[30DMC] Day 01 – Your Favorite Movie: Breakfast at Tiffany’s

by on

 

Ini tantangan pertama dari 30 Days Movie Challenge: wrote about your favorite movie. Agak susah sebenarnya ya, karena film yang jadi favorit saya jelas nggak cuma satu. Saya pilih yang ini saja karena begitu mendengar “your favorite movie” yang pertama terlintas di benak saya adalah “Breakfast at Tiffany’s”.

“Breakfast at Tiffany’s?”

Yoih bro.

Film roman komedi tahun 1961 (jadul yeah) ini dibintangi oleh Audrey Hepburn. Kalau kalian masih asing atau sama sekali nggak kenal dengan artis legendaris ini, yuk mulai kenalan! Oh ya, film “Breakfast at Tiffany’s” ini nggak ada hubungannya sama lagu berjudul sama yang dibawakan oleh Deep Blue Something.

Sebagaimana diaminkan oleh banyak orang, saya menyebut Audrey Hepburn ini kecantikan klasik yang abadi. Ningrat banget. Nggak lekang oleh waktu. Seperti wine, makin tua makin bersantan, eh makin berumur makin bernilai untuk dinikmati.

Audrey Hepburn (1929 – 1993)

Film “Breakfast at Tiffany’s” adalah film pertama Audrey Hepburn yang saya tonton. Jaman dulu belum ada Youtube, atau Netflix dan semacamnya. Saya lupa, mungkin awalnya nonton di TVRI dan mungkin juga terpengaruh oleh selera ibu saya yang di masa muda penggemar film juga.

Opening scene Breakfast at Tiffany’s

Disclaimer: sinopsis di bawah ini saya ambil dari Wikipedia.

Film dibuka dengan adegan Holly Golightly (Audrey Hepburn) berdiri memandangi jendela etalase toko perhiasan Tiffany’s di Manhattan sambil menikmati sarapan pagi berupa kue. Holly adalah seorang wanita muda yang masa kecilnya tidak bahagia, menikah di usia 14, dan pindah dari Hollywood ke New York. Di New York, Holly bekerja sebagai gadis panggilan kelas atas, sambil sekali-sekali menjadi pembawa pesan rahasia bagi bos mafia yang sedang dipenjara. Setelah dilamar salah seorang pria terkaya di dunia, Holly berencana pergi ke Brazil untuk menikah dengannya.

Holly secara kebetulan bertemu dengan tetangga satu apartemen bernama Paul Varjak (George Peppard). Walaupun dirinya sendiri tidak mengaku, Paul adalah simpanan seorang wanita pengusaha yang berusia lebih tua. Cerita berkisar pada hubungan antara Holly dan Paul, serta sejumlah pria yang mengejar cintanya. Hubungan Holly dengan mafia menyebabkan dirinya berurusan dengan polisi. Akibatnya, rencana pernikahan Holly dengan pria terkaya di dunia di Brazil menjadi batal. Calon suaminya sedang memulai karier di bidang politik, dan tidak mau menerima Holly yang sudah memiliki catatan kriminal.

Film “Breakfast at Tiffany’s” diangkat dari novel pendek karya Truman Capote yang berjudul sama, “Breakfast at Tiffany’s”. Truman Capote sebenarnya menginginkan Marilyn Monroe untuk memerankan Holly, namun Paramount Pictures memilih Audrey Hepburn.

Apa yang membuat saya jatuh hati pada film ini?

Selain pengagum makhluk indah ciptaan Tuhan bernama Audrey Hepburn, saya senang film klasik aka kuno seperti ini. Keseharian yang ditampilkan jelas berbeda dengan keseharian makhluk modern macam kita ini. Senang rasanya kembali ke masa lampau, saat segala sesuatu terlihat lebih sederhana ketimbang sekarang. Manusia di masa lalu terlihat punya waktu untuk semuanya, tidak seperti kita manusia modern yang bergegas-gegas terkejar waktu.

Adegan yang berkesan bagi saya adalah tatkala Paul dan Holly masuk ke Tiffany’s mencari wedding ring. Tentu saja mereka hanya berlagak, karena sadar harga di Tiffany’s takkan sanggup mereka tanggung, pun budget Paul hanyalah USD 10. Namun store assistant di Tiffany’s memperlakukan mereka dengan hormat, sama seperti perlakuan ke pelanggan lain yang berkantong tebal. Akhirnya Paul meminta mengukir inisial nama mereka di satu cincin hadiah dalam sebungkus pop-corn Cracker Jack. Permintaan aneh inipun diterima dengan takzim dan penuh hormat.

Beda banget dengan cerita jaman sekarang ya, di kebanyakan tempat, pelanggan dipandang sebelah mata dan tidak mendapatkan pelayanan yang sepantasnya jika penampilannya tidak meyakinkan.

Holly adalah karakter yang menarik. Perempuan independen yang cerdik dalam memanfaatkan lelaki. Tampang innocent Holly nggak nguatin deh! Setiap perkataannya hampir selalu dituruti oleh para lelaki di sampingnya.

Holly takut pada komitmen. Kadang ia bertindak semau gue, untuk menutupi ketakutannya itu. Saat pernikahan pertamanya di umur 14, dengan enteng dia berkata pada calon suaminya saat itu: “Kita pasti menikah, karena aku belum pernah menikah sebelumnya.” Sama seperti yang dia katakan ada manajernya ketika dia mangkir dari audisi karena pergi ke New York. “Mengapa New York? Karena aku belum pernah ke New York sebelumnya.”

Semau gue banget ‘kan yak.

Dan saya suka banget sama kata-kata yang diucapkan Paul Varjak menjelang akhir cerita:

You know what’s wrong with you, Miss Whoever-you-are? You’re chicken, you’ve got no guts. You’re afraid to stick out your chin and say, “Okay, life’s a fact, people do fall in love, people do belong to each other, because that’s the only chance anybody’s got for real happiness.” You call yourself a free spirit, a “wild thing,” and you’re terrified somebody’s gonna stick you in a cage. Well baby, you’re already in that cage. You built it yourself. And it’s not bounded in the west by Tulip, Texas, or in the east by Somali-land. It’s wherever you go. Because no matter where you run, you just end up running into yourself.

So true, so touchy!

Membahas “Breakfast at Tiffany’s” takkan lengkap tanpa menyebutkan soundtrack yang femes banget: “Moon River”, komposisi apik karya Henry Mancini & Johny Mencer. Audrey Hepburn menyanyikan sendiri lagu ini di salah satu adegan film, dan dari sekian banyak penyanyi yang membawakan lagu ini, saya rasa yang paling terkenal adalah Andy William.

Sekian cerita saya tentang film favorit saya. Besok, saya akan menulis tentang tantangan kedua dari 30 Days Movie Challenge ya!

 

You may also like

Leave a Comment

Your email address will not be published.