Antara Mateo, Cinta Indonesia dan Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

by on

Kemarin, hampir semua orang bilang cinta Indonesia. Televisi nggak henti-hentinya menayangkan lagu Indonesia Pusaka (saya selalu merinding setiap mendengar lagu itu). Tujuhpuluh tahun Indonesia merdeka, dan setiap tahun kita kembali pada rutinitas “tujuhbelasan” yang berbeda-beda bagi tiap orang. Ada yang rutin mantengin televisi menonton siaran langsung upacara kenegaraan dari Istana. Ada yang rutin cuek bebek karena baginya tujuhbelasan itu apa sih, nggak ada istimewanya, mengapa harus bersukacita turut merayakan?

Dari sekian banyak pertanyaan yang mampir di benak, saya teringat pada seorang teman. Sebut saja namanya Mateo. (Well, memang itu namanya sih.) Dia orang Argentina. Sekian tahun dia menabung (dua atau tiga tahun, saya lupa), hanya untuk pergi ke Indonesia. Beberapa kota dia singgahi sebelum sampai di Bali, dan memutuskan untuk menetap di Bali.

“Mengapa kamu ingin tinggal di Indonesia?” tanya saya saat pertama kali bertemu dengannya.

Saya lupa jawaban Mateo, yang saya ingat hanyalah mata dan senyumnya yang selalu terkembang setiap dia menyebut “Indonesia”. Dari pertemuan itu, kami berinteraksi hampir setiap hari (ya gimana lagi, namanya juga satu kantor) dan saya makin geleng kepala mendapati “keanehan” Mateo yang saya tahu sedikit demi sedikit. Well, sebenarnya nggak aneh juga sih, melihat dia main gitar di Youtube menyanyikan lagu-lagu Indonesia, mulai dari Garuda Pancasila sampai lagu Vierra. Bahasa Indonesianya sungguh lumayan, nggak heran karena selama masa persiapan menjelang pergi ke Indonesia, dia aktif berlatih – thanks to Internet yang mempertemukan Mateo dengan teman-teman di dunia maya. Tapi yang paling epic buat saya adalah ketika dia membuka laptop yang dibawanya dari Argentina. Wallpaper yang terpampang adalah lambang negara kita, Garuda Pancasila!

Orang gila, saya kerap menjulukinya. Dan itu nggak salah sih. Dia sendiri menyebut dirinya “loco por Indonesia” alias gila Indonesia (atau tepatnya, tergila-gila sama Indonesia?). Bagi saya, dia itu sangat gila, memilih Indonesia sebagai negara pertama tujuan (dia baru pertama kali itu pergi ke luar negeri), dan lebih gila lagi, jatuh cinta pada Indonesia dan rajin mengeksplor semua yang ada di negeri ini. Mulai dari daerah wisata, kebudayaan dan tentu saja kuliner Indonesia.

“Hari ini tiket saya ke Argentina hangus,” katanya sekian bulan silam, ketika saya masih berada di Bali.

Dia memang membeli tiket pulang-pergi, karena katanya terpaut sedikit dibandingkan membeli tiket sekali jalan.

“Dan kamu tidak menyesal?” saya bertanya. “Kamu nggak kangen Argentina?”

Seperti biasa Mateo hanya terkekeh dan bilang, “Nggak.”

*****

Banyak faktor mengapa seorang Mateo bisa jatuh cinta pada Indonesia, sementara banyak dari kita yang lahir dan besar di sini malah merasa nggak bangga jadi orang Indonesia. Okelah, mungkin orang asing seperti Mateo hanya tahu Indonesia dari kulit luarnya saja tanpa mengalami kepahitan sehari-hari, tapi sebagai informasi saja sih, teman saya itu hidup di sini selayaknya teman yang lain – tinggal di kost, makan di warung, kerja keras cari duit (legal, tentunya). Jadi saya layak merasa kagum bagaimana dia bisa tetap cinta Indonesia dengan segala kesemrawutannya ini.

Sebenarnya memang sih, sebagaimana kita tidak minta dilahirkan dan juga lahir tanpa bisa memilih siapa orang tua kita, kita juga nggak bisa memilih untuk dilahirkan di Indonesia. Banyak yang merasa bersyukur dan bangga jadi orang Indonesia, sebaliknya banyak juga yang merasa apes dilahirkan di Indonesia dan kalau boleh memilih, mending nggak usah dilahirkan deh! (Yang terakhir ini nggak mengada-ada, ada kok saya baca di salah satu akun sosmed.)

Memang, mau bilang apa? Sudah terlanjur lahir di sini, besar di sini, apakah itu cukup jadi alasan untuk harus mencintai tanah air ini? Apakah cinta itu mengenal kata ‘harus’?

Jadinya seperti perjodohan ya. Andai kita terlibat satu perjodohan dan nggak kuasa menolak calon yang disodorkan oleh orang tua kita, akhirnya hanya ada dua pilihan: menerima, atau tetap menolak dengan segala konsekuensi seperti dicoret dari daftar ahli waris. Kalaupun menerima, masih ada cabang pilihan terbentang: ikhlas menjalani dan percaya semua bakal baik-baik saja dan cinta bisa tumbuh karena biasa, atau menjalani seadanya saja sambil mencari jalan lain untuk membahagiakan diri (berselingkuh, misalnya?).

Demikian juga dengan Indonesia. Saya sih, berhubung anaknya kompromis nggak mau ribet, memilih untuk mencintai bangsa ini dengan segala kebusukan dan kebobrokannya – karena tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. Bagaimana pun juga, saya lahir di sini, menghirup udara Indonesia sedari lahir, cari makan di sini, buang air di sini. Saya nggak bisa berpongah menepuk dada bahwa semua yang saya dapat adalah mutlak karena upaya saya sendiri. Nggak, saya nggak berbakat menyombongkan diri seperti itu.

Saya malahan mulai berpikir, apa sih yang sebenarnya sudah saya berikan pada bangsa ini, sebagai ucapan terima kasih bahwa saya diberi keistimewaan menyandang kewarganegaraan RI? Yang saya bisa cuma kerja dan nulis bacot recehan seperti ini.

Witing tresna jalaran saka kulina. Cinta bisa tumbuh karena terbiasa, begitu kata orang tua. Alih-alih bernegatif ria dengan bersumpah serapah tentang negeri ini, saya memilih untuk mencintai Indonesia apa adanya. Kemacetan Jakarta akibat proyek fly-over dan MRT di sana sini, saya terima dengan tawa. Pemandangan ngenes di mana gubuk-gubuk reot bersanding dengan pencakar langit di latar belakang, saya nikmati dengan senyuman. Rupiah yang turun nilainya, saya terima sebagai hukum alam.

Sebagaimana saya nggak akan menistakan Ibu yang melahirkan saya tanpa saya pinta, demikian juga saya nggak akan meludahi Indonesia. Karena saya tahu Ibu pun tak meminta untuk punya anak seperti saya. Namun beliau tetap bersyukur dan membesarkan saya tanpa pamrih.

Indonesia juga tidak pernah meminta saya untuk dilahirkan sebagai orang Indonesia. Kalau dia punya kuasa, mungkin orang-orang yang suka ngedumel seperti nggak punya rasa syukur itu, sudah ditendangnya jauh-jauh ke negara lain yang nggak tahu juga sih mau terima orang seperti mereka atau nggak. (Saya ingat ada banyak kaum yang terlempar ke luar negeri gara-gara kasus G30S dan seakan-akan Indonesia tidak mau menerima mereka kembali, namun itu adalah polah politis pemerintah, dan saya rasa apabila Indonesia punya kuasa, pastilah dia akan menerima kembali siapa saja yang memang cinta padanya.)

Indonesia adalah suratan takdir saya. Saya percaya kebahagiaan tertinggi adalah penerimaan. Saya menerima menjadi orang Indonesia. Saya bangga, dan saya ingin Indonesia juga bangga karena saya – entah kapan dan bagaimana caranya.

You may also like

10 Comments
  1. Kia 2 years ago

    Mateo, ya dia mateo. Dia sudah tergila – gila akan Indonesia dari lama. aku sudah hampir 3 tahun mungkin klo g salah kenal dia.

  2. bayik 2 years ago

    Iya, Mateo memang gila hahaha. Terimakasih sudah berkunjung dan membaca ya.

  3. Natalia Itu 2 years ago

    kak mateo memang top cer

  4. bayik 2 years ago

    Tapi masih jomblo tuh si Mateo… hahahaha. *kemudian ditimpuk Mateo dari puncak Gunung Rinjani*

  5. Anonymous 2 years ago

    tulisannnya bagus sekali, sangat menginspirasi

  6. aulia 2 years ago

    coba tanya mateo.. kenal aulia anak semarang gak .? 🙂

  7. aulia 2 years ago

    coba tanya mateo kenal aulia gak dari semarang ? 🙂

  8. Moonnique 1 year ago

    Saya cinta Indonesia.
    I love this Zan!! Very inspiring

  9. rudy 1 year ago

    Mateoo, jago music dan nge drum…. ah dia bener2 gilaaaa..

  10. cundit 1 year ago

    dia emang gila. saya kenal dia di gunung tambora. dan 3 hari bersama rasanya seperti sudah kenal 3 bulan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.