Ulasan: Men Without Women (Harumi Murakami, 2017)

Lelaki dan Sepi
Image source: Pixabay / Lukas_Rychvalsky

Saya bukan penggemar berat Harumi Murakami. Satu-satunya karya beliau yang pernah saya baca sampai tuntas adalah Norwegian Wood di awal tahun 2000-an, dan itupun sudah nggak ingat ceritanya tentang apa.

Barusan kelar baca “Men and Women”, kumpulan cerita pendek Harumi Murakami, dan merasa bahagia usai menikmati tujuh cerpen beliau yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh berbagai penerjemah.

Saya rasa, itu sesuatu yang luar biasa, ya? Merasa bahagia karena tuntas baca buku, yang bahkan berisi cerita yang belum tentu tentang kebahagiaan.

Ada tujuh cerita pendek dalam buku Men Without Women ini:

  1. Drive My Car
  2. Yesterday
  3. An Independent Organ
  4. Scheherazade
  5. Kino
  6. Samsa in Love
  7. Men Without Women

Kesemuanya bercerita tentang lelaki dan rasa kehilangan.

Saya suka cara Murakami meramu kata. Dalam cerita pendeknya, kisah terlantun tanpa konflik berlebihan. Serasa didongengin aja gitu. Konflik yang dialami oleh para pelaku adalah pergulatan batin mereka, yang terlantun dengan irama yang sendu.

Jadi ingat Kawabata Yasunari. Menurut saya pribadi, Murakami tidaklah sehalus Kawabata dalam melukiskan detail, tapi memang dua penulis ini beda gaya ya. Jadi tidak perlu dipertentangkan.

Namun bagi saya, kedua penulis tersebut punya kemantapan dalam berbagi cerita dengan cara mereka masing-masing. Kawabata bercerita secara detail dan halus. Murakami bercerita dengan ide yang liar namun terbungkus dalam kesantunan.

Setelah ini, mungkin saya akan melanjutkan petualangan menjelajah dunia Murakami. Menuntaskan baca Kafka on The Shore setelah lewat satu dekade, mungkin?

Diterbitkan
Dikategorikan dalam ulasan

Oleh bayik

Pernah menjadi juara catur nasional senior wanita tahun 1992. Anjrit, udah lama bener itu yak!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *