi ini ‘kan movie challenge ya.

Saya lihat dulu deh definisi kata “horor” itu. Kalau menurut om Google, begini….

Definisi kata horor

Kira-kira film apa yang membuat saya takut, shock, dan mual ya?

Hmm….

Akhirnya, ketemu juga jawabannya!

Dan itu adalah….

Jeng jeng!

 

Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI adalah kunci!

Saya masih duduk di bangku SMP saat film ini muncul dan menjadi film wajib tonton bagi semua anak sekolah, pun kemudian wajib diputar di televisi yang cuma satu channel yaitu TVRI jadi setiap tanggal 30 September, siap-siap matiin tivi deh!

Jangan salah tanggap ya.

Saya bukan antek PKI. Dan saya angkat film ini menjadi bahan tulisan saya, semata-mata untuk membahas filmnya an sich, tanpa terlalu jauh merembet ke soal ideologi dan politik.

Bagi saya, film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI adalah suatu horor terlebih ketika adegan tembak-tembakan dimulai. Darah berceceran. Apalagi ketika adegan para anggota Gerwani menari-nari di tempat bernama Lubang Buaya, lalu mengeluarkan silet, dan….

Dan saya selalu menutup mata pas adegan ini.

Seperti saya bilang sebelumnya soal film action favorit saya, hati saya terlalu lembut.

Pengalaman menonton Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI ini membekas banget di benak saya. Membekas sebagai pengalaman yang nggak enak. Lha wong nonton film aja kok musti dipaksa, diwajibkan, pas jam sekolah lagi. Bayar pula.

Berikut fakta-fakta penting nggak penting dari film yang disutradarai Arifin C. Noer ini yang saya sarikan dari Wikipedia (sumber rujukan lengkap di sana ya) dan beberapa artikel lain.

  • Dirilis tahun 1984, film ini mencatat rekor penonton. Yaiyalah, semua anak sekolah diwajibkan nonton. Kalau boleh milih, saya milih nggak nonton deh. (Well, siapa yang berani bilang TIDAK pada jaman itu?).
  • Produksi Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, awalnya berjudul Sejarah Orde Baru, memakan waktu hampir dua tahun, menghabiskan empat bulan dalam pra-produksi dan satu setengah tahun dalam pembuatan film. Biaya film ini Rp. 800 juta (kira-kira setara dengan USD 1,000,000 pada tahun itu).
  • Film ini membatasi periode sejarah hanya pada enam hari genting dalam sejarah Rl, 30 September sampai dengan 5 Oktober 1965.
  • Aspek visual film ini umumnya menerima ulasan positif, namun penggunaannya untuk tujuan propaganda dan aspek akurasi-sejarahnya telah menuai banyak kecaman.
  • Wartawan Hendro Subroto, yang meliput pengambilan mayat para jenderal dari Lubang Buaya, mengkritik akurasi film ini pada tahun 2001; ia menyatakan bahwa mayat-mayat tersebut tidak menunjukkan bukti adanya penyiksaan. (Catatan saya: jangan tanya mengapa beliau baru berani bersuara di tahun 2001.)
  • Pada bulan September 1998 (empat bulan setelah jatuhnya Soeharto),  Menteri Penerangan Yunus Yosfiah menyatakan bahwa film ini tidak akan lagi menjadi bahan tontonan wajib, dengan alasan bahwa film ini adalah usaha untuk memanipulasi sejarah dan menciptakan kultus dengan Soeharto di tengahnya.
  • Dalam sebuah wawancara 2012, Katamsi mengakui bahwa film ini sebagian dimainkan dengan berlebih-lebihan, dan bahwa film ini telah menjadi cara yang ampuh untuk menyebarkan dan mengindoktrinasi pemirsa ke dalam ideologi Orde Baru.
  • Sejarawan Indonesia, Dr Asvi Warman Adam menuliskan, film G30S/PKI banyak mengandung kelemahan historis. Salah satunya adalah peta Indonesia yang berada pada ruang Kostrad sudah memuat Timor Timur sebagai bagian dari Indonesia. Faktanya, pada tahun 1965/1966 Timor Timur belum berintegrasi.

Perkara sinematografi, film ini memancing banyak pujian (meskipun konon semua artikel yang membahas film ini, saat itu, harus bernada positif). Penggarapan yang detil dan “hidup” banyak dipuji, meski di kemudian hari banyak yang bilang adegan di film ini dilebih-lebihkan.

Yang bikin saya muak adalah soal propaganda. Film ini menjadi satu alat cuci otak, dan saya harus mengagumi Soeharto atas kejeliannya memakai strategi ini. Sampai saat ini, kata “komunis” masih banyak disalahartikan, dan mayoritas orang Indonesia masih phobia terhadap PKI.

Beruntunglah, saya punya kakak yang berwawasan luas.

Saya teringat, siang itu saya bertanya padanya, apakah komunis itu dan mengapa ia begitu dibenci di Indonesia?

Dengan sabar, dia menjelaskan bedanya komunisme dan ateisme. Apa pula itu sosialisme dan liberalisme. Dan bahwa film Pemberantasan Pengkhianatan G30S/PKI adalah penggambaran sejarah yang terlalu berpihak, terlalu hitam putih dan bersifat mengelabui masyarakat Indonesia.

Begitulah, arti “film horor” bagi saya.

Mohon maaf jika tulisan hari keempat 30 Days Movie Challenge ini nggak sesuai ekspektasi kalian. Kelak kalau saya sudah berani nonton film Suzanna favoritnya pacar saya, saya akan update artikel ini deh!

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.