Bersiap menghadapi virus corona

Bersiap, Bertahap, Bertahan

Sabtu malam lalu, saat saya masih berada di Bali, saya menyempatkan waktu berkeliling kota sejenak. Toh besok saya sudah di Jakarta, pikir saya. Tak ada salahnya memantau situasi Bali terkini.

Saya meninggalkan kopisop yang ketika saya datang hanya ada satu pengunjung, dan pada saat saya pergi lumayan beberapa meja terisi. Sebelum cabut, saya dan para barista saling bertukar pesan: “Stay safe!”


Malam belum begitu dalam, saat itu.

Dari Sunset Road, saya menyetir menuju Seminyak. Jalanan mulai lengang. Padahal ini malam minggu. Malam yang biasanya penuh kemeriahan, entah kala itu malah jadi mencekam.

Perempatan Sunset Road – Dewi Sri saya lalui tanpa kesulitan. Biasanya, butuh 2-3 kali lampu merah.

Masuk Jalan Oberoi, yang biasanya penuh manusia di malam minggu, saya tercenung melihat jalanan yang biasanya macet padat mobil, kali itu biasa saja hingga saya bisa melintas tanpa sekalipun memberhentikan mobil.

Pintu masuk La Favella tampak sepi. Belakangan, baru saya dengar malam itu mereka adakan closing party. Semua tempat hiburan malam dan beach club di Bali mulai mengikuti anjuran pemerintah, rupanya.

Satu-dua pasangan tampak berjalan pelahan dengan berpegangan tangan. How romantic.

Waitress berdiri di depan restoran, menunggu apa yang entah ditunggu. Seorang bapak duduk di atas motor, menghisap dan hembuskan rokok sambil merenung entah apa.

Bali remang-remang seperti biasa, tapi kami semua paham, ini tidak biasa.

KuDeTa tak nampak kehidupan. Jalan Petitenget lancar jaya. Melewati club lounge kesukaan kami, ah, keriaan yang membahana di ingatan tampak begitu kontras dengan kesepian yang saya rasakan.

Pertigaan Batubelig yang biasa bikin emosi, kini ramah sekali.

Harus hati-hati. Pengendara motor melaju cepat tak peduli pengguna jalan lain di persimpangan.

Perempatan lampu merah LP Kerobokan, doh! Yang biasanya butuh 15 menit merambat, kini lengang tak menyisakan apa.

Lurus terus sampai perempatan Mahendradatta. Belok kiri sudah sampai ke kost saya, tapi, mengapa tak cek sepintas Kota Denpasar?

Saya ambil jalan lurus. Denpasar mati gaya. Sudah malam pun, pikir saya. Ah, ternyata salah. Di Jalan Teuku Umar berjejer deretan motor. Geng motor tak takut corona.

Saya santai berkendara, mengurai kenangan tipis yang dulu pernah tercipta. Lewati jalan masuk ke kos duplex yang saya tempati berapa tahun silam. Masuk ke Renon, hmm, teringat sol mate yang lagi nyalon jadi ketua salah satu organisasi. Apakabar, Sol?

Warung tempe mendoan favorit saya tentu saja sudah tutup.

Pohon-pohon besar membuat saya teringat, seorang rekan dulu pernah tertimpa pohon tumbang di sini saat dia naik motor. Saya sudah lupa namanya, pun di mana dia sekarang? Begitu tipisnya ingatan.

By Pass Sanur. Sejenak ingin belok kiri, tapi sudahlah, jangan menyiksa diri dengan hantu kesepian yang lagi-lagi akan kautemui bagai kabut tebal di sepanjang Jalan Danau Tamblingan. Demikian kata hati mengingatkan.

Melaju sepanjang By Pass. Tiba di Simpang Siur. Ada geng motor lagi. Hadeh.

Sunset Road. Imam Bonjol. Mahendradatta. Tibalah saya di kos.

Sepanjang perjalanan tadi, setiap saya melihat wajah-wajah lesu (ah ya, tak saya lihat ada gelak riang), dalam hati saya berucap: “May God bless you.”

Kita ada di sini, bersama.

*****

Saat badai corona mulai nampak di ufuk langit Indonesia, reaksi saya sama dengan Pemerintah RI kala itu. Menganggap virus ini dengan mudah tertanggulangi.

Ah, sebenarnya tidak hanya Pemerintah RI. Hampir semua pemerintah di seluruh dunia tampak tidak siap menghadapi pandemi ini. Kecuali ya, Cina, Jepang, Korea dan Singapura, yang memang fasilitas kesehatannya memadai sungguh – dan masyarakatnya patuh.

Serasa tiba-tiba saja, badai itu jadi nyata.

Yang saya pikir cuma penyakit biasa, ternyata bisa memberikan dampak luar biasa pada semua lini kehidupan.

Terutama pariwisata, yang jadi sandaran hidup banyak orang – termasuk saya.

Berita travel agent menutup kegiatan operasional sementara, berita hotel tutup sementara, tidak lagi menimbulkan kekagetan – beda jika berita itu kami dengar setahun lalu saat kondisi ekonomi normal.

Saya menulis di status Facebook saya. Satu kata setiap kalinya.

Bersiap.

Bertahap.

Bertahan.

Bersiap-siaplah senantiasa, terutama menyiapkan mental, agar tidak kagetan dan gumunan (gampang terheran-heran). Karena terkaget-kaget lantas jadi panik, bisa membuka pintu bagi masuknya penyakit, termasuk coronavirus ini. Maka, bersiap-siaplah, kabar baik dan kabar buruk akan kita terima setiap hari setiap saat. Face it. Deal with it.

Persiapkan diri secara bertahap. Biar nggak kaget tubuh dan jiwa ini. Selesai soal mental, cek juga kesiapan kita secara materi. Saya nggak menganjurkan untuk menimbun, tapi paling tidak, survival kits sudah ada di rumah kita – just in case something worst happens.

Setelah itu, bertahanlah.

Karena hanya itu yang bisa kita lakukan, sementara menunggu pemerintah dan para ahli di seluruh dunia berusaha menemukan vaksin yang paten membunuh coronavirus ini.

Saya nggak akan panjang lebar membahas social distancing whatever, itu semua bisa kita temukan dengan mudah di internet. Saya yakin pembaca blog ini sudah terkategorikan sebagai manusia cerdas, jadi saya nggak perlu menguliahi kalian.

Bertahanlah, untuk diri sendiri, untuk orang-orang tercinta di sekeliling kita.

Dan selalu ingat: kita di sini, bersama.

Derita kita sama.

Sakit yang kita rasakan setiap membaca berita meningkatnya penderita COVID-19, sama.

Keresahan gimana cara bayar cicilan dan bertahan hidup, sama.

Dan harapan kita juga sama: “This too shall pass.”

Kecuali ya buat para pihak yang mencoba memanfaatkan situasi dan kondisi mulai dari para penimbun barang, politisi yang berkomentar seenaknya memanaskan suasana, sampai pada mereka pendukung khilafah yang sekarang berkoar “Khilafah adalah solusi”. Kepada mereka semua, saya hanya mau bilang: “F*ck you.”

Tabik dan jaga kesehatan selalu ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *