Kemacetan di Jalanan

Kemenangan Kecil

Suatu pagi, lampu merah di perempatan Teuku Umar – Mahendradatta mati. FYI, untuk ukuran Denpasar, Teuku Umar dan Mahendradatta ini termasuk jalan besar, dan sibuk selalu. Alhasil, padamnya lampu lalu lintas bikin crowded dan macet parah karena hampir semua kendaraan terlihat kekeuh merangsek maju yang akhirnya bikin simpul nan semrawut.

Beberapa mobil di depan saya mulai memutar balik.


Saya, karena pemalas, malas putar balik dan tetap pada tujuan semula. Saya dari arah Teuku Umar hendak belok kanan ke Mahendradatta.

Sedikit demi sedikit, mobil saya majukan. Dengan amat hati-hati, tentu, karena manuver tak terduga motor-motor dari segala penjuru.

Saya terbantu karena ada mobil kursus mengemudi dari arah Mahendradatta yang awalnya hendak lurus, akhirnya belok kiri. Ada ruang bagi saya untuk maju kembali.

Seorang supir pick-up, mungkin kasihan melihat wajah saya yang memelas ini, akhirnya memberi jalan. (Atau memang pak supir itu lebih berakal sehat daripada pengemudi lainnya di pagi itu. Ngapain maksain maju, lha wong percuma juga nggak bisa terus jalan. Malah tambah bikin semrawut.)

Akhirnya saya bisa belok kanan mencapai Jalan Mahendradatta dan terbebas dari kemacetan. Sung langsung full-speed ke kantor!


Seperti layaknya hidup, saya pikir. Terkadang kita merasa punya masalah besar dan berjibun. Tumpuk menumpuk jadi satu benang ruwet sampai bingung harus mulai dari mana untuk membereskannya.

Jangan diam. Eh, diam boleh, untuk merancang strategi. Setelah itu, jalankan.

Terus bergerak, meski beringsut.

Orang lain mungkin tidak akan memberi kita kesempatan. Ciptakan situasi sehingga kesempatan itu terjadi.

Terus maju. Jangan diam.

Dan serasa tiba-tiba, simpul masalah yang bagai benang ruwet itu, mulai terurai.

Lalu kita melihat terang, dan jalan kehidupan serasa normal kembali. Lancar jaya.

Kemenangan akan berhasilnya kita mengatasi ruwetnya masalah hidup, mungkin hanya kemenangan kecil.

Tapi sesuatu yang besar berasal dari yang kecil.

Karena itu, teruslah berjalan. Jangan menyerah. Hargai dirimu atas setiap kemenangan, baik kecil maupun besar.


Btw, setelah saya pikir-pikir, kok kesannya saya termasuk supir yang egois ya? Yang tetap memaksa jalan meski macet total? Nggak gitu juga sih. Di jalanan, saya selalu berbagi kesempatan dengan pengguna jalan yang lain. Jadi, diam dulu kasih lewat beberapa mobil/motor, lalu ambil giliran buat jalan.

Mangkanya, saya suka gondok melihat supir yang nggak mau berbagi. Nggak mau memikirkan kepentingan pengguna jalan yang lain. Bukan hanya saat macet saja, tapi banyak deh kejadian di jalan yang mencerminkan betapa egoisnya (kebanyakan) para pengguna jalan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *