Generasi Service Charge vs Generasi Service from the Heart

by on

Dalam satu percakapan, seorang teman melontarkan pemikiran tentang servis. Generasi sekarang, bisa dibedakan menjadi “generasi service from the heart” dan “generasi service charge“. Dan yang belakangan, “generasi service charge“, rasanya makin kasat mata alias makin kelihatan nyata.

(Buat para pembaca yang mungkin asing dengan istilah “service charge“, sekedar tambahan informasi saja, ada dua komponen utama gaji bulanan pekerja pariwisata terutama pekerja hotel atau hotelier: basic salary dan service charge. Makin ramai sebuah hotel, biasanya (biasanya lho ya, karena banyak juga yang luar biasa) makin tinggi service charge dan malah jamak service charge lebih besar jumlahnya daripada basic salary.)

“Generasi saya dulu,” ujar teman yang memang udah cukup uzur itu (uhuk), “Rasanya jarang menyinggung soal service charge. Kalau bicara soal servis, yang terngiang pasti “service from the heart“.”

Apaan sih “service from the heart” itu? Ya sederhana aja sih. Melayani kastemer secara tulus. Dari hati. Tanpa peduli soal imbalan yang akan didapat nantinya. Malah ada yang menegaskan kalau service from the heart” itu musti pakai empati.

Bedanya sama “generasi service charge“? Mustinya ‘kan pelayanan sama rata sama rasa karena kastemer adalah raja. Tapi karena asumsi “wah tamu yang ini ‘kan dapat kamar complimentary, ngurangin service charge jadinya, males ah”,¬†“wah tamu ini pelit gak bakal ngasih tips”, pokoknya asumsi yang ujung-ujungnya duit, jadilah pelayanan yang keluar adalah pelayanan setengah hati.

Padahal semestinya, melayani tamu atau kastemer atau siapa saja yang memakai jasa kita, harus murni dari hati. Karena itu pekerjaan kita kok. Jangan sampai gara-gara service charge atau tips atau apapun yang berhubungan dengan duit, mempengaruhi kualitas dan ketulusan servis kita.

Bicara soal “service from the heart” ini, saya jadi ingat twit seorang teman (hai ‘Koh, saya kutip tanpa ijin ya). Awal karir, sembari kuliah dia menjadi pramusaji. Meskipun dilecehkan teman-teman kuliahnya, dia tetap semangat dan bekerja sebaik-baiknya, menyapa setiap tamu dengan ramah, meladeni apa keinginan tamu, going the extra mile deh judulnya. Karena pelayanannya yang benar-benar dari hati itu, ia dapat berbagai kesempatan untuk mengembangkan karir. Padahal waktu dia melayani tamu, dia nggak pernah berambisi atau berharap dapat sesuatu dari tamu.

Demikian dan ada tanggapan?

You may also like

2 Comments
  1. balidj78 4 years ago

    Emberann,kalo yg baru skarang suka pd sempit pemahamannya, compliment, harga special, servicenya beda, pd ngga nyadar kalo bayar or ngga, mahal or murah mrk itu tamu dan bisa ngomong kemana2 tentang baik buruk atau bagus jelek pelayanan hotelyg mrk tempati

Leave a Comment

Your email address will not be published.